Swift

FoundLove #01 [Sequel ‘YNLM’]


Cast : Luhan | Kim Jisoo | Sandara | Kris | Park Chanyeol | Other
Rate : 15+ (?)
Gendre : Friendship, Life, Family, Love, Sad.
Author : JN (Juliza Nurbaiti)
'
SeulGi tengah berselancar di dunia maya untuk melihat beberapa group idol yang dia sukai hingga handphone disampingnya bergetar, SeulGi langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur ketika dia melihat ID Jisoo dilayar hanphonenya.

“Hallo baby” Seru Jisoo disebrang sana membuat dahi SeulGi mengkerut. “Hahah, aku yakin kau sedang mengerutan dahimu sekarang” Sambung Jisoo sambil mengambil bantal disamping tempat tidurnya.

“Yahh. Kenapa tiba-tiba?” Tanya SeulGi merasa ada yang salah dengan tawa sahabatnya.

“Aist. Aku baru berteman denganmu baru dua tahun tapi kau sudah tahu banyak tentangku. Menyebalkan” Gerut Jisoo dengan tawanya, membuat SeulGi tersenyum tipis.

“Apa sesuatu mengganggumu?” Tanya SeulGi mulai serius membuat Jisoo menghentikan tawanya.

“Besok aku akan kembali ke California” Jawab Jisoo mencoba tenang tapi sukses membuat SeulGi bangkit dari tempat tidurnya.

“Kim Jisoo…”

“Aku ingin lebih dekat dengan kedua orang tuaku” Potong Jisoo sengan senyum tipisnya sambil sekilas menatap figura foto yang berisi foto dirinya ketika berumur 2 tahun lalu kembali focus dengan SeulGi lawan bicaranya.

“Jangan bodoh. Orang tuamu tidak pernah ada di rumah” Sanggah SeulGi kesal, SeulGi masih ingat alasan Jisoo meninggalkan orang tuanya di California – yah, karna orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Jisoo hanya diam ketika mendengar kalimat SeulGi, untuk waktu yang lama Jisoo terdiam mengingat dirinya yang terkadang merasa sendiri, Jisoo lalu menarik nafasnya dengan berat sebelum akhirnya dia kembali mengeluarkan suaranya. “Aku lelah SeulGi. Aku rasa aku harus pergi tidur sekarang. Bye my baby, chu…” Jisoo mencoba mencari alasan sebaik mungkin agar SeulGi tidak bertanya terlalu banyak sehingga Jisoo lebih memilih memutuskan panggilannya.

“Jisoo. KIM JISOO!!!” Bentak SeulGi ketika Jisoo memutuskan panggilannya tiba-tiba.

Jisoo menggenggam handphonennya dengan erat ketika dia barusaja memutuskan panggilannya. Jisoo terus memikirkan keputusannya yang tiba-tiba itu, tapi Jisoo selalu merasa keputusannya adalah keputusan yang terbaik yang akan dia ambil. Jisoo masih mencoba memjamkan matanya hingga tiba-tiba seseorang datang ke apartmentnya, dengan lemah Jisoo membuka pintunya dan disana dia melihat SeulGi sudah menatapnya dengan tajam.

“Plakkkk” sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Jisoo ketika Jisoo dan SeulGi sudah berada di dalam kamar apartmentnya tapi Jisoo hanya membalasnya dengan senyum tipis di bibirnya.

“Katakan alasanmu yang sebenarnya, sehingga aku bisa mengijinkanmu pergi. Tapi jika ini tentang pria kurus itu….. jangan harap aku bisa pergi” Ancam SeulGi dengan tatapan membunuhnya.

Jisoo masih diam, sesungguhnya Jisoo enggan membahas tentang Sehun, tapi Jisoo tau, SeulGi tidak akan menerima keputusannya sebelum dia mendapatkan jawaban yang dia inginkan.“Maaf, tapi aku pikir jika aku terus berada disini aku tidak bisa melupakan Sehun” dengan Jujur Jisoo menjawab pertanyaan SeulGi – Jisoo lalu duduk diikuti dengan SeulGi yang duduk disampingnya.

