Swift

LOST LOVE (Chap 1)



C: Sandara Park, Kwon JiYong, Mizuhara Kiko, Choi SeungHyun.
G: Sad, Friendship, Family.
R: 17+
A: JN


Sandara Park : Aku tau aku yang meninggalkanya dengan memberinya banyak rasa sakit, aku tau aku egois berharap dia masih mencintaiku ketika aku sudah banyak mengecewakannya, tapi aku disini masih mencintainya dan disini aku melihatnya memberikan senyumnya pada gadis lain, dan itu bukan aku. Aku membencinya!

Kwon Jiyong : Aku benci bagaimana cara dia meninggalkanku dengan meninggalkan rasa sakit yang terus membekas, aku benci ketika dia datang kembali di hidupku ketika aku sudah membuka cerita baru dengan gadis lain, tapi aku lebih benci jika aku tidak bisa melihatnya. Aku mencintainya!


Aku baru saja keluar dari pesawat dan langsung berlari menerobos ratusan penumpang yang baru saja keluar, membuka setiap pintu kaca yang ada di bandara, dengan sesekali membetulkan sepatu hak tinggi yang aku pakai agar tubuhku tidak terjatuh, setelah aku berada di dalam taksi aku merapihkan rambut dan pakaianku, aku sudah lebih dari terlambat untuk menghadiri acara pernikahan Kiko, ini adalah salahku sendiri melupakan hari penting sodaraku, aku bahkan menggunakan ‘koneksi’ agar aku bisa naik pesawat untuk penerbangan di pagi hari, meskipun aku membenci cara menggunakan ‘koneksi’, itu sama saja dengan aku membeli roti tanpa antri ketika orang lain antri. Tapi untuk kali ini aku mencoba mentorelir itu sebelum aku di black list dari daftar keluarga. Aku terus berlari menuju gereja sambil terus merapihkan pakaianku, agar aku tidak terlihat sangat memalukan, aku asisten Desaigner Pakaian di rumah mode terkenal di Paris aku tidak ingin terlihat seperti pegawai paruh waktu.

“Kau terlamabat” Aku baru saja duduk dan ibu sudah menegurku dan aku hanya membalasnya dengan senyum termanis yang aku punya, ketika aku mencoba melihat calon suami Kiko aku mendapat panggilan telepon dan hampir membuat seisi ruangan memperhatikanku jika saja aku tidak langsung mengangkatnya, dengan wajah memelas aku menatap ibu. 

“Hanya sebentar” Sesalku sambil menunjuk pintu keluar, jika saja bukan boss ku yang super galak yang menelepon aku pasti tidak akan mengangkatnya, aku masih mencintai pekerjaanku . Bossku terus saja menelepon hingga aku merasakan keramaian di belakang punggungku ketika aku akan membalika tubuhku aku melihat satu bucket mawar putih yang hampir saja aku pegang sebelum aku melihat sosok tak asing bagiku yang ada di depanku, waktu terasa berhenti untukku, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lihat adalah salah, bukan dia. Tapi itu serasa semakin nyata ketika sosok itu melihatku. Mungkin untuk beberapa detik aku terjebak dalam tatapannya hingga aku menyadari suara Boss ku yang terus bergema di telingaku, membuatku kembali membakikan tubuhku dan mengabaikan mawar putih jatuh ke tangan gadis disampingku. Panggilan telepon berakhir tepat ketika ibu sudah berada di depanku.

“Sesibuk itukah dirimu?” Tanya ibu sambil mencubit hidung mancungku.

“Maaf ibu, aku tidak bermagsud mengabaikannya” Sesalku lalu aku merasakan ibu memelukku.

“Tidak apa-apa, ibu sudah cukup senang kau kembali” Ibu masih memlukku sambil mengelus rambutku, sentuhan yang selalu aku rindukan setelah 3 tahun berada di Paris. “Ibu merasa sedih karna tidak bisa menjagamu disana” Sekarang ibu melepaskan pelukannya lalu membelai pipiku dengan lembut.

“Aku mencintaimu ibu” Kataku disusul dengan mendaratkan bibirku di pipi ibuku.

“Ibu lebih mencintaimu” Timpal ibu membuatku menggelanyut manja di tangannya.

“PARK SANDARA!” Aku mendengar teriakan Kiko dari belakang tubuhku membuatku membalikan tubuhku tapi Kiko sudah memelukku dengan erat.

“Hati-hati dengan gaunmu, itu sangat sulit aku dapatkan” Seruku sedikit bergurau membuat Kiko menatapku dengan sengit.

“Apa hanya itu yang ingin kau katakana ketika kau terlamabat di pernikahanku?” Tanya Kiko sarkatis.

“Panggil aku Eoni”

“Kau sedang bercanda denganku? Kau hanya lebih tua dariku beberapa bulan” Protes Kiko “Ah, kenalkan ini suamiku JiYong.” Kiko memperkenalkan pria disampingnya, aku menyambutnya dengan senyum lebar dari biibirku.

“Park Sandara” aku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tanganku.

