Fanfiction
Series
You never love me...- (6)
Cast : Luhan, Oh Sehun, Kim Jisoo, Jung Daeun.
Gendre : tentukan sendiri.
Rate: 15+
'
'
'
'
'
Don't be silent reading and please leave you're coment
Sorry if my ff so boring, Happy reading
‘
‘
‘
“Aku tau kau sangat mencintainya. Tapi terkadang ketika kita mencintai kita juga harus menggunakan logika kita. Semuanya akan sia-sia jika yang berjuang hanya satu orang” Potong Luhan sambil menggenggam lembut lengan Jisoo yang tidak terluka. “Sehun mungkin akan terus memgang gelar cinta pertamamu, tapi kau juga harus ingat – hatimu tidak bisa bertahan terlalu lama. Semua ada batasnya Ji” Sambung Luhan sambil memegang kedua bahu Jisoo dan menatap kedua bola mata gadis itu dengan lembut – tidak terlalu lama, karna Luhan tidak bisa melihatnya terlalu lama.
**************************
Luhan tengah menunggu kedatangan Sehun diruang TV, hingga akhirnya adik laki-lakinya itu sampai tepat ketika jarum jam melewati angka 8.
“Darimana saja kau?” Tanya Luhan ketus disusul Sehun yang duduk di samping Luhan.
“Di rumah Daeun hyung” Jawab Sehun lalu mengambil segelas coklat hangat yang ada di depan Luhan, Sehun bahkan tidak menyadari aura membunuh dari wajah Luhan.
“Kau tidak menyesal dengan perbuatanmu pada Jisoo?” Tanya Luhan membuat Sehun ingat apa yang terjadi siang ini di sekolah, itu benar-benar di luar kendalinya, emosinya memuncak begitu saja hanya karna melihat kuah ramen tumpah di sepatu Daeun. “Aku memang dikenal playboy diisekolah. Tapi sekalipun aku tidak pernah memperlakukan wanitaku seperti itu. Itu sangat kasar dongsaeng. – aku rasa Jisoo terlalu baik untukmu dia sangat mencintaimu dan kau tidak pernah mencintainya” sambung Luhan membuat suasana menjadi serius.
“Aku menyesal hyung. Dia benar-benar baik, itulah kenapa aku memilihnya menjadi kekasihku. Aku hanya takut jika Daeun terluka. Aku akan meminta maaf dan mencoba memperlakukannya lebih baik lagi” sesal Sehun sambil menundukan kepalanya.
“Tapi bukan berarti kau bisa memanfaatkan kebaikannya. Kau harus ingat dia adalah wanita, tak seharusnya kau membentaknya di depan seluruh penghuni kantin” Luhan mencoba menjelaskan dengan kepala dingin meski dia ingin sekali memukul adiknya ini “Aku rasa, aku mencintai kekasihmu dongsaeng” Sambung Luhan berhasil membuat Sehun menatap Luhan kaget.
“Hyung…”
“Dia pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik darimu” timpal Luhan bangkit dari kursinya.
“Dan hyung pikir, laki-laki itu hyung?” Tanya Sehun sedikit sinis.
“Setidaknya aku bisa memperlakukan Jisoo jauh lebih baik darimu” Balas Luhan sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Sehun.
**************************
“Aku harap senior tidak akan mengantar Jisoo dan mengikuti perbuatan gilanya” Seulgi mencoba memperingatkan Luhan, ketika mereka sedang berkumpul di kantin, tanpa Sehun dan Daeun tentunya.
“Ayolah senior. Sehun sudah meminta maaf padaku semalam. Senior hanya perlu mengantarku kerumah Daeun, agar aku bisa meminta maaf” Bujuk Jisoo mencoba meyakinkan Luhan.
“Kenapa kau yang harus meminta maaf pada gadis itu? Kau tidak salah sedikitpun Ji” Timpal Seulgi mulai kesal.
