Fanfiction
One Shot
YOU
You
Cast
: Suga , Rose
Genre
: Tentukan sendiri
Rate
: 15+
***
Love
is painful although love is painful
But
pain is beautiful it’s same as you
Tomorrow
will be different from today. 1 year, 2 year. Regret will be more and more
painful.
Finally,
how many years have passed ever, there will be no "forever"
I’m
fallin’ without you ::G-Dragon ft Rose BLACKPINK"
I’m
fallin’ without you
Kalian
pernah merasakan kehilangan sesuatu yang barharga? Sesuatu hal yang mungkin
tidak pernah kamu miliki lagi, bahkan dikehidupan mendatang, meski kau di
ijinkan melakukan reingkarnasai. Aku merasakannya, sekarang.
I’m
fallin’ without you….
Aku
tidak tau sejak kapan dia menghilang. Tidak, tidak, magsudku dia ada disini,
rumahnya masih sama, hanya terhalangi beberapa rumah dari rumahku, sekolahnya
masih sama, dia bahkan bukan seseorang yang mengalami amnesia karna kecelakaan
sehingga dia tidak bisa mengingatku, dia masih sama dia masih ingat kedua orang
tuanya, dia masih ingat jalan menuju sekolahnya, dia masih ingat semuanya,
tubuhnya tidak kekurangaan apapun, tapi cara dia memandangku yang berubah,
tidak seperti dulu.
I’m
fallin’ without you….
Aku
tidak lagi berangkat ke sekolah bersamanya meski aku tau kami tidak satu
sekolah tapi ‘saat itu’ kami masih berangkat bersama, tidak ada lagi gadis yang
mengoceh padaku karna aku hanya menghabiskan waktuku dengan menari, tidak ada
lagi gadis yang memberikan khutbah karna aku tidak menghapal meski besok aku
harus mengikuti ujian di sekolah, tidak ada lagi gadis yang menertawakanku
ketika aku terjatuh dari sepeda, tidak ada lagi gadis yang menertawakanku
ketika aku tidak bisa mengerjakan tugas sekolah yang menurutnya sangat mudah,
tidak ada lagi gadis yang menemaniku berdo’a di gereja, tidak ada.
I’m
fallin’ without you….
Semuanya
menghilang seperti kabut. Bahkan saat aku bertemu dengannya kami seperti orang
asing, tidak ada ejekan, tidak ada pukulan, tidak ada tawa. Saat bertemu
dengannya aku bahkan tidak mampu menatapnya. Mungkin semua salahku.
Mungkin
semuanya berawal dari sini.
I’m
fallin’ without you….
Aku
masih ingat malam itu, ketika jutaan salju menyelimuti kota Seoul, ketika udara
terasa begitu dingin hingga menusuk tulang-tulangku meski aku sudah memaSuga
jaket super tebal dan scarf yang melilit masnis di leherku dan bannie putih
menutup rambutku.
I’m
fallin’ without you….
Aku
masih menunggu dia Rose Kim sahabatku, tetanggaku, aku sudah berteman dengannya
beberapa tahun yang lalu ketika kita masih berumur 7 tahun, aku mengajarinya
berbicra bahasa Korea karna dia terlalu lama berada di Belanda, mungkin saat
itu aku tidak mengerti apa itu cinta, tapi saat kami duduk di bangku SMA ketika
kami berumur 17 tahun, saat aku melihat Rose tertawa dengan laki-laki lain aku
merasa seseorang mencubit hatku, sedikit sakit.
I’m
fallin’ without you….
Aku
menatap arlogi yang menempel di pergelangan tanganku ketika jarum jam berhenti
di angka 19:12, aku masih duduk di kursi yang tepat berada di samping kaca
sebuah café yang aku singgahi dengan segelas Coffe Latte yang menemaniku.
Sesekali aku menggosok-gosok kedua telapak tanganku berharap akan sedikit
mengurangi rasa dingin di tubuhku, pandanganku terus berada di pintu café
hingga akhirnya gadis yang aku tunggu datang.
I’m
fallin’ without you….
Rose
dia datang dengan menggunakan jaket yang hampir menutupi tubuhnya, scarf merah
yang melingkar di lehernya dan bannie dengan warna senada. Rose berjalan menuju
mejaku dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir tebalnya, dan sekarang Rose
sudah duduk di depanku dan memesan Cofe Americano yang sudah dia pegang.
