Swift

Dandelion (7/?)

Cast : Park Chanyeol , Lee Yo Bi, Kim Taehyung -V- 
Gendre : Sad Romantic
Author : J.N



: Itu tidak adil
: Sejak kapan dunia menjadi adil?




Beberapa jam berlalu hingga akhirnya mereka sampai disebuah villa yang terletak tak jauh dari pulau Jeju dengan pemandangan indah menghadap ke pulau jeju langsung dan Villa yang sangat terawat. Chanyeol langsung menggendong Dara kedalam kamar, kemudian Chanyeol mengambil beberapa barang meski awalnya Yo Bi yang menggambil tapi dengan cepat Chanyeol mengabil kembali dari tangan Yo Bi.

“Istirahatlah kau pasti lelah” Seru Yo Bi ketika Chanyeol mengambil koper dari tangannya.

“Aku akan tidur setelah semuanya selesai, aku tidur disana. Dan kau tidur dengan ibu, disini hanya ada dua kamar” Timpal Chanyeol dengan senyum tipis sambil menunjuk kamar yang Chanyeol magsud, Yo Bi mengikuti Chanyeol kedalam villa, ketika Chanyeol merapihkan beberapa barang, Yo Bi menyiapkan beberapa helai sandwich yang belum sempat dia makan ketika mereka membeli diperjalanan, dengan segelas susu dan air mineral, dengan perlahan Yo Bi berjalan memasuki kamar Chanyeol, ketika Yo Bi baru membuka pintu, Yo Bi melihat Chanyeol sudah tertidur dengan posisi acak.

“Hm, kau pasti lelah bukan?” Seru Yo Bi tanpa bermasud bertanya pada Chanyeol yang tengah tertidur, Yo Bi lalu membuka sepatu Chanyeol yang masih terpasang dikakinya dan menyelimuti tubuh Chanyeol dengan perlahaan seolah-olah jika Chanyeol akan terbangun bahkan dengan gerakan lembut sekaipun. –Kau terlihat polos saat tidur, kau harus tau itu bodoh- gumam Yo Bi dalam hati saat dia menaruh makanan disamping tempat tidur Chanyeol.

“Bibi sudah bangun?” Tanya Yo Bi ketika dia melihat Dara sedang duduk di kursi yang ada di balkon belakang villa.

“Duduklah” Seru Dara sambil menepuk kursi yang masih tersisa. “Jangan panggil bibi, panggil saja Ibu, seperti Chanyeol” Sambung Dara sambil mengelus rambut Yo Bi.

“Yah baik ibu” Timpal Yo Bi kaku sambil mengguratkan segaris senyum tipis dibibirnya.

“Ibu tidak akan menanyakan orang tuamu, kamu hanya terlihat seperti Chanyeol nak” Seru Dara lembut, karna dengan menatap bola mata Yo Bi Dara tau jika Dara dan Yo Bi sama, kesepian.

“Tidak apa-apa bu, aku bahkan terlalu bosan mendengar orang-orang meminta maaf ketika mereka mengetahui keadaanku” Timpal Yo Bi tersenyum tipis.

“Tidurlah disini” Seru Dara sambil menpuk pahanya, dengan perlahan Yo Bi menaruh kepalanya di paha Dara, kemudian Dara mengelus rambut Yo Bi dengan lembut. “Apa Chanyeol sangat menyusakhan?” Dara bertanya dengan senyum tipis yang tek pernah lepas dari bibir tipisnya.

“Dia terkadang terlalu memaksakan kehendaknya” Yo Bi menjawab sambil terus menatap Dara.

“Bukan karna Chanyeol anak ibu, tapi sebenanya Chanyeol anak yang manis dan baik, tetaplah bersama Chanyeol” Seru Dara membuat Yo Bi terbangun dan menatap Dara intens. “Ibu tenang jika Chanyeol sudah bersamamu nak” Sambung Dara sambil mengelus pipi Yo Bi.