“Kim Jisoo kau terlalu gila. Kau bisa melupakannya, kau pasti bisa. Minggu kemarin kita berlibur bersama, dan kau bilang kau bisa melupakannya” SeulGi masih mencoba protes dengan keputusan Jisoo – Jisoo tersenyum pada sahabat didepannya yang msaih terus menggenggam lengannya dengan erat.

“Aku salah, aku tidak bisa melupakannya SeulGi. Saat liburan itu, saat aku kembali melihat Sehun dan Daeun berciuman di pantai, saat Sehun selalu menggenggam erat jemari tangan Daeun, saat Daeun selalu menyandarkan kepalanya di bahu Sehun, saat mereka saling mengucapkan ‘Aku mencintaimu’, saat itu juga aku sadar…. Aku tidak bisa, aku tidak bisa melupakannya” Balas Jisoo dengan cairan bening yang mulai keluar dari celah bola matanya membuat SeulGi merasa kasihan pada sahabat didepannya lalu menarik Jisoo kedalam pelukannya. “Aku tidak bisa lagi menjadi manusia munafik yang selalu tersenyum ketika aku tidak sedang baik-baik saja. Aku sudah terlalu jauh melewati batas sabarku. Aku harus menyerah sekarang” Sambung Jisoo dengan air mata yang semakin deras membuat SeulGi semakin erat memeluk Jisoo – tubuh Jisoo bahkan bergetar membuat SeulGi merasakan detak jantung Jisoo naik turun menahan rasa sakitnya yang mungkin tidak bisa Jisoo tahan.

“Berhentilah mempercayai cerita ‘first love never die’” Perintah SeulGi membuat Jisoo tersenyum pahit.

“Aku harap aku bisa. Tapi untuk sekarang itu masih terasa sulit. Kau tau, sejak aku lahir aku hanya jatuh cinta satu kali, dan itu Sehun” Jawab Jisoo dengan pahit.

“Pergilah jika itu akan membuatmu merasa lebih baik. Selama, itu bisa membuatmu melupakan rasa sakitmu dari Sehun” Seru SeulGi pasrah sambil mengelus punggung Jisoo.

“Terimakasih. Aku akan pasti akan merindukanmu.” Balas Jisoo mencoba tersenyum meski masih terasa sulit.

“Aku pasti akan sangat merindukan gadis bodoh yang keras kepala sepertimu” Timpal SeulGi melepaskan pelukannya sambil memukul kepala Jisoo membuat Jisoo meringis kesakitan lalu tersenyum tulus pada sahabatnya sambil terus menggenggam jemari tangan SeulGi.

“Kau tau, kau selalu membuatku iri” Seru Jisoo sambil mengelus pipi SeulGi – membuat SeulGi menarik lengan Jisoo dan menggenggamnya. “Kau punya keluarga yang sempurna, cantik, dan kekaih yang sangat mencintaimu” Sambung Jisoo dengan senyum tipisnya, membuat SeulGi mengernyutkan keningnya.

“Hey.. Kau harus tau, kau gadis paling baik yang aku kenal” Balas SeulGi memasang segaris kurva senyum dibibirnya sambil mencubit pipi Jisoo.

“Benarkah?” Tanya Jisoo tidak yakin. “Tapi sayang, pria yang aku cintai sepertinya tidak menyukai gadis baik sepertiku” Sambung Jisoo pahit dia bahkan masih mencoba memasang segaris kurva senyum meski dia tau itu gagal.

“Kau akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya” Timpal SeulGi sengan senyum tulusnya.

“Jangan katakana apapun pada Sehun dan Daeun” Perintah Jisoo dengan senyum tipisnya.

“Hmm. Aku mengerti” Balas Daeun membalas senyum tipis Jisoo.

[7tahun kemudian…]
Tuk tuk tuk, suara High Hill yang beradu dengan lantai sehingga menghasilkan bunyi langkah kaki yang mungkin terdengar angkuh, gadis berambut hiitam bergelombang dengan jas putih itu tengah berjalan dengan aura angkuh sambil membawa segelas Cofe dan segelas coklat hangat di kedua tangannya, gadis itu sekarang sudah berdiri di depan pria berjubah putih yang masih asik dengan handphone nya.

“Profesor” Luhan sekarang berdiri sambil membungkuk ketika Sandara sudah berdiri didepannya.