I’m
fallin’ without you……
“Kau
bodoh atau gila? Menyuruhku ke Cafe ketika hujan salju” gerut Rose sambil
dengan mimic muka yang menurutku ‘lucu’, entah lah aku pikir semua yang Rose
lakukan akan lucu, meski Rose selalu marah ketika aku menertawakan kemarahannya
dan bahakan saat itu, saat dia marah, dia masih lucu.
“Aku
masih normal. Otakku masih berfungsi dengan sangat baik nonna Rose Kim”Timpalku
dan hanya menghasilkan kerutan di wajah Rose yang kini sudah meminum kembali
Cofe Americano yang ada di tangannya.
“Rose,
aku mencintaimu” Aku mengeluarkan kalimat itu setelah beberapa saat terjadi
keheniingan diantara kami, Rose yang saat itu sedang meminum minumannya
menatapku dengan heran tapi akhirnya Rose tertawa membuatku menatapnya heran.
Apa ini terdengar lucu? Aku tau ini tidak terdengar romantic tapi aku pikir ini
juga bukan hal yang pantas di tertawakan. Sumpah, aku tidak sedang melucu.
“Yah,
Kim Suga. Apa kau sakit? Bicaralah dengan benar. Aku melawan salju agar bisa
sampai di tempat ini bukan untuk mendengarkan kalimat konyol itu dari mulutmu”
Timpal Rose mencoba mengontrol tawanya meski aku tau dia tidak bisa, karna aku
masih mendengar tawanya dari sela-sela kalimat yang keluar dari bibir tebal
itu.
“Aku
tidak sedang melucu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak tahan ketika kau
tertawa dengan Sehun teman sekolahku, aku tidak suka kau lebih akrab dengan
Sehun dari pada aku, aku tidak suka jika aku melakukan skin ship dengan lelaki
lain meskipun itu Sehun sahabatku, aku tidak suka caramu tersenyum kearah
Chanyeol, aku tidak suka ketika Luhan pria cina itu mengatakan jika kau gadis
yang lucu, aku tidak suka ketika kau mengatakan jika kau menyuSuga mata
Kyungsoo, aku tidak suka semuanya. Aku tidak suka ketika teman-teman trainne ku
mengatakan jika aku beruntung mempunyai sahabat sepertimu, kau tau ketika
mereka mengatakan itu seperti ada ratusan ketakutan didalam diriku, aku takut
jika mereka mencintaimu. Karna aku ingin kau menjadi kekasihku.” Aku
menggenggam lengan Rose, dan dia tidak bergeming sedikitpun, dia tidak tertawa,
tatapannya sangat serius, lebih serius ketika dia mengerjakan ratusan soal
kalkulus “Aku mencintaimu dan itu terasa seperti hati ini terisi oleh ratusan
kupu-kupu. Aku mencintaimu Rose Kim. Entah sejak kapan aku merasakan perasaan
ini, entah sejak kapan aku selalu khawatir tentangmu, entah sejak kapan aku
selalu berharap HP ini berbunyi menerima panggilan telepon atau sms darimu,
entah sejak kapan aku selau berharap pintu rumahku terbuka oleh sosokmu, entah sejak
kapan jantung ini berdetak lebih keras ketika aku berada di sampingmu, entah
sejak kapan mata ini selalu ingin melihatmu, entah sejak kapan jemari ini
selalu ingin bergelanyut manja di jemarimu, entah sejak kapan hati ini diisi
oleh semua tentangmu, aku haya tidak bisa menahannya. Aku mencintaimu Rose Kim”
Final, untuk pertama kalinya aku berbicara panjang lebar pada Rose yang
biasanya hanya Rose yang akan mengoceh panjang lebar untukku. Final, aku
menyatakan semua perasaan ku dan Rose masih diam, ini adalah pembicaraan paling
serius sepanjang sejarah antara aku dan Rose. Suasana hening, udara dingin dari
salju bahkan terasa lebih dingin lagi sekarang, dengan perlahan Rose menarik
lengannya dari genggamanku membuat perasaan ku tidak karuan. Apa ini hanya
perasaan sepihak?
