Fanfiction
Series
-You never love me...- (4)
Cast : Luhan, Oh Sehun, Kim Jisoo, Jung Daeun.
Gendre : tentukan sendiri.
Rate: 15+
Author : JN
'
'
'
'
'
Don't be silent reading and please leave you're coment
Sorry if my ff so boring, Happy reading
‘
‘
‘
“Tidak usah, aku akan pulang dengan Seulgi” Tolak Jisoo yang masih merangkul lengan Seulgi, tapi Seulgi masih terus menggumi wajah Luhan, Seulgi bahkan belum pernah bermimpi bisa memakan ice cream denga Luhan, pria idolanya.
“Baiklah, jaga diri kalian baik-baik, ini sudah hampir malam. Hubungi aku jika terjadi sesuatu” Seru Luhan sebelum akhirnya dia menaiki bus yang sudah berhenti di depannya.
“Harusnya kau tidak membiarkan dia pergi” Sesal Seulgi meratapi kepergian Luhan.
“Jika Luhan senior mengantar kita, aku tidak tau bagaimana mengatasi air liurmu yang mungkin akan terus menetes setiap detik” Cibir Jisoo menghassilkan pukulan di kepalanya dari Seulgi.
*************************
Luhan baru saja menginjakan kakinya di dapur setelah dia baru saja selesai mandi handuk putinynya bahkan masih menggantung di kepalanya dan ketika itu pula juga dia melihat Sehun yang sedang menonton tayangan televise.
“Aku pikir kau pulang dengan Jisoo. Apa kau lupa lagi jika kau mempunyai Jisoo?” Tanya Luhan yang terdengar seperti sindiran, Luhan lalu melemparkan handuk putinya tepat di depan wajah Sehun.
“Hyung! – yah, aku melupakannya. Tapi bagaimana hyung tau jika aku tidak pulang dengan Jisoo?” Sehun bertanya dengan penasaran sambil menaruh handuk putih itu diatas meja.
“Aku melihatnya melamun di halte sambil menatap layar handphone nya” Jawab Luhan ketus sambil merebut remote tv yang Sehun pegang.
“Aku benar-benar menyesal hyung. Aku bahkan tidak berani meneleponnya” Sesal Sehun sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Dongsaeng, aku rasa kau tidak mencintai Jisoo” Timpal Luhan serius membuat Sehun menegakan tubuhnya dan menatap kakaknya tajam.
“Aku menyukainya hyung” Bela Sehun.
“Tepat, kau hanya menyukainya. Bukan mencintainya. Kau harus bisa membedakan dua perasaan itu, karna itu benar-benar berbeda” Timpal Luhan bangkit dari kursinya,lalu meninggalkan Sehun sendiri.
************************** ****
Jisoo dan Seulgi baru saja merebahkan tubuhnya diatas kasur tepat setelah mereka sampai di apartment Jisoo.
“Ah, bagaimana pria kurus itu mempunyai kakak tampan dan baik seperti Luhan senior” Seru Seulgi memulai pembicaraan, wajahnya bahkan berbinar-binar ketika mengingat beberapa waktu lalu ketika mereka memakan ice cream bersama.
“Sehun tidak seburuk yang kau kira. Meski harus aku akui Luhan senior lebih mudah bergaul” balas Jisoo.
“Aku akan lebih setuju jika kau berpacaran dengan Luhan senior, daripada adiknya yang kurus itu” Balas Seulgi masih tidak mau terima.
“Namannya Sehun, Oh Sehun. Berhentilah memanggilnya pria kurus” Gerut Jisoo tidak terima disusul pukulan ringan di lengan Seulgi “Dan satu lagi, aku tidak menyukai Luhan senior. Kau yang menyukainya” Sambung Jisoo.
“Aku hanya menyukainya. Bukan mencintainya. Aku lebih mencintai kekasihku Zelo” Balas Seulgi mengerutkan keningnya. “Dan satu lagi. Aku akan terus memanggil kekasihmu pria kurus” Sambung Seulgi pasti.
“Itu mengganggu ku” Gerut Jisoo pasrah.
“Ji, aku rasa sebaiknya kau putus dengan pria kurus itu” Seru Seulgi sambil menatap langit-langit kamar Jisoo.
“Kenapa? Kenapa kau begitu tidak menyukai Sehun? Apa karna Daeun?” Tanya Jisoo masih menatap langit-langit kamarnya seperti Seulgi.
“Tidak, aku tidak menyukai mereka berdua, mereka terlalu tidak wajar. Mereka berpelukan, bergandengan tangan, saling membisikan sesuatu di telinga mereka masing-masing. Saling mengucapkan lelucon ‘Aku mencintaimu’ tanpa canggung. Apa kau tidak merasa ada yang aneh antara mereka?” Tanya Seulgi bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Jisoo yang masih tetap merebahkan tubuhnya.
