Swift

You never love me...- (7/end)


Cast : Luhan, Oh Sehun, Kim Jisoo, Jung Daeun.
Gendre : tentukan sendiri.
Rate: 15+
Words : 1,455
'
'
'
'
'
Don't be silent reading and please leave you're coment 
Sorry if my ff so boring, Happy reading 



“Ji, aku bisa jelaskan semuanya” Seru Sehun pasti masih terus menggenggam lengan Jisoo.

“Tidak ada penjelasan tentang perasaan Sehun. Tapi jika kau punya, aku akan mendengarkan” Timpal Jisoo menatap Sehun. Jisoo terus menunggu Sehun berbicara, tapi tidak ada satu hurufpun yang keluar dari mulut Sehun. “Sehun, kau harus mencintai orang yang kau cintai, bukan yang kau sukai. Kau mencintai Daeun, dan kau harus sadar akan perasaan itu. Aku tidak pernah berada dihatimu, tidak sedetikpun. Tapi kau selalu berada di hatiku, kau pria pertama yang membuat hatiku bergetar. Terimakasih.” Kini Jisoo melepaskan genggaman Sehun lalu berjalan meninggalkan Sehun seorang diri.

**************************************

Jisoo masuk kedalam kelasnya dan kelas itu sangat ribut karna memang belum ada guru yang masuk hari ini. Dengan lemah Jisoo duduk disamping Seulgi.

“Kau dari mana saja?” Tanya Seulgi penasaran “Kenapa kelopak matamu bengkak? Wajahmu juga pucat. Kau sakit?” Tanya Seulgi mulai cemas sambil mengelus lembut punggung Jisoo.

“Aku sudah putus dengan Sehun” Jawab Jisoo pasrah enggan menatap SeulGi yang terus menatapnya, Jisoo bahkan lebih memilih menatap jendela di sampingnya daripada menatap Seulgi.

“Dia yang memutuskanmu? Pria kurus yang tidak tau diri!” Bentak Seulgi tidak terima, SeulGi bahkan bangkit dari kursinya karna terlalu kesal.

“Aku yang memutuskannya” Timpal Jisoo masih enggan menatap Seulgi, membuat SeulGi duduk kembali, SeulGi menatap Jisoo nanar – jujur SeulGi senang jika sahabatnya putus dengan Sehun, tapi diwaktu yang sama SeulGi merasa kasihan pada sahabat disampingnya ini, Seulgi hanya yakin jika Jisoo pasti bisa melupakan Sehun - kelak.

Dengan lemah SeulGi menyeret kursinya mendekat dengan Jisoo, perlahan SeulGi mengangkat tangannya dan mengelus punggung Jisoo “Ji…”

“Semuanya sudah berakhir SeulGi” Potong Jisoo membalikan wajahnya untuk sekilas menatap Seulgi yang masih menaruh telapak tanganya di punggung Jisoo. “Kita bicara lagi nanti” Sambung Jisoo sebelum dia kembali asik dengan fikirannya membuat SeulGi menurunkan lengannya dan masih terus menatap sahabatnya, SeulGi tau Sehun adalah pria pertama yang Jisoo cintai, Seulgi bahkan hafal setiap kata yang Jisoo keluarkan dari mulutnya ketika dia menceritakan Sehun, betapa gilanya Jisoo memuji pria bernama Sehun, bukan Seulgi tidak menasehati Jisoo tapi Jisoo terlalu keras kepala untuk memahami nasehat Seulgi, -Ji, aku tidak yakin dengan persahabatan Sehun dan Daeun, aku tidak ingin kau sakit hati karna mereka. Mereka tidak wajar. Tapi jika kau masih kerasa kepala mencintai Sehun, kau harus memiliki kesabaran ekstra- itu adalah nasehat terakhir dari SeulGi untuk Jisoo meski Jisoo kembali mengabaikannya dan memilih terus mencintai Sehun – sesungguhnya SeulGi ingin memarahi Jisoo karna tidak menggubris nasihatnya, tapi melihat Jisoo seperti ini membuat SeulGi enggan untuk membahas tengang Sehun.

Seulgi terus menatap Jisoo hingga seseorang yang asing masuk kedalam kelas mereka.

***************************

Sehun memasuki kelasnya dengan langkah lemas. Sehun sekarang merasa menjadi pria paling jahat dimuka bumi. Sehun duduk di kursi biasa, bahkan untuk pertama kalinya Sehun mengabaikan Daeun yang ada disampingnya.

“Kau darimana saja? Kau harus beruntung karna Miss Dara belum masuk” Seru Daeun pada Sehun yang baru saja duduk disampingnya dengan tatapan kaku.

“Semuanya berakhir. Kami putus” Seru Sehun dengan tatapan kosong.

“Apa yang berakhir? Siapa yang putus?” Tanya Daeun menegang.

“Jisoo melihatnya semalam. Dia ingin semuanya berakhir” Jawab Sehun masih dengan tatapan kosong. Ada sedikit perasaan bahagia dihati Daeun, tapi melihat Sehun terpuruk seperti ini dia juga tidak bisa merasa baik-baik saja. Dan tanpa Sehun ketahui Daeun berlari melewati puluhan anak tangga untuk menuju kelas Jisoo.