“Suga..
aku tidak tau perasaan seperti apa yang aku rasakan untukmu, ini terlalu
membingungkan, aku pikir ini lebih dari sekedar rasa cinta, sebuah perasaan
yang membuatku selalu bahagia denganmu, aku pikir aku tidak membutuhkan apapun
selama aku berada di dekatmu. Kau tau, beberapa orang saling mencintai dan
menjalin cinta, lalu beberapa saat kemudian mereka berpisah, aku hanya tidak
ingin kita seperti mereka. Persahabatan kita sudah sangat sempurna, lalu kenapa
kau menginginkan hal lebih yang mungkin tidak akan sesempurna persahabatan
kita?. Aku tidak bisa melangkah sejauh itu untuk kebersamaan kita, aku akan
selalu berada di sampingmu sebagai sahabatmu.” Timpal Rose dengan mimic muka
serius, pandangannya lurus menusuk bola mataku, dan dengan perlahan Rose
menarik lenganku dan menggenggamnya dengan erat sedankan aku masih terus
menatap Rose, aku masih tidak mengerti tujuan Rose mengatakan semua itu. Apa
dia menolakku? Tapi dia bilang perasaannya lebih dari sekedar Cinta. Dia bilang
dia tidak butuh apapun selama aku berada di sampingnya. “Aku akan berada di
sampingmu meski kau bukan kekasihku. Kau orang paling berharga di hidupku
setelah ibuku dan kakakku” Final, aku rasa Rose menolakku, dia tidak ingin aku
menjadi kekasihnya. Apa semuanya sia-sia? Ini membingungkan, aku tau Rose gadis
pintar, tapi ini terlalu berbelit-belit, seharusnya dia mengatakan sejak awal
jika dia tidak mencintaiku, bukan malah membuatku menunggu dan terlalu
berharap.
“Kau
tidak mencintaiku? Kau menolakku?” Aku bertanya sambil melepaskan genggaman Rose
di jemari-jemariku, jangan Tanya seberapa besar kekecewaanku, aku bahkan tidak
bisa membayangkan seberapa hancurnya hatiku saat ini, ini terlalu rumit untuk
dijelaskan.
“Persahabatan
kita sudah sangat sempurna, lalu untuk apa cinta? Aku hanya tidak bisa
membayangkan jika kita berpisah dan kau menjauh dariku. Itu terlalu menakutkan”
Timpal Rose tetap menatap mataku, aku bahkan mulai melihat cairan being di
kedua bola matanya.
“Aku
mencintaimu, dan kau tidak. Aku rasa semuanya sudah berakhir. Kita tidak sama”
Aku mengatakan kalimat itu dengan sedikit ketus sambil menahan emosiku, aku
benci perasaan ini.
“Kita
masih bersahabatkan?” Rose bertana membuatku kembali menatapnya tajam. Aku
benar-benar tidak mengerti jalan pikiran gadis di depanku ini.
“Kau pikir kertika seorang pria cintanya
ditolak, dia masih ingin melihat gadis yang telah menghancurkan hatinya? Tidak
Jen” itu adalah kalimat terakirku untuk Rose sebelum aku pergi meninggalkan dia
seorang diri di café.
Flashback
end
I’m
fallin’ without you….
Saat
itu aku berjalan meninggalkan Rose, aku tidak tau apa yang aku lakuakan benar
atau salah, hanya aku pikir untuk saat ini aku tidak bisa menatap Rose seperti
biasa. Dan setelah malam itu semuanya benar-benar berubah, mungkin akhir dari
malam itu adalah awal dari ssemuanya.
I’m
fallin’ without you….
Setiap
pagi aku melewati rumah Rose untuk berangkat sekolah, yah hanya melewatinya
dengan sesekali memandang kaca jendela kamar Rose. Semuanya berubah, dan
semuanya salahku. Saat itu saat malam itu berakhir Rose masih menghubungku
meski selalu aku abaikan, dan sekarang beberapa bulan berlalu Rose mulai
berhenti menghubungku. Ketika ibu menanyakan Rose aku hanya bisa menjawab “Dia
sibuk untuk tes masuk universitas” , hanya itu yang bisa aku katakana, dan ibu
percaya dengan kebohonganku karna ibu tau Rose memang gadis yang sangat pintar.