“Mereka hanya bersahabat” Jawab Jisoo enteng meski Jisoo tau apa yang Seulgi ucapkan hampir benar, tapi Jisoo tetap mendoktrin dirinya jika apa yang Seulgi ucapkan salah.
“Tidak ada sahabat antara laki-laki dan wanita Ji” Timpal Seulgi membuat Jisoo bangkit dari tidurnya dan duduk di depan Seulgi. “Dia tidak mencintaimu” Sambung Seulgi mencoba menyadarkan sahabatnya.
“Benarkah? Jika begitu, biarkan aku yang terus mencintainya” Seru Jisoo enggan mengakui kekalahannya.
“Cinta satu sisi saja tidak cukup untuk membuat kalian bertahan. Sebagai sahabatmu, aku tidak mau kau disakiti Ji” Balas Seulgi lembut lalu memeluk Jisoo.
“Terimakasih. Tapi aku mencintainya Seulgi”Timpal Jisoo lemah.
*****************
Ini adalah hari libur sehingga Sehun mengajak Jisoo pergi untuk berjalan-jalan – menebus rasa bersalahnya karna mengabaikan Jisoo tempo hari. Sekarang Sehun sedang menunggu Jisoo di sebuah kedai ice cream, dan tak beberapa lama kemudian Jisoo datang dengan Dress putih diatas lutut dengan lengan panjang dan tas putih Jisoo bahkan mencoba memakai kill heels sekarang dan itu benar-benar memancarkan kecantikan dari aura dalam tubuhnya. Jisoo selalu berharap jika hari ini akan benar-benar menjadi hari mereka, tapi dugaan Jisoo salah, karna setiap langkah yang mereka lewati pasti akan selalu ada hal tentang Daeun, meski Daeun tidak berada diantara mereka, seperti ‘Ini adalah Ice Cream kesukaan Daeun’, ‘Coba makan Ramen ini, Daeun sangat menyukainya. Kau pasti suka’, ‘Sejak kecil aku dan Daeun suka sekali bermain ayunan’ – seru Sehun ketika mereka menikmati permainana ayunan di taman. ‘Daeun sangat takut jika aku mengajaknya menaiki roller coaster’, ‘Daeun pernah mengajakku kesini’ – seru Sehun ketika Jisoo mengajaknya ke sebuah tempat yang dia pikir tidak akan ada hal tentang Daeun disini, tapi lagi-lagi Jisoo salah – Daeun selalu ada, dan membuat Jisoo merasa jika hari ini dia hanya menjadi pendengar untuk Sehun, menjadi bayangan untuk Sehun, harapannya benar-benar menghilang, hingga akhirnya mereka berpisah di halte bus, kembali ketempat mereka masing-masing – tanpa antaran dari Sehun.
Jisoo memasuki apartmentnya dan berkaca menatap bagaimana dia sekarang, dress putih, tas putih, dan kill heels yang beanr-benar membunuh jemari kakinya.
“Aku mencoba tampil baik di depanmu Oh Sehun. Lihat, aku bahkan mencoba memakai kill heels yang mungkin akan membunuh jemari jemari kakiku” Seru Jisoo sambil menatap kakinya yang mungkin akan bengkak setelah ini “Aku berdandan” seru Jisoo sambil menghapus lips stik pinknya. “Aku menata rambutku” tambah Jisoo sambil melepaskan jepitan pita putih yang menempel di belakang rambutnya. “Dan aku memakai dress bodoh ini………………………. Tapi……………… Kau bahkan tidak mengatakan sepatah katapun tentang penampilanku………………. Aku memang bodoh” sambung Jisoo lalu duduk diatas tempat tidur putihnya dengan lemah sambil meratapi kebodohannya. “Apa kau benar-benar sudah terbiasa hanya berdua dengan Daeun? Tidak ada tempat untukku?” Gerut Jisoo lemah mengingat betapa gilanya Sehun menceritakan tentang dirinya sendiri dan Daeun.
-Bagaimana kencanmu? Aku harap kau tidak diabaikan lagi oleh pria kurus itu- Itu adalah pesan singkat dari Seulgi yang dia dapatkan tepat ketika Jisoo merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur – Jisoo hanya mengabaikan pesan itu, karna dia benar-benar tidak memiliki tenaga sekarang, tidak untuk membahas Sehun. Dan pikiran itu kembali melintas di otaknya ‘Sehun tidak pernah mencintaimu’ sekeras apapun Jisoo berusaha menghapus pikiran itu maka kalimat itu akan semakin menempel di otaknya.
“Aku mencintainya. Aku mencintainya. Dia kekasihku. Itu sudah cukup” Gumam Jisoo sambil menutup wajahnya dengan bantal putih yang berada tidak jauh dari lengannya.