“Bu, kamai hanya berpacaran, tidak ada yang tau kedepan akan seperti apa” Timpal Yo Bi, dia tidak ingin membaut Dara terlalu percaya pada hubungan ini. Yah setidaknya untuk saat ini Yo Bi merasa hubungan ini hanya sebuah kesepakatan.

“Yah tidak ada yang tau, tapi untuk sekarang ibu sangat senang kamu berada disamping Chanyeol. Karna pilihan yang selalu membuat hidup berubah, tapi selama kau memilih yang menurutmu baik, semuanya akan baik-baik saja.” Kini Dara mengelus rambut Yo Bi dengan lembut sambil terus memandang Yo Bi penuh kasih.

“Apa ibu merasa sesuatu yang salah?” Yo Bi bertanya sambil mengggenggam hangat lengan Dara “Bicara saja. Aku akan menjadi pendengar yang baik” Sambung Yo Bi dengan senyum hangatnya.

“Ibu hanya merasa bersalah pada Chanyeol, ibu merasa jika ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik, tidak bisa menjaga Chanyeol, tidak bisa mengikuti dan mengetahui kegiatan apa saja yang Chanyeol lakukan, tidak bisa terus berada disamping Chanyeol setiap saat. Ibu meras bersalah karan hubungan Chanyeol dan ayahnya tidak begitu akur. Waktu berlalu begitu cepat dan tanpa ibu sadari semuanya sudah berubah terlalu jauh, ibu hanya merasa buruk untuk Chanyeol dan ibu sendiri” Sesal  Dara kemudian Yo Bi dengan ragu membawa Dara kedalam pelukannya.

“Suatu saat Chanyeol akan mengerti, karna waktu yang telah merubah segalanya makan biarkan waktu yang mengembalikannya ketempat semula juga” Entah dari mana Yo Bi bisa mengeluarkan kalimat yang Yo Bi sendiri tidak pernah memikirkannya.

“Ibu sudah bangun” Suara Chanyeol membuyarkan suasana dingin antara Yo Bi dan Dara dengan spontan Dara dan Yo Bi melepaskan pelukan masing-masing dan Dara langsung mengusap kedua kelopak matanya.

“Sudah nak. Kenapa kau bangun? Kau seharusnya masih tidur, kau pasti lelah” Kini Dara mengelus lengan Chanyeol yang sudah melingkar di tubuhnya.

“Hmm. Aku akan menyiapkan makan malam” Seru Yo Bi tidak ingin mengganggu dan berjalan begitu saja disusul Chanyeol yang duduk disamping Dara dengan manja.

“Kau lelah nak?” Dara bertanya sambil mengelus pipi Chanyeol.

“Tidak, selama dengan ibu, semuanya akan baik-baik saja” Timpal Chanyeol sambil menatap Dara dengan tatapa hangat.

“Chanyeol, dengarkan ibu. Kali ini saja” Seru Dara dengan nada serius, Chanyeol yang tau jika Dara akan mulai membahas hubungannya dengan YooChun ayahnya langsung mulai tidak nyaman.

“Aku akan membantu Yo Bi didapur” Seru Chanyeol mencoba bangkit dari kursi tapi Dara langsung menahan lengan Chanyeol.

“Menghindar tidak akan mengubah apapun. Duduklah, dengarkan ibu. Sekali saja” Pinta Dara dengan lirih membuat Chanyeol mengalah dengan egonya dan mencoba duduk bersama Dara kembali.

“Aku harap ini tidak akan lama” Timpal Chanyeol lalu mencium kening Dara.

