Swift

Untuk "Orang Baru", Tolong Bedakan antara Menasehati dan Menghakimi.


Dengarkan, ini bukan sebuah pembelaan dari seorang pendosa seperti saya. Saya tidak bermagusd mecari yang salah.
Sebelumnya, mari kita bicarakan tentang “saya”. Saya bukan gadis alim yang menutup aurat dari atas sampai bawah, tidak, saya hanya memakainya ketika saya keluar rumah dengan jarak jauh.
Saya bukan gadis alim yang terus memgang tasbih dan memaca shalawat, saya masih gadis yang selalu bergulat dengan dunia maya, tapi saya masih tahu kewajiban saya sebagai muslim – sholat, saya masih menjalankan sholat 5 waktu, bukan magsud sombong, toh tidak ada yang pantas di sombongkan dengan sholat 5 waktu, karna itu adalah sebuah kewajiban.
Saya bukan gadis alim yang menjaga pandangan saya ketika melihat lawan jenis, saya masih berbicara dengan pria dan menatap matanya.
Saya bukan gadis alim yang sering melakukan sunah-sunah nabi, kalian tau? Saya masih menjadi gadis berengsek! Sungguh, saya masih menjadi gadis berengsek! Bergosip, mengeluh, menyalahkan orang lain, egois. Jika ssaya hitung, mungkin tidak ada yang dapat saya banggakan dalam diri saya, tidak satupun.
Ada beberapa pertanyaan, tidak saya bahkan tidak tau jenis apa ini.
Orang suci? Tidak ada yang suci didunia ini bukan? Kecuali bayi yang baru lahir. Saya hanya tidak mengerti tentang orang-orang seperti “itu”.
Bagaimana saya harus menjelaskannya?
Baiklah. Seperti apa manusia suci? Apa mereka yang menutup aurat mereka dari atas sampai bawa beberapa bulan, dan sudah berani menghakimi “Saya” ? . mengapa orang-orng “baru” seperti mereka sangat gemar menghakimi orang seperti “saya”?. Tunggu, saya pun tidak menyalahkan mereka, yah saya tau orang-orang “baru” seperti mereka berniat menasehati, tenang saja, meski mungkin tubuh saya di huni oleh puluhan iblis, saya masih bisa mencerna dan membedakan baik-buruk, saya bukan gadis yang akan menjerit ketika di bacakan ayat suci. Hanya saja, cara orang “baru” itu terdengar seperti menghakimi daripada menasehati.
“Saya” juga masih punya harapan menutup, tapi sama seperti kalian sebelum menjadi sekarang, ada banyak ketakutan. Saya masih takut bagaimana jika saya menutup tapi tingkah laku saya belum berubah? Bukankan itu malah terlihat seperti saya seorang munafik? . yah manusia seperti saya mungkin pada akhirnya akan berada di akhir tragis, toh saya tidak pernah mengharapkan surga. Tidak, bukan saya bergamgsud sombong dengan tidak berdoa untuk mengharapkan surga, saya hanya terlalalu malu memintanya.
Dan mungkin orang-orang”Baru” seperti kalian akan berada di akhir kebahagian seperti yang selalu kalian teriakan di manapun.

 V

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images