“Seulgi, meminta maaf tidak akan membuatmu mati” Balas Jisoo menatap Seulgi, Jisoo bahkan tidak menyadari jika Luhan terus menatapnya. Luhan tidak percaya ada gadis seperti Jisoo didunia ini, Jisoo terlalu keras kepala.
“Baiklah aku akan mengantarmu” akhirnya Luhan menyerah “Aku akan mengantarmu” Ulang Luhan ketika dia melihat Jisoo menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Waa. Terimakasih senior” Seru Jisoo bahagia sambil memeluk Seulgi yang berada disampingnya.
**************************
Sehun dan Daeun tengah mengobrol di ruang TV rumah Daeun, Sehun baru saja sampai beberapa waktu yang lalu karna Sehun merasa bosan ketika mendapati Luhan dan kedua orang tuanyan tidak berada dirumah.
“Hhaha. Liat fotomu yang itu, kau sangat kurus. Aku tidak menyangka di Korea ada penduduk yang terkena gizi buruk” Seru Daeun ketika dia membuka album sekolah mereka.
“setidaknya aku mempunyai tubuh tinggi, tidak sepertimu yang memiliki tubuh yang hanya beberapa jengkal” Timpal Sehun membela harga dirinya “Ah aku tau fotomu yang paling memalukan ketika kita di TK” Sambung Luhan bangga dan itu membuat Daeun cemas, Daeun lalu menyembunyikan album itu kebelakang tubuhnya.
“Yaaah. Kembalikan album itu. Kita harus melihat fotomu” Teriak Sehun sambil mencondongkan tubuhnya kedepan tubuh Daeun, tapi Daeun tidak menyerah dan semakin merendahkan tubuhnya hingga Sehun berada diatas tubuhnya – entah kenapa sesuatu yang aneh merasuki pikiran mereka, Sehun terus mempersempit jarak mereka dan Daeun menutup matanya, hingga akhirnya kedua bibir mereka bertemu, ini memang terlalu gila, tapi mereka cukup menikmati perbuatan mereka hingga mereka tidak menyadari dua pasang mata memandang mereka lewat celah jendela rumah Daeun, kejadian itu cukup cepat, sangat cepat, Jisoo lari menembus derasnya hujan dengan Luhan yang menyusulnya dari belakang.
“Aku akan mengantarmu pulang, ayo naik mobil” Perintah Luhan ketika Jisoo terjatuh di depan pagar rumah Daeun.
“Terimakasih sudah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri” Tolak Jisoo mencoba bangkit dengan bantuan Luhan.
“Aku bilang aku akan mengantarmu. Untuk kali ini jangan keras kepala” Perintah Luhan mencoba mengontrol kekesalannya, tapi Jisoo terus mempercepat langkah kakinya hingga akhirnya Luhan memeluk Jisoo dari belakang membuat langkah Jisoo terhenti “Aku mohon. Sekali ini saja, dengarkan aku” Bisik Luhan lemah.
“Aku baik-baik saja senior” Balas Jisoo menahan airmatanya.
“Aku tidak” Timpal Luhan semakin lemah nyaris terdengar seperti permohonanan, Luhan lalu memutar tubuh Jisoo dan mendekapnya dengan erat “Aku tidak Ji” Sekali lagi saura Lsuhan semakin lemah dan lembut hingga membuat Jisoo menurut pada Luhan.
Luhan memacu mobilnya meninggalkan tempat Daeun dengan Jisoo disampingnya yang terus menatap lurus dengan pandangan kosong dan kedua lengannya terus saling mengggenggam – bergetar menahan emosinya.
“Masuklah. Setidaknya senior harus mengganti pakaian dulu agar tidak sakit” Seru Jisoo ketika mereka sampai di depan pintu kamar apartment Jisoo.
“Ini sudah larut. Keluargamu pasti…”
“Tidak ada siapa-siapa disini. Aku hanya sendiri” Potong Jisoo sambil membuka pintu kamar apartmentnya, disusul dengan Luhan mengikutinya dari belakang, ketika Jisoo masuk kedalam kamarnya, Luhan menatap sekeliling rumah Jisoo, tidak ada foto keluarga ataupun semacamnya, hanya ada foto Jisoo, ruangan mewah namun terlihat sangat sepi.