************************
To Be Continue…
'
'
'
'
'
Don't be silent reading and please leave you're coment
Sorry if my ff so boring, Happy reading
‘
‘
‘
“Tidak usah, aku akan pulang dengan Seulgi” Tolak Jisoo yang masih merangkul lengan Seulgi, tapi Seulgi masih terus menggumi wajah Luhan, Seulgi bahkan belum pernah bermimpi bisa memakan ice cream denga Luhan, pria idolanya.
“Baiklah, jaga diri kalian baik-baik, ini sudah hampir malam. Hubungi aku jika terjadi sesuatu” Seru Luhan sebelum akhirnya dia menaiki bus yang sudah berhenti di depannya.
“Harusnya kau tidak membiarkan dia pergi” Sesal Seulgi meratapi kepergian Luhan.
“Jika Luhan senior mengantar kita, aku tidak tau bagaimana mengatasi air liurmu yang mungkin akan terus menetes setiap detik” Cibir Jisoo menghassilkan pukulan di kepalanya dari Seulgi.
*************************
Luhan baru saja menginjakan kakinya di dapur setelah dia baru saja selesai mandi handuk putinynya bahkan masih menggantung di kepalanya dan ketika itu pula juga dia melihat Sehun yang sedang menonton tayangan televise.
“Aku pikir kau pulang dengan Jisoo. Apa kau lupa lagi jika kau mempunyai Jisoo?” Tanya Luhan yang terdengar seperti sindiran, Luhan lalu melemparkan handuk putinya tepat di depan wajah Sehun.
“Hyung! – yah, aku melupakannya. Tapi bagaimana hyung tau jika aku tidak pulang dengan Jisoo?” Sehun bertanya dengan penasaran sambil menaruh handuk putih itu diatas meja.
“Aku melihatnya melamun di halte sambil menatap layar handphone nya” Jawab Luhan ketus sambil merebut remote tv yang Sehun pegang.
“Aku benar-benar menyesal hyung. Aku bahkan tidak berani meneleponnya” Sesal Sehun sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Dongsaeng, aku rasa kau tidak mencintai Jisoo” Timpal Luhan serius membuat Sehun menegakan tubuhnya dan menatap kakaknya tajam.
“Aku menyukainya hyung” Bela Sehun.
“Tepat, kau hanya menyukainya. Bukan mencintainya. Kau harus bisa membedakan dua perasaan itu, karna itu benar-benar berbeda” Timpal Luhan bangkit dari kursinya,lalu meninggalkan Sehun sendiri.
**************************
Jisoo dan Seulgi baru saja merebahkan tubuhnya diatas kasur tepat setelah mereka sampai di apartment Jisoo.
“Ah, bagaimana pria kurus itu mempunyai kakak tampan dan baik seperti Luhan senior” Seru Seulgi memulai pembicaraan, wajahnya bahkan berbinar-binar ketika mengingat beberapa waktu lalu ketika mereka memakan ice cream bersama.
“Sehun tidak seburuk yang kau kira. Meski harus aku akui Luhan senior lebih mudah bergaul” balas Jisoo.
“Aku akan lebih setuju jika kau berpacaran dengan Luhan senior, daripada adiknya yang kurus itu” Balas Seulgi masih tidak mau terima.
“Namannya Sehun, Oh Sehun. Berhentilah memanggilnya pria kurus” Gerut Jisoo tidak terima disusul pukulan ringan di lengan Seulgi “Dan satu lagi, aku tidak menyukai Luhan senior. Kau yang menyukainya” Sambung Jisoo.
“Aku hanya menyukainya. Bukan mencintainya. Aku lebih mencintai kekasihku Zelo” Balas Seulgi mengerutkan keningnya. “Dan satu lagi. Aku akan terus memanggil kekasihmu pria kurus” Sambung Seulgi pasti.
“Itu mengganggu ku” Gerut Jisoo pasrah.
“Ji, aku rasa sebaiknya kau putus dengan pria kurus itu” Seru Seulgi sambil menatap langit-langit kamar Jisoo.
“Kenapa? Kenapa kau begitu tidak menyukai Sehun? Apa karna Daeun?” Tanya Jisoo masih menatap langit-langit kamarnya seperti Seulgi.
“Tidak, aku tidak menyukai mereka berdua, mereka terlalu tidak wajar. Mereka berpelukan, bergandengan tangan, saling membisikan sesuatu di telinga mereka masing-masing. Saling mengucapkan lelucon ‘Aku mencintaimu’ tanpa canggung. Apa kau tidak merasa ada yang aneh antara mereka?” Tanya Seulgi bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Jisoo yang masih tetap merebahkan tubuhnya.