**
Daeun sampai dikelas Jisoo disana Daeun melihat Jisoo yang tengah menyandarkan kepalanya diatas meja dengan tatapannya lurus ke jendela disampingnya.

“Kita perlu bicara” Seru Daeun ketika dia sudah berada di kelas Jisoo dan sekarang dia menarik lengan Jisoo, tapi Seulgi langsung melepaskannya hingga membuat Daeun menatap Seulgi tajam. “Aku tidak ada urusan denganmu. Sebaiknya kau diam” Sambung Daeun ketus dengan tatapan kesal.

Dengan Sinis SeulGi menatap Daeun hingga akhirnya dia membalas ucapan Daeun“Aku tidak peduli. Sekarang pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat musang berada didepanku. Jadi lebih baik sekarang kau…..” 

“Jika Miss Luna datang, katakana padanya aku berada di UKS” Potong Jisoo yang sekarang sudah berdiri di depan Daeun dan meinggalkan kelas bersama Daeun.

“Aist, gadis itu benar-benar bodoh” Gerut Seulgi menatap kepergian Jisoo dan Daeun dari kelasnya.

Jisoo dan Daeun berjalan melewati lorong sekolah dengan aura dingin yang baru pertama kali mereka rasakan, Jisoo terus berjalan mendahului Daeun hingga akhirnya mereka sampai di UKS, Daeun yang berada di belakang Jisoo menutup pintu UKS dengan rapat ketika Jisoo sudah duduk di atas kasur membelakangi pintu, membuat Daeun mengikuti apa yang Jisoo lakukan, untuk waktu yang lama mereka diam, Daeun mencoba memikirkan harus mulai dari mana dia berbicara pada gadis disampingnya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.

“Katakanlah” Kini Jisoo akhirnya mengeluarkan suara setelah beberapa saat mereka diam, Daeun bahkan menatap Jisoo yang tengah menatap lapangan lewat jendela kaca didepannya – suara Jisoo terlihat sangat dingin, ini adalah pertama kalinya Daeun mendengar suara Jisoo yang dingin, jauh dari image nya yang selama ini Daeun lihat.

“Ji --- Kenapa kau putus dengan Sehun?” Tanya Daeun sedikit canggung sambil mencoba menatap mata Jisoo meskipun akhirnya dia kembali menatap lurus.

“Aku tidak ingin menjadi orang asing dianatara kau dan Sehun” Jawab Jisoo dengan suara normal sambil menyunggingkan senyumnya, masih enggan menatap Daeun.

“Sehun sangat mencintai mu Ji. Kau adalah gadis pertama yang….”

“Berhentilah mengatakan hal-hal gila seperti itu” Potong Jisoo sambil menatap Daeun “Sehun tidak pernah mencintaiku. Sehun mencintaimu, bukan aku” Ada jeda beberapa saat untuk Jisoo melanjutkan kalimatnya. “Dan kau juga mencintai Sehun” Dengan sakit Jisoo melanjutkan kalimatnya.

“Jangan bodoh. Sehun tidak pernah mencintaiku dan aku tidak pernah mencintainya” Sanggah Daeun menutupi rasa gugupnya sambil mencoba membalas tatapan Jisoo meski akhirnya dia kembali memalingkan wajahnya dari Jisoo.

“Benarkah? Aku wanita, sama sepertimu. Cara kalian memadang satu sama lain sudah berbeda. ---- Apa salahnya saling mengakui? . Apa kau yakin kau akan baik-baik saja jika Sehun bersama gadis lain?” Tanya Jisoo mulai sedikit emosi membuat mereka saling menatap dengan tajam “Sekarang mari kita bicara seperti teman. Anggap saja kau bicara dengan temanmu, bukan dengan Kim Jisoo mantan kekasih Sehun, laki-laki yang kau cintai. Aku akan mendengarkannya” Sambung Jisoo mencoba menahan emosinya.

“KIM JISOO!” Seru Daeun dengan nada suara yang naik beberapa oktav. “Kau……”

“Kau mungkin tidak tau seberapa besar cintaku untuk Sehun, aku bahkan tidak mengira jika aku akan mencintai Sehun sejauh ini” Jisoo terus berbicara, sekilas Jisoo menatap Daeun dengan senyum tipisnya “Kita bicara sebagai sahabat” Daeun terdiam dan Jisoo kembali menatap lurus. “Katakan saja aku gadis bodoh yang jatuh cinta pada pandangan pertama, anggap saja aku gadis bodoh menerima cinta seorang pria yang hanya menyukaiku, katakana saja aku gadis bodoh yang terus menempel pada pria yang tidak pernah mencintaku.” Sambung Jisoo dengan senyum tipisnya, mengingat betapa dia sangat mencintai Sehun. “Tapi sekarang aku sadar, aku bukan gadis bodoh, aku hanya gadis egois yang mengharapkan cinta dari pria yang telah memiliki cinta lain, aku sungguh merasa bersalah pada kalian. Maaf telah menjadi orang asing diantara kalian. Kau harus sadar jika kalian saling mencintai……”

“Kau bukan cenayang yang bisa memahami hati orang lain. Kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu dengan hanya melihatnya. Bukankah kau bilang kau sangat mencintai Sehun? Lalu kenapa kau melepaskannya? Sehun mencintaimu, kau tau Sehun bahkan mengunjungi rumahku malah hari, hanya untuk mengatakan jika kalian berpacaran, Sehun sangat bahagia dengan hubungan kalian. Lalu kenapa memutuskan hubungan kalian secara sepihak? Kau membuat laki-laki yang kau cintai terpuruk. Jika keberadaanku yang membuatmu memutuskan Sehun, aku akan pergi, aku akan…”

“Berhenti! Jangan memaksaku mengatakan hal yang tidak ingin aku katakana” Potong Jisoo sambil menutup kedua matanya – menahan emosi yang mungkin akan meledak, mencoba menahan kalimat-kalimat Daeun yang sekarang tengah berdiri didepannya.