“Pakai ini” Seru Jisoo sambil menaruh celana training sekolahnya dan kaos putih polos ketika dia keluar dari kamarnya dengan baju tidur lengan dan baju panjang putihnya, Jisoo lalu berjalan kedapur yang tidak jauh dari tempatnya semula untuk membuat teh hangat.
“Terimakasih senior” Seru Jisoo sambil menaruh segelas teh hangat diatas meja lalu duduk dengan tatapan kosong lagi, mencoba meyakinkan dirinya jika yang dia lihat beberapa waktu yang lalu hanya ilusi, tapi percuma semakin keras dia berusaha maka semakin nyata kejadian itu terlihat dan entah sudah berapa puluh kali Jisoo menggelengkan kepalanya mencoba menghapus moment Daeun dan Sehun yang dia lihat tadi.
“Ji” Seru Luhan yang kini sudah berlutut di depan Jisoo sambil menggenggam lengan Jisoo yang tengah Jisoo kepal diatas kakinya.
“Senior…. Kenapa rasanya sakit sekali?” Tanya Jisoo dengan tersendu-sendu karna rasa sakitnya yang tidak bisa dia bendung – kekasihnya berciuman dengan gadis lain di depan matanya, sebuah adegan yang tidak pernah Jisoo bayangkan sebelumnya. “Aku merasa seperti akan mati. Aku harus bagaimana?” Sambung Jisoo mengangkat kepalanya untuk bertanya pada Luhan yang sudah berdiri didepannya. Luhan menatap Jisoo yang tengah menangis tersedu-sedu, airmatanya bahkan terus mengalir dari kedua bola matanya. Luhan akhirnya duduk disamping Jisoo dan menarik wajah Jisoo kedalam pelukannya.
“Menangislah. Tapi setelah ini kau tidak boleh menangis lagi hanya karna mereka” Perintah Luhan lembut sambil mengelus bagian belakang kepala Jisoo.
**************************
Luhan memasuki rumahnya tepat pukul 00:15 tepat ketika Sehun mengambil segelas air mineral di dapur.
“Hyung, darimana saja? Untung ayah dan ibu tidak ada dirumah, jika mereka ada kau pasti sudah di hukum” Seru Sehun melihat kakaknya yang baru saja pulang, tapi Luhan mengabaikan Sehun begitu saja dan berjalan menyusuri anak tangga rumahnya. “Hyung..” Sekali lagi Sehun memanggil Luhan, tapi Luhan tidak membalikan wajahnya sedikitpun membuat Sehun menatap kakaknya heran, lalu kembali lagi ke kamarnya.
Luhan membanting pintu kamarnya kerasa dengan langkah berat Luhan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur berukuran king itu.
-Ini masalahku dengan Sehun. Aku harap senior tidak ikut campur. Jangan katakana apapun pada Sehun. Bersikaplah sewajarnya. Aku akan menyelesaikannya sendiri- Pinta Jisoo sebelum Luhan memutuskan untuk meninggalkan Jisoo. Jika saja Luhan tidak ingat permintaan Jisoo, mungkin sekarang Luhan sudah mendaratkan sebuah pukulan diwajah adiknya itu.
“Isttt. Aku bisa gila” Gerut Luhan frustasi sambil menarik rambutnya kasar, lalu memejamkan matanya.
**************************
Seulgi terus menelpon Jisoo karna dari puluhan panggilannya Jisoo belum juga mengangkat satupun panggilannya, dan di tempat lain Jisoo terus menatap Handphone nya nanar, dia tidak ingin Seulgi menyadari jika Jisoo menangis sekarang.
-Kita bicara lagi nanati- Jisoo mengirim pesan singkat pada sahabatnya sehingga membuat Seulgi menghentikan aktifitasnya.
