Swift

You never love me...- (5)


Cast : Luhan, Oh Sehun, Kim Jisoo, Jung Daeun.
Gendre : tentukan sendiri.
Rate: 15+
Author : JN
'
'
'
'
'
Don't be silent reading and please leave you're coment 
Sorry if my ff so boring, Happy reading 




“Aku mencintainya. Aku mencintainya. Dia kekasihku. Itu sudah cukup” Gumam Jisoo sambil menutup wajahnya dengan bantal putih yang berada tidak jauh dari lengannya.

************************

“Seulgi, ayolah ikut dengan kami.” Kini Jisoo tengah memaksa Seulgi untuk ikut bergabung di kantin bersama Sehun dan Daeun.

“Untuk apa? Melihat kau diabaikan?” Tanya Seulgi sinis masih enggan mengalihkan pandangannya pada komik yang sedang dia baca.

“Mereka tidak seburuk itu. Mungkin saja Luhan senior juga ada disana” Goda Jisoo berharap jika dia memakai nama Luhan, sahabatnya akan merubah pemikrannya.

“Kim Jisoo… Kau pikir aku sasaeng fans Luhan? Ti..”

“Sekali ini saja” Potong Jisoo lalu menarik paksa lengan Seulgi.

Sebelum Jisoo dan Seulgi menghampiri meja Sehun dan Daeun, mereka terlebih dulu membeli mie rame dan jus apple. Jisoo dan Seulgi terus membicarakan hal-hal konyol hingga Jisoo tidak menyadari ada kulit pisang di depannya, dan saat itu juga tubuh Jisoo terjatuh tepat disamping Daeun – membuat Mie Ramen yang dia bawa mengenai sepatu dan sedikit kulit kaki Daeun, tapi itu menghasilkan efek yang berbeda pada Sehun, Sehun langsung membersihkan kaki Daeun dengan sapu tangan yang dia bawa.

“Kim Jisoo, apa yang kau lakukan? Hati-hati jika berjalan. Kau bisa membuat Daeun terluka. Bagaimana jika kuah Mie Ramen itu membuat kulit Daeun melepuh?” Bentak Sehun membuat Jisoo yang baru bangkit bergetar karna takut dan kaget, sedangkan Daeun hanya bisa diam dan menyaksikan Sehun yang tengah membentak Jisoo, sekali lagi Daeun tidak tau harus melakukan apa, ada sedikit harapan Jisoo dan Sehun akan putus setelah itu – meski Daeun tau itu adalah harapan terburuk untuk sahabatnya.

“Maaf aku tidak sengaja.” Balas Jisoo lemah, dia tidak menyangka Sehun akan berubah hanya karna dia tidak sengaja menumpahkan semangkuk mie ramen yang mungkin kuah itu hanya menempel di kaos kaki Daeun.

“Kau ceroboh. Jika kau tidak bisa membawa semangkuk mie ramen itu, seharusnya kau..”

“Tengkorak hidup CUKUP! Jisoo kekasihmu, dan kau membentaknya hampir di depan semua murid sekolah? Hanya demi gadis itu?” Bentak Seulgi sambil menunjuk wajah Deun yang tengah menatap mereka “Sebenarnya apa yang ada didalam otakmu? Kau idiot atau bodoh?!” Bentak Seulgi dengan nada suara yang tidak kalah keras dari Sehun – sukses membuat semua penghuni kantin menatap mereka.

“Dia membahayakan keselamatan orang lain. Harusnya dia tau itu” Timpal Sehun ketus lalu berjalan meninggalkan kantin bersama Daeun, Seulgi hendak menyusul Sehun tapi Jisoo langsung menahan tangannya, Jisoo tau sahabatnya itu terkadang selalu lose control dan dia tidak ingin itu terjadi sekarang, tidak pada pria yang dia cintai.

“Tidakkah kau lihat jika tanganku juga terluka” batin Jisoo ketika dia merasakan rasa panas di tangannya saat melihat Sehun pergi sambil merangkul Daeun dengan cemas.

“Kau memaksaku bergabung hanya untuk menunjukan drama gila ini?” Tanya Seulgi sinis pada Jisoo yang masih menunduk lemah.

“Aku yang salah.” Gumam Jisoo lemah sambil membereskan pecahan mangkuk, tapi masih bisa Seulgi dengar. 

“Kau salah? Kau tidak sengaja melakukannya. Dan lihat, pergelangan tanganmu lebih terluka dari kaki gadis bodoh itu” Geram Seulgi sambil menunjuk lengan Jisoo yang terluka ketika Jisoo menaruh pecahan mangkuk itu diatas meja didepannya.

“Aku mencintainya” tambah Jisoo yang sekarang sudah berdiri dengan tatapan kosong dan nada yang semakin lemah.