“Nak, sekarang kau hanya punya ibu dan ayah, jadi cobalah memahami ayahmu. Ayahmu sangat mencintaimu nak, jangan membencinya, dia adalah penopang kekuatanmu”

“Aku tidak pernah berfikir jika dia penting. Ibu, berhentilah mengatakan itu, aku masih punya ibu, dan itu lebih dari cukup. Jika dia tidak mau membiayaiku aku bisa bekerja, aku tidak ingin bergantung padanya--”

“Hey, dengarkan ibu. Hidup tidak semudah yang kau bayangkan, saat ini kau masih berumur 19 tahun, kamu tidak akan berfikir jika hidup keras karna kamu masih bisa bergantung pada orang lain, dan lagi, ibu tidak akan selamanya bersamamu nak” Seru Dara menasehati anak kesayangannya sambil mengelus pipi Chanyeol dengan lembut.

“Apa yang sedang ibu bicarakan? Aku tidak mengerti. Ibu akan terus disampingku. Aku janji, setelah aku bisa berdiri sendiri, aku akan membawa ibu pergi dari sini. Kemanapun asal kita tidak melihat pria itu lagi” Seru Chanyeol mulai kesal dan meninggalkan Dara begitu saja, Chanyeol memasuki kamarnya sambil membanting pintu kamar dan melewati Yo Bi begitu saja.

“Hmm, ibu makanan sudah siap, ayo kita makan sebelum dingin” Seru Yo Bi kaku disusul anggukan Dara, dengan perlahan Yo Bi membantu Dara berdiri dengan tongkatnya. “Aku akan memanggil Chanyeol”Seru Yo Bi lalu berjalan menaiki anak melewati lorong unutk menuju kamar Chanyeol.

Tok tok tok
Yo Bi mengetuk pintu kamar Chanyeol tapi tidak ada respon dari si pemilik kamar.

“Park Chanyeol, ayo makan. Ibu sudah menunggu” Seru Yo Bi dengan nada naik beberapa oktav.

“Makan duluan, aku akan menyusul” Kini Chanyeol keluar dengan rambut kusut dan wajah tidak karuan (?) bahkan sebelum Yo Bi berbicara lebih banyak Chanyeol sudah menutup pintu kamarnya.

“Biarkan saja, dia akan makan ketika dia tenang” Seru Dara pada Yo Bi yang baru saja datang tanpa membawa Chanyeol disusul dengan anggukan lemah dari Yo Bi. Makan malam dilewati dengan dingin, Dara bahkan tidak makan terlalu banyak bukan karena makanan Yo Bi tidak enak, tapi pikiran tentang Chanyeol yang terus menempel di otaknya.

“Makananmu enak, tapi ibu sedang tidak berselera nak, maaf” Sesal Dara ketika mereka selesai menyantap makan malam mereka.

“Tidak apa-apa bu” Timpal Yo Bi dengan senyum tipisnya.

“Tidurlah, ini sudah malam” Seru Dara sambil mengelus rambut Yo Bi sebelum dia pergi meninggalkan Yo Bi.

Chanyeol mencoba menutup matanya, tapi percuma dia tidak bisa menutup matanya meski dia sudah bekerja dengan keras, dengan prustasi Chanyeol berjalan keluar kamar dan duduk di kursi beranda belakang vila yang menghadap ke pulau.

“Sesuatu yang salah disini” Seru Yo Bi yang tiba-tiba duduk disamping Chanyeol membuat Chanyeol tersentak kaget.

“Kau belum tidur?” Chanyeol bertanya tanpa menyembunyikan kekagetannya.

“Aku sudah tidur sangat lama saat diperjalanan” Timpal Yo Bi sambil menyodorkan segelas Coffe, ya karna Yo Bi sudah melihat Chanyeol melewati dapur ketika dia sedang membuat segelas cofe hangat.

“Dunia tidak adil” Seru Chanyeol sambil memegang Segelas cofe hangat dengan kedua tangannya.

“Sejak kapan dunia adil?” timpal Yo Bi membuat Chanyeol memandang Yo Bi heran “Magsudku,  bukankah manusia terkadang berfikir dunia tidak pernah adil bukan?” Sambung Yo Bi membalas tatapan Chanyeol lalu kembali mengalihkan pandangannya mereka terdiam unutk waktu yang lama dalam keheningan, bahkan bunyi jam dinding terdengar begitu jelas.