“Idiot” Gumam Jisoo yang dia tunjukan pada dirinya sendiri sambil menutup tubuhnya dengan selimut - tubuhnya bahkan terus gemetar karna tangisnya.
**************************
Jisoo berangkat sekolah seorang diri meski matanya sedikit bengkak. Sebelum Jisoo masuk kelas, Jisoo menarik Sehun ke rooftop sekolahnya, mereka berdiri dan saling memandang. Jisoo terus memandang Sehun didepannya, hingga perlahan Jisoo mempersempit jarak mereka lalu memeluk Sehun lembut, cukup lama hingga akhirnya Sehun balas memeluk Jisoo.
“Kenapa?” Tanya Sehun lembut sambil mengelus rambut Jisoo.
“Sebentar saja” Timpal Jisoo – perlahan menutup kelopak matanya untuk menghirup aroma tubuh pria yang dia cintai. “Kau harus tau, aku tulus mencintaimu” Sambung Jisoo dengan senyum tipisnya.
“Hmm. Kenapa tiba-tiba?” Sehun kembali bertanya tanpa memahami magsud Jisoo. Dengan perlahan Jisoo melepaskan pelukannya, posisinya mundur satu langkah agar dia dapat menatap wajah Sehun – Jisoo terus memandang setiap lekuk wajah pria yang dia cintai di depannya, bayangan itu melintas, saat pertama kali Jisoo dan Sehun terlambat masuk sekolah hingga akhirnya mereka di beri hukuman oleh Luhan untuk berlari mengelilingi lapang, saat Sehun membelikannya sebotol minuman ion agar mereka tidak dehidrasi, Jisoo terus menatap Sehun tanpa berkedip hingga akhirnya dia meberikan segaris kurva senyum di bibirnya untuk Sehun.
“Aku ingin kita akhiri semuanya sekarang” Seru Jisoo dengan senyum tipis, senyum yang membuat Sehun tertarik pada Jisoo saat mereka pertama kali bertemu, senyum yang membuat Sehun meminta Jisoo menjadi kekasihnya.
“Kenapa? Apa kau sudah tidak mencintaiku?” Tanya Sehun cemas sekaligus kaget.
“Bukan aku yang tidak mencintaimu” Seru Jisoo ada jeda beberapa saat untuknya melanjutkan kalimatnya “Tapi kau yang tidak pernah mencintaiku” Sambung Jisoo.
“Jangan mengatakan hal konyol Ji.” Timpal Sehun tidak terima “Kau sakit, kita bicara lagi nanti” Sambung Sehun menyadari wajah Jisoo yang pucat – sambil mencoba menarik lengan Jisoo, tapi Jisoo terus diam tidak mengikuti langkah Sehun satu inch pun.
“Aku baik-baik saja…… Sehun Terimakasih” Seru Jisoo membuat Sehun berhenti dan memandang Jisoo “Terimakasih sudah membuatku tahu bagaimana rasanya mencintai. Aku tidak mau menjadi beban bagimu” Sambung Jisoo membuat Sehun mengernyutkan keningnya.
“Siapa yang menjadi beban siapa? Berhentilah mengatakan hal-hal konyol. Kita baik-baik saja kemarin” Protes Sehun masih menggenggam lengan Jisoo.
“Mencintai adalah hak, dan dicintai adalah sebuah beban. Kau tidak pernah mencintaiku sedangkan aku mencintaimu, aku tidak mau menjadi beban untukmu” Jelas Jisoo membuat Sehun semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
“Lalu siapa yang aku cintai?” Tantang Sehun.
“Daeun. Jung Daeun” Jawab Jisoo tegas “Aku melihatnya semalam” Sambung Jisoo dengan senyum pahitnya, membuat Sehun ingat apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Daeun. “Maaf sudah menjadi orang asing diantara kalian” Kini kalimat Jisoo menyadarkan lamunan Sehun, sekarang Sehun sadar jika dia telah menyakiti gadis didepannya.
“Ji, aku bisa jelaskan semuanya” Seru Sehun pasti.
To Be Continue…….

0 komentar