“Oke mari kita bicara sebagai sahabat – selama itu bisa membuatmu kembali pada Sehun…… Yah kau benar aku mencintai Sehun, aku bahkan berharap kau gadis yang buruk sehingga aku memiliki alasan untuk merebut Sehun darimu, tapi aku tidak bisa, kau terlalu baik untuk aku sakiti tapi kau harus ingat Sehun hanya mencintaimu. Dia hanya menganggapku sebagai sahab….”

“Bisakah kalian berhenti membodohiku? Aku sungguh merasa menjadi gadis paling bodoh jika berada diantara kau dan Sehun” Potong Jisoo sambil menutup matanya – menahan air mata yang mungkin akan meluncur deras, dengan kasar Jisoo menarik nafasnya sebelum dia melanjutkan kalimatnya. “Semalam aku melihatmu berciuman dengan Sehun” Final, sebenarnya Jisoo sangat tidak ingin mengatakan kalimat itu – karna itu akan kembali mengingtkannya pada rasa sakit, tapi hanya kalimat itu yang bisa membuat Daeun diam, dan benar Daeun diam, tubuh Daeun bahkan mundur beberapa inch karna gemetar. “Terimakasih sudah jujur teman” sambung Jisoo dengan kaku lalu berdiri menghadap Daeun “Aku akan membukatikan kata-kataku – Sehun mencintaimu” Seru Jisoo sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Daeun.


Sedangkan Daeun masih berdiri mematung menatap kepergian Jisoo, Daeun menyesali semuanya, mersa mungkin lebih baik jika sejak awal Daeun bisa merelakan Jisoo dengan Sehun, tapi sekarang itu terasa percuma, ketika dia mendengar dari mulut Jisoo bahwa dia melihat ciuman itu – Daeun lalu menyeret kakinya menuju tempat tidur dan duduk diatasnya sambil menatap lurus meratapi kebodohannya.

“Maaf” satu kata yang keluar dari mulut Daeun dengan tatapan kosongnya.

****
Hari ini semua murid harus pulang hingga larut malam, tepatnya pukul 21:00 mereka baru saja keluar dari sekolah, tapi Sehun masih terus menunggu Jisoo di depan kelasnya, hingga gadis berambut panjang itu keluar dari pintu dan Sehun langsung menariknya.

‘Plak’ sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Sehun membuat bola mata Sehun melebar, dan ekspresi kaget dari wajah Jisoo karna dia menyadari jika SeulGi menampar Sehun.

“Karna Jisoo tidak bisa menamparmu. Aku yang mewakilinya” Seru SeulGi sinis dengan tatapan membunhunya.

“Terimakasih” Timpal Sehun membalas tatapan sinis dari SeulGi lalu membawa Jisoo menjauh dari SeulGi. – mengabaikan suara Seulgi yang terus menenriakan nama Jisoo. Tapi ketika Sehun dan Jisoo berada di depan pagar sekolah langkah kaki Jisoo terhenti membuat Sehun menghentikan langkah kakinya dan menatap Jisoo. “Aku mohon, sebentar saja” Sehun memohon membuat Jisoo kembali mengkuti langkah kaki Sehun, Jisoo tidak percaya pada dirinya sendiri bagimana bisa dia begitu mencintai pria disampingnya ini.

Langit hitam pekat dan hembusan angin sukses membuat suasana menjadi semakin dingin, Sehun dan Jisoo terus saling memandang mengabaikan suara-suara orang lalu lalang di sungai Han yang tengah mereka kunjungi, jika suasana hati mereka baik mungkin mereka akan menganggap ini sebagai kencan romantic, tapi sekarang berbeda, bahkan sekarang untuk pertama kalinya Sehun melihat Jisoo yang menatapnya dengan tatapan dingin, seperti sedang menahan emosi, untuk waktu yang lama Sehun dan Jisoo duduk di ayunan saling memandang – hanya terdengar gesekan besi yang dihasilkan dari besi ayunan itu.

“Apa lagi?” Tanya Jisoo lemah, Jisoo ingin sekali marah pada pria didepannya, tapi dia tidak bisa marah pada pria yang dia cintai, ini sangat menyiksa Jisoo ketika dia harus membenci sekaligus mencintai pada pria yang sama.

“Tatapanmu terlihat berbeda Ji” Balas Sehun dengan tatapan lurus menusuk mata Jisoo.

“Aku tau ini bukan inti pembicaraan kita” Timpal Jisoo dingin.

Sehun menarik kasar nafasnya sebelum akhirnya berbicara. “Aku tau aku salah. Tapi kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja” Balas Sehun pasti - mencoba tenang.

“Kenapa?” Jisoo kembali bertanya dengan lemah dan dingin.

“Aku kekasihmu” Jawab Sehun pasti.