“Pakai ini. Kau pasti kedinginan” Seru Chanyeol sambil menaruh cardigan yang dia pakai di tubuh Yo Bi membuat Yo Bi menatap Chanyeol. -Dingin? Duniaku selalu dingin- gumam Yo Bi dalam hati sambil menatap cardigan yang Chanyeol berikan.

“Aku tidak tau apa masalahmu dan tidak bermagsud mencampuri urusan pribadaimu. Tapi ibumu sangat mengkhawatirkanmu, harusnya kau bersyukur karna didunia ini masih ada orang yang mengkhawatirkanmu” Seru Yo Bi lirih ketika kalimat itu meluncur begitu saja dibibir kecilnya, yah karna Yo Bi selalu berfikir jika tidak ada satu orangpun yang mengkhawatirkannya semenjak kedua orang tuanya meninggal 3 tahun lalu.

“Apa kau berfikir jika tidak ada orang yang mengkhawatirkanmu?” Chanyeol bertanya dengan tidak yakin ketika Yo Bi sudah berdiri di depannya.

“Terimakasih, karna kamu sudah membawaku pada ibumu, itu mengingatkanku kembali pada rasa hangat” Timpal Yo Bi tanpa menjawab pertanyaa Chanyeol lalu berjalan pergi meninggalkan Chanyeol. Untuk waktu yang lama Chanyeol berada di beranda dengan sesekali menatap langit yang sudah sangat gelap, saat dia merasa tenang Chanyeol dengan lemah meninggalkan balkon, ketika Chanyeol melewati ruang TV, Chanyeol melihat Yo Bi tertidur disofa.

“Tidak sadarkah kau jika aku selalu mengkhawatirkanmu? Mungkin ini terdengar cheesy, tapi aku rasa aku benar-benar mencintaimu Lee Yo Bi” Dengan polos Chanyeol bertanya pada Yo Bi yang tengah meringkuk tertidur diatas sofa, lalu dengan hati-hati Chanyeol membawa Yo Bi kedalam kamar dengan kedua tangannya. “Good night, sweet heart” bisik Chanyeol lalu mencium kening Yo Bi lalu pergi meninggalkan Yo Bi yang tengah tertidur dengan pulas. “Hm, anggap saja aku memberikan mie ramen untuk Suho” Gerut Chanyeol sambil menekan smartphone untuk mentransfer uang 100 juta won.

 Yo Bi terbangun dari tidurnya ketika jam menunjukan pukul 05:04, Yo Bi sedikit kaget karena mendapati dirinya tertidur diatas kasur dengan seimut yang membungkus tubuhnya, Yo Bi masih ingat ketika dia memilih tidur di sofa ruang TV karna tidak ingin mengganggu Dara yang tengah tertidur, sekarang Yo Bi menatap sekeliling ruangan dan itu bukan kamar Dara, pandangan Yo Bi terhenti di sofa hitam, disana Yo Bi melihat Chanyeol  tertidur meringkuk tanpa selimut, perlahan Yo Bi berjalan sambil mengambil selimut.

“Bodoh” Gumam Yo Bi setelah dia menyelimuti tubuh Chanyeol dan membungkuk dibawah Sofa sambil mengelus pipi cabi Chanyeol lalu berjalan pergi meninggalkan Chanyeol unutk mensiapkan sarapan.

Chanyeol terbangun dari tidurnya ketika alarm Jam berbunyi, Chanyeol langsung berlari mengambil jam yang ada di  samping tempat tidurnya karna takut jika Yo Bi akan terbangun dari tidurnya, tapi saat alarm jam berhenti Chanyeol tersada jika Yo Bi sudah tidak ada diatas tempat tidur dan mendapati dirinya tengah memgang ujung selimut membuat Chanyeol tersenyum sepert idiot. Chanyeol merapihkan tempat tidur lalu mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih rapih.