“Persetan dengan cintamu itu. Pria kurus dan sahabatnya itu sudah melewati batas. Lihat gadis bernama Daeun itu! Dia bahkan hanya diam seperti gadis bodoh” Kini Seulgi benar-benar kehilangan kesabarannya. “Pikirkan lagi tentang cintamu. Ini peringgatanku yang terakhir, putus dengan pria kurus itu………………... Jika kau tetap mempertahankan cinta bodohmu ini,,,,,, aku rasa kau lebih idiot dan bodoh dari pria kurus itu!” Sambung Seulgi sebeum dia pergi meninggalkan Jisoo. Seulgi sudah cukup kesal pada Jisoo yang terus mengatakan jika dia mencintai pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada. 

“Aw” Seru Jisoo ketika dia merasakan seseorang menarik pergelangan tangannya.

“Maaf. Ayo kita obati lukamu” Seru Luhan yang ternyata menarik pergelangan tangan Jisoo.

“Senior” Gumam Jisoo mengangkat kepalanya untuk menatap Luhan – Luhan lalu merangkul bahu Jisoo, membawa Jisoo keruang kedisiplinan siswa.

“Minum ini” Seru Luhan sambil menyodorkan minuman kaleng di depan Jisoo yang tengah duduk, tapi tidak ada respon dari Jisoo, Luhan menundukan kepalanya untuk menatap wajah Jisoo yang terhalangi rambut panjangnya “Kau menangis? Karna Sehun?” Sambung Luhan sambil menyelipkan beberapa helai rambut Jisoo kebelakang telingannya, dan disana Luhan melihat butiran-butiran cairan bening jatuh dari celah bola mata Jisoo. “Kenapa kau meminta maaf pada Sehun? Kau bahkan lebih terluka dari Daeun” Seru Luhan ditengah-tengah aktifitasnya mengobati luka Jisoo.

“Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku” Timpal Jisoo dengan tatapan kosong.

“Jisoo. Mengalah tidak selalu membuatmu menang. Terkadang kau harus memainkan permainan licik untuk memenangkkan permainan” Seru Luhan ketika dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

“Jika seseorang memenangkan permainan karna cara licik, aku rasa kemenangannya tidak akan bertahan lama” Timpal Jisoo. “Terkadang aku selalu berharap jika Sehun adalah senior. Meski hanya satu hari atau bahkan hanya beberapa jam. Setiap detik Sehun hanya akan berbicara tentang Daeun, bagaimana bahagianya mereka berdua. Aku terus mendengarkannya meski itu berarti aku harus mengiris hatiku sendiri.” Sambung Jisoo dengan senyum pahitnya membuat Luhan menatap gadis di depannya dengan rasa bersalah, terutama karna adiknya adalah penyebab gadis di sampingnya menangis.

“Ji. Aku rasa Seulgi benar. Sehun tidak mencintaimu” Tambah Luhan membuat Jisoo menatap Luhan.

“Yah aku tau senior. Dia tidak pernah mencintaku - tidak satu detikpun, Seulgi benar, aku bodoh – bodoh karna terus berada di sampig pria yang bahkan belum pernah mengatakan ‘aku mencintamu’ sekalipun, saat itu Sehun bahkan hanya mengatakann –Mau menjadi kekasihku?- , jika ada orang yang pantas disalahkan – itu aku” Balas Jisoo sambil mengenang kejadian-kejadian itu, kejadian pulang sekolah saat Sehun memintanya menjadi kekasihnya tanpa kalimat -Aku mencintaimu-, kejadian Sehun yang tak pernah menganggap Jisoo ada ketika mereka bertiga berkumpul, kejadian ketika Sehun selalu menyebut nama Daeun disetiap langkah mereka. “Tapi aku mencintainya. Bagaimanapun Sehun laki-laki pertama yang aku cintai, aku pikir kelak Sehun akan mencintaiku, tapi aku salah – Sehun bahkan tidak pernah mencoba mencintaiku sekalipun. Sekarang, aku hanya perlu bertahan - selama aku bisa” Balas Jisoo menatap Luhan dengan senyum pahitnya ketika Luhan terus menatapanya.

“Aku tau kau sangat mencintainya. Tapi terkadang ketika kita mencintai kita juga harus menggunakan logika kita. Semuanya akan sia-sia jika yang berjuang hanya satu orang” Potong Luhan sambil menggenggam lembut lengan Jisoo yang tidak terluka. “Sehun mungkin akan terus memgang gelar cinta pertamamu, tapi kau juga harus ingat – hatimu tidak bisa bertahan terlalu lama. Semua ada batasnya Ji” Sambung Luhan sambil memegang kedua bahu Jisoo dan menatap kedua bola mata gadis itu dengan lembut – tidak terlalu lama, karna Luhan tidak bisa melihatnya terlalu lama.

To Be Continue…………….

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images