“Tidak lagi” Timpal Jisoo lebih dingin dari yang dia bayangkan.

“Bagaimana bisa kau seperti ini padaku?” Tanya Sehun dengan nada suara naik beberapa oktav.

“Aku seperti apa? Aku sudah melewati semuanya Sehun, aku terima kau mengabaikanku, aku terima ketika kencan pertama kita aku harus mendengarkan ceritamu tentang Daeun, aku terima kau membentakku didepan hampir semua siswa demi Daeun, tapi ketika kau mencium bibir gadis lain aku…..”

Belum sempat Jisoo melanjutkan kalimatnya Sehun sudah menarik lengan Jisoo lalu mencium bibir Jisoo, beberapa saat bola mata Jisoo membulat karna kaget hingga akhirnya Jisoo mendorong tubuh Sehun menjauh dari tubuhnya – Jisoo lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangannya,- Jisoo meninggalkan ayunan, tubuhnya bergetar airmatanya bahkan perlahan turun.

“Bagaimana bisa kau mencium gadis yang tidak kau cintai?” Tanya Jisoo dengan air mata yang mulai jatuh. “Jangan seperti ini Sehun, aku mohon” Sambung Jisoo dengan suara yang terdengar seperi sebuah permohonan , langkah kaki Jisoo mundur beberapa langkah karna Sehun mencoba maju mendekatinya.

“Aku mencintaimu Ji” Seru Sehun sambil menghentikan langkah kakinya.

“Terimakasih, meski aku tau kau tidak sungguh-sungguh mengatakannya” Balas Jisoo mencoba untuk tersenyum pada pria di depannya. “Ayo kita perjelas. Besok aku akan menunggumu disini, tapi di saat yang sama kau harus memilih, menemuiku disini atau menemui Daeun di bandara” Sambung Jisoo membuat mata Sehun membulat kaget.

“B.bb..Bandara?” Tanya Sehun kaku.

“Daeun bilang dia akan pergi ke Jepang asal aku kembali padamu” Balas Jisoo sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Sehun begitu saja.

“Aku sungguh mencintaimu Sehun. Sungguh” gumam Jisoo ketika dia berjalan meninggalkan Sehun bersama airmata yang terus turun dari kedua bola matanya.
*****************************************
Daeun tengah mengepak beberapa pakaian kedalam koper dengan handphone yang terus menempel ditelingannya dengan ibunya yang terus mengoceh disebrang sana.

“Cepat, kita bisa ketinggalan pesawat” Protes ibunya dengan tergesa-gesa.

“Ia ibu, sebentar lagi. Aku sudah memesan taksi” Jawab Daeun kesal – masih memasukan baju-baju di depannya.

“Minta antar pada Sehun agar kau cepat sampai” Perintah ibunya membuat aktifitas Daeun terhenti bebrapa saat “Yah, Jung Daeun. Cepat!” perintah ibunya semakin kesal membuat Daeun tersadar dari lamunannya.

“Se Sehun sedang sibuk. Aku tidak bisa mengganggunya” Jawab Daeun mencoba berbicara senormal mungkin.

“Aist, sudahlah. Cepat ibu tidak mau ketinggalan pesawat karna mu” Seru ibu Daeun dengan kesal lalu mematikan panggilan teleponnnya.

“Aist, bagaimana bisa ibu hanya membawa passport ketika dia akan berlibur” Gerut Daeun frustasi, mencoba mengabaikan Sehun yang terus mencoba muncul kedalam otaknya.
******************

Sekarang jam sudah meunjukan pukul 20:00 tapi Sehun masih terjebak macet bersama mobil merahnya.

“Tunggu, sebentar lagi. Aku mohon tunggu aku” Gerut Sehun sambil memukul-mukul stir mobilnya dengan mata yang terus menatap kedepan dengan puluhan antrian mobil didepannya.

*******************************************

Jisoo masi duduk di kursi yang berada di sungai Han meski jam sudah menunjukan pukul 23:41, setidaknya Jisoo bersyukur malam ini sungai Han dipadati puluhan pengunjung karna kebetulan akan ada pesta kembang api malam ini di Han. 
Jisoo membalikan tubuhnya ketika dia merasa hangat dibagian punggungnya, Jisoo kemudian melihat jaket merah sudah membungkus tubuhnya, Jisoo menoleh ke kiri sambil tersenyum pada pria yang sekarang sudah bergabung duduk disampingnya.

“Aku harap kau tidak kecewa karna aku yang datang” Seru Luhan mengikuti pandangan Jisoo yang tengah menatap sungai Han. “Sehun memintaku menemuimu. Dia sebenarnya sudah mengatakan akan menemuimu, tapi aku rasa dia berubah fikiran di tengah jalan, dia menyesal tidak bisa menemuimu” Sambung Luhan, mengingat bagaimana Sehun bersemangat menemui Jisoo tapi beberapa menit kemudian Sehun menelpon Luhan untuk menemui Jisoo di sungai Han. “Hyung, kau benar mencintai Jisoo? Jika ia, temui dia di Han. Katakana padanya aku menyesal tidak bisa menemuinya” – itu hanya sebagian kalimat Sehun ketika Sehun menghubungi Luhan.

“Aku bahkan tidak berharap Sehun akan datang” Balas Jisoo dengan senyum tipisnya, masih enggan mengalihkan pandangannya. 