“Duduklah” Perintah Sandara - wanita bertubuh kecil yang kini sudah duduk di depan Luhan. “Semoga kau suka tempat kerja barumu ini” Sambungnya sambil menyodorkan segelas Cofe kedepan Luhan.

“Terimakasih Prof” Balas Luhan lalu meminum cofe itu.

“Panggil saja Nunna, ketika kita tidak berada di ruang rapat atau ruang oprasi” Perintah Sandara dengan senyum tipisnya.

“Ah baik, Nu… Nunna” Balas Luhan kaku disusul dengan senyum tipis dari Sandara.

“Aku dengar kau lulus dengan gelar terbaik di Harvard?” Tanya Sandara sebelum menyeruput coklat hangatnya.

“Itu hanya kebetulan” Balas Luhan dengan senyum tipisnya.

“Bagaimanapun kau hebat” Timpal Sandara sambil memberikan dua jempol pada Luhan.

“Eh, Terimakasih Nunna” Balas Luhan mencoba tidak kaku.

“Hei, kau disini? Aku mencarimu diruanganmu tadi” Kini suara berat masuk kedalam pembicaraan Luhan dan Sandara - membuat mereka mengalihkan pada Chanyeol si pemilik suara yang kini sudah duduk disamping Sandara lalu memberikan ciuman singkat di pipi Sandara membuat Luhan menatap mereka dengan ekspresi kaget.

“Kenapa dengan wajahmu?” Tanya Chanyeol yang menyadari perubahan ekspresi wajah Luhan.

“Kalian berpacaran?” Tanya Luhan sambil menunjuk Chanyeol dan Sandara bergantian, dan hampir membuat minuman yang ada di mulut Sandara keluar lagi.

“Hey, kita berada di benua Amerika, kau tidak bisa menyimpulkan sepasang  laki-laki dan wanita berpacaran hanya karna mereka mencium pipi” Timpal Chanyeol yang kini sudah duduk disamping Sandara dan menarik coklat hangat yang ada didepan Sandara lalu menyeruputnya.

“Chanyeol benar, dan aku tidak mungkin berpacaran dengan bocah laki-laki seperti dia” Timpal Sandara setuju, membuat Luhan ber ‘oh’ ria. “Dia keponakanku” Sambung Dara sambil mengelus rambut Chanyeol acak, dan sekarang giliran Luhan yang hampir  membuat minuma yang ada di dalam mulutnya keluar lagi.

“Baby I missing you….” Sekarang suara hanphone Sandara bergema membuat semua mata tertuju padanya.

“Aku harus pergi..” Seru Sandara sambil menggoyang-goyangkan handphone nya, hingga tak lama kemudian Sandara pergi dan yang tersisa hanya Luhan dan Chanyeol.

“Selamat datang di tim dokter bedah Profesor Sandara Park” Seru Chanyeol sambil menyodorkan telapak tangannya.

“Ah, terimakasih” Balas Luhan sedikit kaku dengan senyumtipisnya.

“Ah, kita belum berkenalan dengan resmi.. kenalkan, aku Park Chanyeol, aku dokter bagian anastesi” Chanyeol mencoba mempernenalkan diri  sambil mengulurkan tangannya.

“Ah, aku Luhan, asisten utama Prof Sandara” Seru Luhan sambil membalas uluran tangan Chanyeol dengan senyumnya.

“Aku yakin kau suka bekerja disini, semua orang disni ramah” Seru Chanyeol sambil mengaduk-aduk coklat hangat yang sekarang mungkin sudah mulai dingin.

“Aku harap begitu.” Balas Luhan dengan senyumnya “Ah, apa benar kau keponakan Sandara?” Tanya Luhan sambil menunjuk Sandara yang tengah tersenyum dengan handphone yang menempel ditelingannya.

“Yah, Sandara adik dari ayahku” Balas Chanyeol sekilas menatap Sandara lalu kembali menatap Luhan.

“Oh, berpa tahun perbedaan umur kalian? Aku sulit mempercayainya” Gurau Luhan sambil mengelus tengkuaknya.

“Lima tahun. Ibuku meninggal ketika melahirkanku, jadi sejak kecil dengan tidak langusng Sandara yang mengurusku, magsudku Sandara yang menggantikan peran ibu untukku” Balas Chanyeol sambil mengingat bagaimana Sandara mengurusnya.


TBC

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images