“Kau mau kemana?” Yo Bi bertanya dengan heran ketika Chanyeol muncul dihadapannya dengan dengan kaos putih bercorak hitam dipadu dengan jacket kulit berwarna hitam dan kecamata hitam besar yang menutupi kedua bola mata Chanyeol




“Tentu saja jalan-jalan, kita akan menghabiskan waktu di pulau jeju bukan? Jadi bersiap-siaplah. Ibu sudah menunggu” Timpal Chanyeol sambil mendorong Yo Bi kedalam kamar dengan Dara yang sudah menunggu Yo Bi didalam kamar.

Chanyeol duduk di sofa menunggu Yo Bi keluar dari kamar, seperti biasa Chanyeol merasa detak jantung nya berdetak sangat cepat seperti Chanyeol telah berlari ribuan kilo, membuat Chanyeol terus memgang jantungnya. Saat Yo Bi keluar mata Chanyeol terbuka lebar Chanyeol bahkan membuka kecamatanya, disana Chanyeol melihat Yo Bi sudah berdiri mengenakan short dress dengan dominasi warna orage dan tanpa lengan, dipadu dengan topi pantai yang membuat Yo Bi terlihat semakin cantik.


“Yo Bi cantik bukana?” Dara bertanya membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya.

“Ahh, ibu lebih cantik. Ayo kita pergi sekarang” Timpal Chanyeol sambil merangkul Dara untuk menyembunyikan pipi merahnya dan membawa Dara kedalam mobil disusul dengan Yo Bi. mereka bertiga menghabiskan waktu di pulau jeju dengan Chanyeol dan Yo Bi bergantian mendorong kursi roda Dara.

“Apa ibu menyusahkanmu?” Dara bertanya pada Chanyeol yang tengah mendorong kursi roda.

“Ibu bicara apa? Berhentilah bersikap seolah-olah ibu menyusahkan kita” Timpal Chanyeol berlutut didepan Dara setelah dia menghentikan kursi rodanya.

“Terimakasih, sudah menjaga ibu. Seharusnya ibu yang menjagamu, tapi---”

“Aku mencintai ibu dan akan terus menjaga ibu. Selamanya. Aku janji” Baekhyun memotong kaliamat Dara lalu memeluknya dengan erat.

Chanyeol, Dara dan Yo Bi sudah menghabiskan waktu selama 3 hari di Jeju hingga akhirnya mereka memilih untuk kembali ke Seoul karna Chanyeol dan Yo Bi harus kembali ke sekolah. Sepanjang perjalanan Chanyeol terus memegang erat lengan Dara yang duduk disampingnya, perjalanan berjalan dengan baik hingga tiba-tiba sebuah truk berjalan dengan kecepatan tinggi di arah berlawanan dan menyenggol sisi mobil Chanyeol yang tepat dengan posisi duduk Dara membuat mobil yang Chanyeol kendarai kehilangan keseimbangan dan memutar, Chanyeol merasa kaget langsung memegang lengan Dara dengan satu tangan dan tangan yang lainnya masih mencoba memegang stir mobil. Waktu berjalan terasa begitu cepat dan kejam untuk Chanyeol, suara sirine ambulance terdengar begitu jelas. Chanyeol dan Yo Bi terus memgang lengan Dara ketika didalam ambulance, sesampai di Rumah Sakit Chanyeol berlari mendorong kasur rumah sakit yang membawa Dara ke ICU, sambil berdoa dan penuh harap Chanyeol menyaksikan Dara yang tengah diperiksa oleh beberapa dokter, hingga Chanyeol melihat seoarang dokter datang menghampiri Chanyeol.

“Maaf, kami tidak bisa menolong ibu anda. Nyonya Dara diperkirakan sudah meninggal saat diperjalanan” Seorang dokter menyampaikan pesan yang membuat Chanyeol seperti dupukul berton-ton batu. “Kami turut berdukacita atas kematian ibu anda” Sambung Dokter itu sambil membungkuk 90 derajat sebelum meninggalkan Chanyeol, saat semua dokter dan perawat meninggalkan ‘Jenazah’ Dara diruang ICU, Chanyeol langsung berjalan dengan lemah dan menatap Dara yang terkulai.