“Lalu kenapa kau tetap disini? Kau harus tau, jika kau benar-benar gadis keras kepala” Timpal Luhan sambil mengacak-acak rambut Jisoo.

“Senior” Protes Jisoo sambil menatap Luhan tajam dan merapihkan rambutnya tapi Luhan hanya menanggapinya dengan segaris kurva senyum di bibirnya “Aku hanya ingin memastikan. Apa aku harus menunggu Sehun lagi atau benar-benar melepasannya. Dan aku rasa aku sudah punya jawabannya, meski aku tidak yakin…” Sambung Jisoo dengan senyum pahit. “Tapi terimakasih sudah menemuiku disini” Seru Jisoo sambil tersenyum tulus pada Luhan.

“Aisst, bagaimana jika aku tidak datang?” Gerut Luhan sambil menatap Jisoo, mencoba untuk tidak menanyakan hal-hal yang mungkin akan merusak suasana – tidak menanyakan hal-hal tentang Sehun dan Daeun.

“Senior datang, dan ada disampingku sekarang” Balas Jisoo sambil menaruh dagunya di lutut yang dia tekuk.

“Kau benar-benar…….. Berhenti memanggilku Senior. Panggil aku oppa” Perintah Luhan – lagi-lagi mengacak-acak rambut Jisoo membuat Jisoo kembali menunjukan wajah kesalnya pada Luhan.

“Tidak akan pernah” Tolak Jisoo pasti.

“Kau….”

“Woaa, itu kembang apinya” Seru Jisoo bangkit dan meloncat-loncat ketika dia melihat puluhan kembang api yang menghiasi langit – tanpa Jisoo sadarai dia melingkarkan tangannya di leher Luhan membuat Luhan kaku, Jisoo memang bukan gadis pertama yang melakukannya tapi Jisoo gadis pertama yang membuat Luhan menegang hanya karna sentuhan-sentuhan sederhana seperti itu.

“Kau terlihat lebih cantik ketika kau tersenyum Kim Jisoo” Seru Luhan dengan senyum tipisnya membuat Jisoo berhenti meloncat-loncat lalu menatap Luhan dengan tangan yang masih melingkar di bahu Luhan.

“Aku selalu terlihat cantik” Seru Jisoo bangga dengan senyumnya membuat Luhan dengan otomatis tersenyum.

**************************************

Sehun terus menelpon Daeun tapi Daeun belum juga mengangkat panggilannya satupun. Hingga panggilan ke 35 akhirnya Daeun mengangkat telponnya.

“Apa?” Tanya Daeun ketus.

“Lama sekali kau mengangkat telponku” gerut Sehun mulai kesal.

“Aku sedang sibuk Oh Sehun. Akan aku hubungi lagi nanti, aku harus kebandara” Seru Daeun disusul dengan putusnya sambungan telpon mereka. Dengan cemas Sehun langusng memutar balik stir kemudinya dan mengunjungi Rumah Daeun, disana Sehun melihat Daeun tengah mengangkat Koper kedalam bagasi taksi.

“Jangan pergi” Perintah Sehun sambil menarik lengan Daeun.

“Apa yang kau lakukan? Aku harus pergi. Aku bisa dibunuh jika ketinggalan pesawat” Gerut Daeun masih mencoba masuk kedalam taksi.

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Jung Daeun” Seru Sehun mulai cemas tapi itu sukses membuat Daeun terdiam beberapa saat.

“Jangan bercanda denganku” Timpal Daeun kaku.

“Aist. Bagaimana aku harus meyakinkanmu? Aku mencintaimu sungguh” Tanya Sehun frustasi, membuat Daeun tertawa.

“Aku mencintaimu” Seru Daeun ditengah tawanya membuat Sehun terdiam dan menatap Sehun. “Tapi aku harus tetap pergi. Kita bicara lagi nanti” Sambung Daeun, tapi Sehun langsung menggenggam lengan Jisoo. Tidak, Sehun tidak ingin kehilangan cintanya, tidak sekarang ataupun nanti. “Jika begitu kau antar aku saja, aku dalam masalah jika aku terlambat” Kini Daeun berjalan memasuki mobil Sehun setelah sebelumnya menyuruh supir taksi mengantarkan tasnya ke Airport.

“Jangan pergi ke Jepang. Bukankah aku sudah bilang aku mencintaimu?” Seru Sehun tidak bermagsud bertanya, ketika mereka sedang berada di tengah perjalanan.

“Jepang?” Tanya Daeun heran disusul dengan anggukan Sehun. “Siapa yang mengatakan aku akan ke Jepang?” Tanya Daeun semakin heran.

“Jisoo, dia bilang kau akan ke Jepang dan aku akan kehilanganmu” Jawab Sehun dengan tangan kanan yang terus menggenggam lengan Daeun.

“Bagaimana dengan Jisoo?” Tanya Daeun sedikit merasa bersalah pada gadis itu.

“Dia mengatakan jika aku mencintaimu, dan seharusnya aku berada bersamamu bukan dengannya. Bagaimana bisa aku menyadari jika aku mencintaimu dari gadis yang mencintaiku. Ini terlihat bodoh” Jawab Sehun sambil tersenyum tipis dan merasa buruk untuk Jisoo.