Sedangkan aku? Aku masih bergelut di ruangan kaca ini, menari seperti orang gila,
mungkin tulang-tulang di tubuhku akan patah jika aku terus menari seperti ini,
aku hanya berharap aku bisa melupakan Rose yang mungkin sudah melupakanku
ketika aku tahu Rose berpacaran dengan Nam Tae Hyun, salah satu murid di
sekolahku yang selalu mendapatkan pujian karna dia memang siswa yang pintar dan
aktif, sehingga Sehun bocah gila yang selalu menempel di sampingku selalu
mengatakan jika Rose dan Nam Tae Hyun adalah pasangan serasi, aku tidak percaya
jika pria kurus ini sahabatku, aku bersumpah jika Sehun bukan sahabatku aku
pasti sudah menendang pantatnya keluar.
I’m
fallin’ without you…
Hari
ini, beberapa hari setelah kelulusan sekolah, ketika aku baru saja meneguk
segels air mineral, ketika aku merasa bebas dari rutinitas sekolah yang membosankan,
saat itu juga aku menegtahui jika Rose sudah pergi ke Amerika Serikat untuk
melanjutkan study kedokteran di Harvard Medical School University, Harvard
adalah sekolah kedokteran nomor satu di Amerika Serikat berdasarkan penelitian
medis dimana mereka telah memiliki banyak alumni terkenal. Aku tidak tau
sekeras apa dia belajar hingga bisa masuk ke Universitas sekelas Harvard, meski
aku tau sejak kecil dia sangat ingin menjadi dokter, tapi aku benar-benar tidak
berfikir jika Rose sangat berniat memaskuki Universitas itu, sedangkan aku? Aku
benar-benar tidak memiliki niat untuk melanjutkan sekolahku, tujuan utamaku
saat ini adalah menjadi dancer terbaik, meski aku harus membayar dengan ocehan
ibu setiap hari. Dan Amerika Serikat? Itu terlalu jauh untukku agar bisa
menatap Rose, bertetangga dengannya saja sudah sulit untukku menemuinya apa
lagi Amerika?. Sekarang aku sadar, semuanya salahku.
I’m
fallin’ without you….
Sekarang
tepat dua tahun berlalu, dan setiap aku melewati rumah Rose aku selalu terdiam
beberapa saat menatap kamar yang dulu sering aku kunjungi hanya untuk sekedar
membangunkan Rose yang tertidur pulas karna dia selalu menghabiskan malamnya
dengan belajar. Ada satu hal yang aku syukuri setelah aku mengetahui Rose
berangkat ke Amerika. Rose putus dengan Nam Tae Hyun, haruskah aku
merayakannya?.
I’m
fallin’ without you….
Satu
tahun berlalu dan tidak ada yang berubah, saat itu, ketika aku mencoba
melangkahkan kakiku, aku melihat jendela itu terbuka, dan disana aku melihat Rose
berdiri menatapku. Aku yakin ini bukan mimpi aku bahkan dengan bodohnya
mencubit pinggangku sendiri, dan Rose masih disana berdiri menatapku. Tapi
entah mengapa aku kembali melangkahkan kakiku meninggalkan sosok Rose itu. Aku
merasa benar-benar bodoh.
I’m
fallin’ without you….
Dua
tahun berlalu, setelah setahun lalu aku ‘kembali’ mengabaikan Rose, sekarang
aku berharap akan melihat Rose di acara pernikahan kakaknya Jinny, aku datang
terlambat dan mengelilingi aula pernikahan, tapi aku tidak melihat Rose, apa
aku tidak mempunyai kesempatan? Apa satu tahun yang lalu adalah kesempatan
terakhirku.
“Kau
datang JongIn? Ah magsudku Suga. Aku pikir aku sibuk dengan groupmu. BTS benar-benar sangat popular sekarang” Seru nyonya Kim ketika aku datang menghampirinya.
“Aku
pasti datang. Bagaimana mungkin aku melewatkan pernikahan Jinny Nunna” Timpalku
enggan mengatakan tujuan sebenarnya. Aku ingin menemui Rose, itu tujuan
utamaku.
“Ah
sayang kau datang terlambat. Beberapa jam lalu Rose kembali ke Amerika” Itu
adalah kalimat yang tidak pernah aku duga, itu diluar nalarku. Aku terdiam dan
mungkin dengan perlahan senyumanku memudar. Sekali lagi, aku terlambat.
I’m
fallin’ without you…..