“Mereka hanya bersahabat” Jawab Jisoo enteng meski Jisoo tau apa yang Seulgi ucapkan hampir benar, tapi Jisoo tetap mendoktrin dirinya jika apa yang Seulgi ucapkan salah.
“Tidak ada sahabat antara laki-laki dan wanita Ji” Timpal Seulgi membuat Jisoo bangkit dari tidurnya dan duduk di depan Seulgi. “Dia tidak mencintaimu” Sambung Seulgi mencoba menyadarkan sahabatnya.
“Benarkah? Jika begitu, biarkan aku yang terus mencintainya” Seru Jisoo enggan mengakui kekalahannya.
“Cinta satu sisi saja tidak cukup untuk membuat kalian bertahan. Sebagai sahabatmu, aku tidak mau kau disakiti Ji” Balas Seulgi lembut lalu memeluk Jisoo.
“Terimakasih. Tapi aku mencintainya Seulgi”Timpal Jisoo lemah.
*****************
Ini adalah hari libur sehingga Sehun mengajak Jisoo pergi untuk berjalan-jalan – menebus rasa bersalahnya karna mengabaikan Jisoo tempo hari. Sekarang Sehun sedang menunggu Jisoo di sebuah kedai ice cream, dan tak beberapa lama kemudian Jisoo datang dengan Dress putih diatas lutut dengan lengan panjang dan tas putih Jisoo bahkan mencoba memakai kill heels sekarang dan itu benar-benar memancarkan kecantikan dari aura dalam tubuhnya. Jisoo selalu berharap jika hari ini akan benar-benar menjadi hari mereka, tapi dugaan Jisoo salah, karna setiap langkah yang mereka lewati pasti akan selalu ada hal tentang Daeun, meski Daeun tidak berada diantara mereka, seperti ‘Ini adalah Ice Cream kesukaan Daeun’, ‘Coba makan Ramen ini, Daeun sangat menyukainya. Kau pasti suka’, ‘Sejak kecil aku dan Daeun suka sekali bermain ayunan’ – seru Sehun ketika mereka menikmati permainana ayunan di taman. ‘Daeun sangat takut jika aku mengajaknya menaiki roller coaster’, ‘Daeun pernah mengajakku kesini’ – seru Sehun ketika Jisoo mengajaknya ke sebuah tempat yang dia pikir tidak akan ada hal tentang Daeun disini, tapi lagi-lagi Jisoo salah – Daeun selalu ada, dan membuat Jisoo merasa jika hari ini dia hanya menjadi pendengar untuk Sehun, menjadi bayangan untuk Sehun, harapannya benar-benar menghilang, hingga akhirnya mereka berpisah di halte bus, kembali ketempat mereka masing-masing – tanpa antaran dari Sehun.
Jisoo memasuki apartmentnya dan berkaca menatap bagaimana dia sekarang, dress putih, tas putih, dan kill heels yang beanr-benar membunuh jemari kakinya.
“Aku mencoba tampil baik di depanmu Oh Sehun. Lihat, aku bahkan mencoba memakai kill heels yang mungkin akan membunuh jemari jemari kakiku” Seru Jisoo sambil menatap kakinya yang mungkin akan bengkak setelah ini “Aku berdandan” seru Jisoo sambil menghapus lips stik pinknya. “Aku menata rambutku” tambah Jisoo sambil melepaskan jepitan pita putih yang menempel di belakang rambutnya. “Dan aku memakai dress bodoh ini………………………. Tapi……………… Kau bahkan tidak mengatakan sepatah katapun tentang penampilanku………………. Aku memang bodoh” sambung Jisoo lalu duduk diatas tempat tidur putihnya dengan lemah sambil meratapi kebodohannya. “Apa kau benar-benar sudah terbiasa hanya berdua dengan Daeun? Tidak ada tempat untukku?” Gerut Jisoo lemah mengingat betapa gilanya Sehun menceritakan tentang dirinya sendiri dan Daeun.
-Bagaimana kencanmu? Aku harap kau tidak diabaikan lagi oleh pria kurus itu- Itu adalah pesan singkat dari Seulgi yang dia dapatkan tepat ketika Jisoo merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur – Jisoo hanya mengabaikan pesan itu, karna dia benar-benar tidak memiliki tenaga sekarang, tidak untuk membahas Sehun. Dan pikiran itu kembali melintas di otaknya ‘Sehun tidak pernah mencintaimu’ sekeras apapun Jisoo berusaha menghapus pikiran itu maka kalimat itu akan semakin menempel di otaknya.
“Aku mencintainya. Aku mencintainya. Dia kekasihku. Itu sudah cukup” Gumam Jisoo sambil menutup wajahnya dengan bantal putih yang berada tidak jauh dari lengannya.
************************
To Be Continue…

0 komentar