“Jisoo benar-benar gadis yang baik dan bodoh. Aku tidak percaya ini, Jisoo dan aku mencintai laki-laki sepertimu?” Seru Daeun sambil menatap Sehun dengan dahi mengkerut.


“Yah. Aku tampan” Bela Sehun, membuat dahi Daeun semakin mengkerut tidak percaya. “Tapi, apa benar kau akan tetap ke Jepang?” Tanya Sehun cemas.

“Tidak akan ada yang ke Jepang. Aku hanya akan mengantarkan koper ini kebandara, karna ayah dan ibu akan berlibur sekaligus mengunjungi bibi di Jeju” Jawab Daeun dengan senyuman aneh membuat Sehun membulatkan matanya.

“Oh Tuhan, aku dibodohi oleh Jisoo? Aku tidak percaya ini” Gerut Sehun. “Tapi jika Jisoo tidak melakukan ini, mungkin aku tidak akan menyadari jika aku mencintaimu” Sambung Sehun dengan senyum tipisnya.

“Kita harus berterimakasih dan meminta maaf pada Jisoo” usul Daeun dengan senyumnya.

“Tentu” Balas Sehun lalu mencium punggung tangan Daeun. “I Love You” Sambung Sehun dengan senyum lebarnya.

“I Love You too” Balas Daeun dengan raut wajah bahagia.

******************************************
Luhan dan Jisoo tengah berjalan menuju apartment Jisoo, Luhan terus berada disamping Jisoo dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya, tidak ada suara diantara mereka, tapi Luhan tetap menikmati dan menyukai suasana seperti ini, tanpa pegangan tangan, tanpa suara, tanpa rangkulan, hanya suara langkah kaki yang sekarang terasa terdengar lebih jelas dari biasanya – bedua dengan Jisoo, gadis yang dia cintai untuk pertamakalinya di hidupnya.

“Terimakasih senior” Seru Jisoo ketika mereka sudah sampai didepan pintu kamar apartment Jisoo.

“Oppa, panggil aku oppa” Protes Sehun tapi hanya menghasilkan gelengan kepala dari Jisoo.

“Hati-hati berkendara, ini sudah hampir pagi” Jisoo mencoba mengingatkan sebelum dia memasuki kamarnya, Jisoo baru saja membuka knop pintu kamarnya tapi tapi Luhan langusng menarik Jisoo kedalam pelukannya “Senior..” Seru Jisoo lemah tanpa berusaha melepaskan pelukan Luhan tapi tidak juga merespon pelukan Luhan.

“Aku tidak tau harus mulai dari mana, aku sungguh buka laki-laki yang baik dalam merangkai kata, aku hanya ingin mengatakan jika aku mencintaimu Ji. Aku sudah mencintaimu meski saat itu kau masih kekasih adikku, aku mungkin sudah mencintaimu sebelum kau dan Sehun berpacaran. Ini mungkin terdengar seperti cerita drama, tapi aku benar-benar mencintaimu” Seru Luhan tulus, untuk beberapa alasan mereka tidak merubah posisinya, dengan Luhan yang memeluk Jisoo tanpa sambutan dari Jisoo. Hanya satu yang ada dalam pikiran Jisoo ‘Ini terlalu tiba-tiba’, Jisoo bahkan tidak tau harus melakukan apa sekarang – untuk saat ini mungkin teralalu cepat jika dia harus melupakan Sehun, dan terlalu aneh jika dia harus berpacaran dengan kakak dari manatang kekasihnya – lalu dengan perlahan Luhan melepaskan pelukannya, Luhan terus memegang pundak Jisoo sambil menatap Jisoo yang tengah menatapnya dengan tatapan aneh. 

“Senior…….” Seru Jisoo menatap Luhan intens - kalimatnya menggantung karna ini terlalu mendadak untuknya sehingga membuat Jisoo kaget dan tidak bisa mengatakan apa-apa pada pria didepannya.

“Boleh aku melakukann hal yang sama sepertimu?” Tanya Luhan membuat dahi Jisoo berkerut. “Minggu depan aku akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan sekolah disana. Aku akan menunggumu dibandara” Sambung Luhan dengan perlahan melepaskan lengannya dari bahu Jisoo, lalu berjalan meninggalkan Jisoo – Jisoo teridam untuk waktu yang lama sambil menatap kepergian Luhan yang kini semakin menghilang dari pandangannya.

“SENIOR!!” Teriak Jisoo ketika melihat Luhan mencoba memasuki mobil merahnya – membuat Luhan mengurungkan niatnya dan menatap Jisoo. “Maaf. Tapi aku tidak akan datang” Sesal Jisoo.

“Aku akan tetap menunggumu” Balas Luhan dengan senyum tipisnya lalu kembali memasuki mobilnya dan meninggalkan Jisoo.

**********************************************
Hari ini tepat satu minggu semenjak kejadian itu berlalu, hari ini juga tepat hari dimana Luhan akan pergi ke Amerika, tapi Jisoo masih duduk menikmati Ice Cream-nya bersama SeulGi dan Zelo. Tidak, tepatnya Jisoo hanya menikmati bagaimana dia mengaduk-aduk ice creamnya dengan pikirannya yang terus melayang.

“Kau kenapa?” Tanya SeulGi menyadari jika Jisoo sedang gelisah.