Hari
ini adalah hari yang paling melelahkan, karna kami BTS, baru saja selesai
menggelar konser pertama kami, dan itu membuatku merasa bahwa aku sudah
benar-benar menyatu di dunia ini, tidak ada yang bisa menggambarkan
kebahagianku saat ini, mimpiku selama ini terwujud, mimpiku sejak kecil,
mungkin ini akan lebih sempurna jika Rose sahabat yang selalu mendukungku
menonton konserku, sahabat yang selalu membelaku di depan ibuku, ah aku bahagia
karna nyonya Park bilang Rose sudah menjadi dokter bedah muda disana, Rose lulus
lebih awal dan langsung mendapatkan rekomendasi dari universitasnya ke sebuah
rumah sakit di Amerika, dia benar-benar menunjukan kepintarannya, aku bersyukur
mimpi kami terwujud meski tidak dapat saling berbagi.
I’m
fallin’ without you….
Aku
baru saja duduk memesan kursi di sebuah Café untuk menunggu sahabatku Taemin,
tapi pandanganku terhenti pada gadis di sebrang jalan sana, gadis berambut
panjang yang memaSuga celana jeans putih dengan bagian lutut yang sobek dan
baju berwarna hitam yang dibalut dengan kemeja hitam bercorak beberapa warna
gelap dengan ukuran yang hampir menutupi mata kakinya, dipadu dengan topi
fedora hitam dan kecamata hitam, sedang berdiri sambil menempelkan handphone
nya di telinga, aku yakin itu Rose , sahabat yang selalu aku cintai dan aku
tunggu hingga sekarang, dan itu semakin kuat ketika aku melihat gelang biru
yang melingkar di pergelangan tangannya, itu gelang yang pernah aku berikan
untuknya ketika kita baru saja masuk SMA, dia benar-benar Rose, apa ini adalah
kesempatanku lagi? Apa tuhan masih memberiku kesempatan? Jika iya, aku akan
mempertahankannya, sampai kapanpun.
I’m
fallin’ without you…..
Aku
baru saja bangkit dari kursiku untuk menghampiri Rose, tapi sosok pria datang
menghampirinya, memeberikan pelukan hangat untuk Rose membuatku mengurungkan
niat, aku tidak bisa melihat wajah pria itu karna dia seperti sedang menyamar,
paSugaan, topi dan kecamata hitamnya terlihat sangat berkelas, tapi aku merasa
pria itu bukan sosok asing untukku, hingga akhirnya mereka memasuki café yang
aku kunjungi dan berjalan menuju mejaku, mereka berdiri tepat di depanku. Itu
benar-benar Rose Kim, dan pria itu…… Taehyung, sahabatku.
I’m
fallin’ without you
“Maaf
membuatmu lama menunggu Suga” Seru Taehyung yang sudah duduk di depanku dengan Rose
di sampingnya.
“Tidak,
aku baru sampai” Balasku masih enggan mengalihkan pandanganku dari Rose.
“Kau
keget aku membawa Rose?” Taehyung kembali bertanya sambil merangkul bahu Rose.
“Huh”
suara itu keluar begitu saja dari mulutku sambil menatap Taehyung heran.
“Aku
tau kalian berteman. Rose sudah menceritakannya padaku.” Seru Taehyung yang kini
sedang menatap Rose.
“Bagaimana
kalian bisa kenal?” Pertanyaan itu keluar dari mulutku dengan lancar.
“Aku
bertemu dengannya ketika aku sedang berlibur di Amerika beberapa bulan yang
lalu. Kami sudah berpacaran beberapa minggu ini” Jawab Taehyung tidak bisa
meyembunyikan kebahagiannya. Haruskah aku bahagia untuk mereka?. “Kau tidak
akan mengucapkan selamat untuk kami? Kita berdua sahabatmu Suga” Sambung Taemin
menyadari jika aku hanya diam saja. Ini terlalu mendadak untukku, ini lebih
buruk ketika aku mendengar Rose dan JIN.
“Ah.
Selamat” aku mengucapkan kata itu dengan berat hati. Apa aku telambat lagi?.
“Baiklah,
aku akan memberikan waktu kalian untuk berdua.” Seru Taehyung bergegas pergi.