“Ibu…….” Ada jeda cukup lama untuk Chanyeol melanjutkan kalimatnya, Chanyeol terus menatap Dara dengan pilu “Apa ibu lelah? Tidurlah dengan tenang disana. Dunia terlalu kejam. I love you mom” hanya sebuah kalimat sederhana dari mulut Chanyeol tapi dilubuk hati Chanyeol dia benar-benar merasa kehilangan, mungkin sayapnya telah patah, air mata bahkan tidak bisa keluar karna rasa sakit yang terlalu dalam, dan bukankah kekacauan didalam hati lebih mengerikan dari sekedar tangisan dan emosi? Mungkin itu yang sedang Chanyeol alami. Chanyeol mengangkat matanya ketika dia melihat sosok pria tinggi berdiri disamping Dara.

“PERGI!” Perintah Chanyeol pada YooChun yang tengah memgang tangan Dara “Jangan pernah kau sentuh ibuku” Kini suara Chanyeol naik beberapa oktav sambil menarik kerah kemeja YooChun.

“Aku tidak ingin berkelahi di depan jenazah ibumu.Dia mungkin akan sedih jika dia melihatnya. Lepaskan” Perintah YooChun dengan nada lemah.

“Heh” Seru Chanyeol sinis “Sejak kapan kau peduli pada ibu? Kau mengunjungi ibu bahkan tidak lebih dari satu bulan sekali. Kau diaman ketika ibu sedih karna kehilangan Yoora eoni? Berhenti berlaga seolah-olah kau peduli pada kami. Apa ibu harus meninggal dulu agar kau memperdulikannya?” pertanyaan Chanyeol seperti sebuah ledakan bertubi-tubi dihati YooChun. Chanyeol mendorong YooChun kesudut dinding rumah sakit lalu meninnggalkan YooChun dan mendorong jenazah Dara bersama beberpa pegawai rumah sakit.

Yo Bi  mencoba menghampiri Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar jenazah tapi baru beberapa langkah Yo Bi berjalan di arah berlawanan JiYeon datang dan langsung memeluk Chanyeol dengan lembut membuat Yo Bi memutar tubuhnya dengan langkah lemas Yo Bi meninggalkan Chanyeol dan JiYeon.

“Kau tidak apa-apa?” Kini suara Taehyung membuyarkan lamunannya.

“Yah” Yo Bi menjawab dengan lemah tanpa menatap Taehyung dan melanjutkan langkah kakinya tanpa terpengaruhi oleh kehadiran Taehyung, sedangkan Taehyung hanya membiarkan Yo Bi pergi seorang diri.

Pemakaman Dara berjalan dengan lancar, semua keluarga datang untuk menghadiri upacara pemakaman. Park Bom kakak dari Dara bahkan datang bersama suaminya Choi Seung Hyun dan anak laki-lakinya Choi Minho yang selam ini menetap di Amerika tapi terkadang hampir 1 bulan sekali Bom datang mengunjungi Dara entah sendiri ataupun bersama keluarga kecilnya.

“Maaf bibi tidak bisa terus disampingmu selama ini” Sesal Park Bom saat dia dan Chanyeol tengah duduk dikursi taman.

“Aku senang saat bibi sibuk bibi masih sempat mengunjungi ibu, meski bibi harus bolakbalik Korea-Amerika” Chanyeol menjawab dengan senyum tipis dibibrnya.

“Ikutlah dengan bibi ke Amerika” Seru Park Bom membuat Chanyeol menatap Park Bom, terlalu kaget dengan ajakan Park Bom. Dia tidak pernah berfikir jika dia harus kembali ke Amerika, tapi jika dia tetap tinggal di Seoul dia harus membiarkan matanya menatap YooChun setiap hari.

TBC..

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images