“Aku pergi duluan. Zelo bayar tagihan ice creamku oke. Terimakasih, bye” Seru Jisoo tanpa menunggu persetujuan kedua sahabatnya dan meninggalkan mereka bergitu saja bersama mobil hitamnya.

“Kenapa dengan dia?” Tanya Zelo penasaran melihat Jisoo yang pergi begitu saja.

“Haha. Dia sudah move on. Aku rasa dia sudah memilih keputusan yang tepat”Balas Seulgi dengan senyum bangganya.

“Magdusu? Jisoo akan menerima Luhan senior?” Tanya Zelo mengetahui jika sekarang adalah hari dimana Jisoo harus memilih antara menerima Luhan atau tetap hidup dalam bayangan Sehun.

“Aku harap begitu” Timpal Seulgi masih dengan senyumnya lalu menyandarkan kepalanya di pundak Zelo membuat Zelo tersenyum pada kekasihnya itu sambil mengelus rambut Seulgi lembut.

*******
Jisoo memacu mobilnya lebih cepat dari biasanya, dia bahkan memukul-mukul kemudi mobilnya dengan tergesah-gesah ketika dia melihat puluhan mobil berjajar didepannya dan tidak maju satu meterpun, mata Jisoo terus menjelajah jalanan berharap dia menemukan jalan pintas, tapi percuma sekarang adalah jam istirahat dan ada banyak orang yang keluar dari puluhan gedung pencakar langit yang menghiasai setiap sudut kota Seoul. 

“Aist, sejak kapan Seoul menjadi sangat macet” Gerut Jisoo ketika dia melihat puluhan antrian mobil di depannya. Jisoo terus memacu kendaraannya dengan kecepatan yang bahkan belum pernah dia bayangkan jika dia bisa mengendarai mobil dengan kecepatan seperti itu, tapi setidaknya Jisoo bersyukur dia tidak mengalami kecelakaan maut siang ini, setelah Jisoo sampai di airport Jisoo langsung mengelilingi airport dengan langkah cepat dan tergesah-gesah. “Dimana” Gumam Jisoo sambil menatap ke setiap sudut bandara, Jisoo terus berlari hingga dia melihat sosok tak asing yang tengah duduk menunduk sambil memegang passport, - dengan perlahan Jisoo menghampirinya dan duduk disamping Luhan, - untuk beberapa saat Jisoo mencoba menstabilkan nafasnya, dengan Luhan yang masih belum menyadari keberadaan Jisoo disampingnya.

“Oppa” Seru Jisoo sukses membuat Luhan mengalihkan pandannggannya pada Jisoo, Jisoo tersenyum, ketika dia melihat Luhan menatapnya dengan ekspresi wajah kaget. “Bukankah sudah aku bilang jika aku tidak akan datang” Sambung Jisoo mengingat pesan Luhan pagi ini –Aku akan menunggumu-.

“Kau datang” Timpal Luhan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

“Hmm,,,,” ada jeda beberapa saat untuk Jisoo melanjutkan kalimatnya – Jisoo manarik nafas dengan kasar seblum akhirnya dia membuka mulutnya kembali “Oppa, aku tidak percaya kau dapat beasiswa sekolah di Amerika. Itu tidak terlihat sepertimu” Cibir Jisoo membuat Luhan memukul kepala Jisoo lembut. “Aist, berhenti menyentuh kepalaku” Protes Jisoo sambil mengelus kepalanya.

“Yah, aku Luhan siswa pintar dan tampan dan popular dan baik hati” Balas Luhan bangga membuat Jisoo mengerutkan keningnya tidak percaya. Lalu untuk beberapa saat mereka kembali terdiam karna tidak tau harus mengatakan apa, Jisoo terus memain-mainkan jemari-jemarinya sedangkan Luhan masih terus memegang passport nya dengan acak.

“Oppa” Jisoo mencoba memulai pembicaraan setelah dia meyakinkan dirinya dengan apa yang akan dia ucapakan pada pria disampingnya, membuat Luhan mengalihkan pandangannya dan terus menatap Jisoo – menghentikan aktifitasnya memain-mainkan passport yang ada di tangannya.

“Huh” Seru Luhan sambil menatap Jisoo intens.

“Maaf, tapi aku tidak bisa” Sesal Jisoo membuat senyum Luhan perlahan memudar dan berubah menjadi senyum rasa sakit, - Luhan tau magsud Jisoo, sangat mengetahuinya.

“Kau masih mencintainya?” Luhan bertanya meski dia sudah tau jawabannya. “Kau gadis bodoh” Sambung Luhan nanar ketika dia melihat Jisoo mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“Oppa. Kau jangan mencintai gadis bodoh sepertiku, gadis yang hanya bisa mencintai satu pria, meski dia tau dia tidak akan pernah mendapatkan hatinya. Kau akan melupakanku disana” Seru Jisoo sambil menggenggam jemari Luhan, Jisoo bahkan mencoba untuk tersenyum pada pria di depannya, meski Luhan hanya membalasnya dengan senyum yang terlihat canggung.

“Kau tau. Mungkin aku akan terus menunggumu” Seru Luhan mencoba menyembunyikan kesedihannya – meski dia tahu, dia jelas gagal melakukannya.

“Yahh, jangan seperti itu. Kau pasti akan….”