“Kau
akan pergi kemana?” Untuk pertama kalinya aku mendengar suara Rose setelah
sekian lama. Aku melihat Rose memegang lengan Taehyung, aku bersumpah jika pria
itu masih JIN aku akan melepaskan genggaman mereka. Tapi sekali lagi, aku
tidak bisa, karna dia Taehyung, sahabatku.
“Aku
yakin kalian membutuhkan waktu berdua untuk melepas rindu. Aku akan menjemputmu
nanti” Taemin menjawab dengan senyum lebar di bibirnya, Taehyung mencium kening Rose
sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kami. Perasan ini, ketika Taehyung mencium Rose, rasanya masih sama ketika Rose menolak cintaku, tidak berubah
sedikitpun. Sekarang hanya ada aku dan Rose, aku terus menatap Rose yang tengah
menggenggam gelas coffe nya. Sekarang haruskah aku mengatakan jika aku masih
menunggu dan mencintainya?
“Aku
melihat konsermu” Rose tiba-tiba mengeluarkan suaranya sambil menatapku,
getaran jantung ini bahkan masih sama. “Akhirnya mimpimu terwujud. Tidak
sia-sia kau menari siang sampai pagi” Sambung Rose dengan senyum lebarnya.
“Aku
juga sudah mendengar jika kau sudah menjadi dokter. Selamat, kau pasti belajar
sangat keras” Timpalku mencoba mencairkan suasana meski terasa sangat sulit
karna suasana kembali mebeku, tidak bebas seperti dulu. Kami diam, Rose dan aku
kembali mengaduk-aduk coffe di depan kami.
“Aku
bisa pergi sekarang jika kau masih tidak nyaman denganku” Kini Rose kembali
mengeluarkan suaranya, seperti biasa Rose tidak suka basa-basi, dia selalu
memahami situasi dan mengatakan langsung apa yang dia rasakan.
“Yah
aku tidak nyaman dengan keadaan kita seperti ini” Pernyataanku berhasil membuat
bola mata Rose membulat “Jika laki-laki itu bukan Taehyung aku pasti mengatakan
perasaanku lagi. Berapa tahun? 1 tahun? 2 tahun? 3 tahun? Aku selalu menunggumu
meski aku tau aku selalu terlambat dan terkalahkan oleh waktu. Sekarang kau
datang dan membawa cerita baru bersama sahabatku. Perasaan itu masih sama,
meski tahun berganti, tapi perasaan ini masih sama. Selamanya akan sama”
entahlah, apa ini masih termasuk sebuah pengakuan? Aku menatap gadis di depanku
yang tengah memandangku.
“Tidak
bisakah kau mengerti apa yang aku magsud saat itu? Aku akan terus disampingmu
meski kita bukan kekasih, cinta bisa putus tapi tidak dengan persahabatan.
Tidak bisakah kau memahami betapa berharganya kau untukku?” Seru Rose pasti.
Apa aku egois? Apa salah jika aku ingin memperlakukan dia lebih dari seorang
sahabat? “Tidak ada yang ‘selamannya’ Suga. jika kau membuka hatimu untuk
orang lain semuanya akan berubah, dan persahabatan kita pasti akan lebih baik,
tidak seperti sekarang” Sambung Rose. Sekarang aku tau, Rose tidak mencintaiku.
Sahabat? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyesal menjadi sahabatnya.
Untuk waktu yang lama kami kembali diam, cukup lama hingga mungkin coffe yang
ada di gelas kami habis terhirup udara.
I’m
fallin’ without you…
“Kalian
sudah selesai? Kenapa sangat cepat?” Tanya Taehyung yang sudah ada di depanku dan
merangkul pundak Rose. Benarkah sebentar? Aku bahkan merasa sudah ratusan jam
di dalam sana bersama Rose.
I’m
fallin’ without you…
Aku
masih berdiri di depan pintu Café ketika Rose dan Taemin pergi meninggalkanku,
aku menatap kepergian mereka yang tengah tertawa, mereka bahagia, sekarang apa
aku harus baghagia untuk mereka? Rose sempat memutar kepalanya menatapku tapi
kembali bersandar di pundak Taehyung, sekali lagi aku kalah dari Taehyung, apa
hidupku selalu di bayang-bayangi oleh Taehyung?. Rose benar, tidak ada yang
selamanya, karna mungkin tidak selamanya aku bisa tetap menjadi sahabat Rose
dengan perasaan ini.
I’m
fallin’ without you…….
-FINE-

0 komentar