“Aku harus pergi” Potong Luhan, enggan mendengar penolakan lagi dari mulut Jisoo. Luhan bangkit dari kursinya mencoba meninggalkan Jisoo, tapi Jisoo menahan lengan Luhan dan ikut bangkit dari kursinya untuk menatap Luhan.

Untuk beberapa saat mereka diam saling memandang satu sama lain, Jisoo lalu mendekatkan tubuhnya dan mencium pipi kanan Luhan sambil memegang kedua lengan Luhan. “Jangan menunggu gadis sepertiku”Perintah Jisoo dengan lembut “Kau hanya perlu melupakanku” sambung Jisoo masih menggenggam kedua lengan Luhan.

“Itu akan sulit. Aku rasa kau tahu perasaanku sekarang. Melupakan seseorang yang berharga bukan hal yang mudah” Luhan mencoba menolak dengan lembut, Luhan bahkan masih mencoba untuk tersenyum pada gadis didepannya.

“Yah aku tau. Tapi bukankah oppa adalah pria yang pintar dan tampan? Kau punya segalanya untuk merebut hati setiap gadis….”

“Apa itu pengecualian untukkmu? Apa aku tidak bisa merebut hatimu dari Sehun?” Luhan bertanya dengan memotong kalimat Jisoo, membuat Jisoo terdiam menatap Luhan.

“Pergilah. Pesawatmu akan terbang” Perintah Jisoo mencoba menghindari pertanyaan Luhan sambil mendorong Luhan tapi Luhan tidak bergeming sedikitpun, Luhan malah memegang lengan Jisoo lalu menarik Jisoo dan mencium bibir tipis Jisoo, membuat Jisoo membeku – untuk waktu yang cukup lama mereka mengabaikan orang-orang yang melihat mereka dengan ekspresi aneh, hingga akhirnya Luhan melepaskan ciumannya dengan Jisoo yang masih mematung.

“Aku pergi. Jaga dirimu. Akan aku pastikan ketika aku kembali aku masih memiliki perasaan yang sama, dan kau dengan perasaan yang berbeda – kau harus menerimaku nanti” Seru Luhan dengan yakin sebelum dia melangkahkan kakinya meninggalkan Jisoo yang masih membeku. 

“Maaf oppa” Gumam Jisoo ketika dia melihat Luhan tengah melambaikan tangannya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. “Aku harap aku bisa” Sambung Jisoo sebelum dia membalikan tubuhnya dan meninggalkan airport.

************************************************

Satu bulan berlalu, Jisoo, Daeun dan Sehun menjadi sahabat baik meski awalnya itu sangat sulit untuk Jisoo, tapi dia mencoba mengatasainya dengan baik, meski itu berarti dia harus mendengarkan ceramah setiap hari dari Seulgi.

Sekarang adalah tahun ajaran baru setelah mereka libur panjang, Sehun dan Daeun menjadi pasangan yang bahagia meski terkadang mereka selalu bertengkar karna hal-hal konyol.

“SeulGi. Bukankah besok ulang tahun Jisoo? Bagaimana jika kita memberinya kejutan nanti malam?” Tanya Daeun antusias ketika Daeun dan Sehun bertemu dengan SeulGi yang tengah makan di kantin bersama Zelo.

“Jisoo pergi ke Amerika kemarin” Jawab SeulGi sambil mendorong makannanya emnjauh dari lengannya, karna mulai kehilangan nafsu untuk melanjutkan makannanya.

“Kenapa dia tidak memberi tahu kami?” Tanya Sehun kaget.

“Dia mendadak pergi, karna ibunya ingin dia tinggal di Amerika bersama mereka” Jawab SeulGi merasa canggung mengatakannya, karna itu bukan alasan Jisoo yang sebenarnya. “Kami pergi” Sambung Seulgi meninggalkan Daeun dan Sehun sambil menarik lengan Zelo pergi.

“Kami pergi duluan” Seru Zelo menepuk pundak Sehun sebelum mereka pergi.

Sehun dan Daeun terdiam mendengar kabar kepergian Jisoo ke Amerika tanpa memberitahu salah-satu dari mereka, mereka bahkan masih ingat beberapa minggu yang lalu mereka baru saja berlibur bersama di Jeju tapi sekarang mereka mendengar kabar Jisoo pergi ke Amerika dari mulut orang lain.

–Aku akan meninggalkan Korea dan tinggal bersama kedua orang tuaku di Amerika. Karna jika aku tetap berada disini, aku tidak yakin jika aku bisa melupakan Sehun.- itu adalah alasan Jisoo sebenarnya, Jisoo sebenarnya enggan tinggal bersama kedua orang tuanya, karna mereka memang tidak memiliki hubungan yang baik terutama karna Jisoo tidak bisa menerima keadaan keluarnganya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Jisoo bahkan bertaruh jika kedua orang tuanya pasti tidak ingat hari ulang tahunnya, makanana kesuakaannya atau bahkan warna kesuakaannya, karna sejak lahir Jisoo memang hanya di asuh oleh pengasuh, Jisoo bahkan hanya memiliki SeulGi di hidupnya dan itu hanya berlangsung dua tahun belakangan. Jisoo juga mengatakan rencana kepergiannya satu hari sebelum keberangkatannya, SeulGi sudah mencoba mencegahnya, tapi percuma – Jisoo benar-benar gadis keras kepala.

-FINE-

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images