“Kwon JiYong” JiYong membalas uluran tanganku dengan Senyum canggung.

“Tampan bukan” Bisik Kiko.

“Pria Paris lebih tinggi” Aku kembali berbisik membuat Kiko menatapku dengan bola mata yang mungkin akan keluar dari peradabannya.

“Park Sandara adalah kakak Kiko. Dia memang baru kembali dari Paris” Ibu mencoba menjelaskan lebih dalam tentangku pada JiYong, membuat JiYong hanya mengangguk.

Kami melewati acara pernikahan Kiko dan Jiyong dengan sangat tenang, Kiko bahkan terus memegang lengan Jiyong dengan erat, seolah-olah Jiyong akan pergi. Aku disini masih asik mengamati tamu yang datang, ah aku baru menyadari jika aku sudah cukup lama meninggalkan Korea, udara nya benar-benar berbeda dengan Paris.

Pernikahan Kiko baru saja selesai beberapa saat yang lalu, dan aku sekarang sudah berada di kamarku, tidak ada yang berubah dari kamarku, sketsa-sketsa pakaian yang aku gambar masih tertempel rapih di dingding kamarku, meja belajarku masih penuh dengan buku-buku yang terisi ratusan sketsa gambar pakaian, majalah mode, dan miniature menara Eiffel, bahkan aroma mawar di kamarku masih sama. 

“Ibu, sekarang aku sudah bekerja di rumah Mode yang berada di Paris, aku sudah mewujudkan impian ibu, tapi aku kehilagan satu impianku. Tapi tenang, aku tidak akan menyesal. Aku mencintaimu ibu” Aku bergumam sambil memegang miniature menara Eiffel yang diberikan oleh ibuku.

Aku membuka gorden kamarku yang mengarah ke halaman rumahku, disana aku melihat Ibu baru saja membuka pagar rumah disusul Kiko bersama Jiyong, aku melihat Kiko melambaikan tanannya kearahku membuatku membalas ulran tangannya, ketika mereka sudah menghilang dari pandanganku aku masih menatap kosong dengan posisi yang sama, aku sadar semuanya telah berubah, aku tidak bisa tidur bersama Kiko lagi, tapi setidaknya aku beruntung karna aku belum pernah menceritakan tentang dia pada Kiko. Semuanya berubah dan aku yang merubahnya, di saat seperti itu aku sadar, penyesalan adalah hal terburuk di hidupku.

Aku masih asik mengambar sketsa pakaian ketika jarum jam menunjukan pukul 00:12, saat itu juga aku mendengar kebisingan di samping kamarku yang tak lain adalah kamar Kiko dan Jiyong, mungkin mereka sedang melakukan sesuatu yang hanya bisa mereka berdua lakukan. Aku menutup buku sketsaku dan merapihkannya, memeluknya dan meninggalkan kamarku, untuk beberapa saat aku menetap pintu kamar Kiko dan Jiyong, dengan diluar dugaan aku mengukir senyum di bibirku, tapi aku tidak tau apakah ini Fakesmile atau realsmile, aku benci mengakuinya. Aku menuruni anak tangga rumahku hingga kakiku terhenti di meja makan, aku menaruh semua sketsa-sketsaku sebelum aku mengambil beberapa buah dan minuman yang ada di lemari es di depanku. Tujuan awalku adalah melanjutkan pekerjaanku, tapi faktanya aku hanya duduk sambil menatap puluhan lembar sketsaku, hingga aku tidak menyadari sesuatu, yang aku rasakan aku sedang berada di dunia mimpiku. 

Sandara VOP END

Aku dan Kiko sekarang sudah menjadi sepasang suami istri, aku sangat bahagia untuk hidupku, Kiko gadis yang baik dan cantik, kami terus melemparkan senyuman pada semua tamu yang datang, hingga senyumanku tertahan. Disana, aku melihat gadis berambut panjang dengan dress putih menatap kearahku dengan hp yang menempel di telinganya, aku hanya berharap dia hanya sebuah bayangan, karna aku benar-benar tidak ingin melihatnya. Tapi tuhan tidak mengabulkan keinginanku, dia benar-benar dia, Park Sandara, gadis yang ingin aku lupakan, tapi tidak-tidak, aku bahkan tidak tau cara melupakannya, dia hanya datang terlambat, tapi tunggu dulu, apa sekarang aku mengharapkannya kembali?

“Park Sandara adalah kakak Kiko. Dia memang baru kembali dari Paris” Ibu menjelaskan lebih tentang Sandara, membuatku tersadar dari lamunanku. Kakak? Marga mereka berbeda, tapi bagaimana Kiko menjadi adiknya? Umur mereka bahkan hanya berbeda beberapa bulan? Apa salah satu dari mereka adalah anak angkat? Aku terus memandang Kiko dan Sandara – dan aku tidak menemukan kemiripan diantara mereka, aku baru tau jika gadis bernama Sandara begitu dingin, dia benar-benar bertindak seolah-olah dia baru saja bertemu denganku, aku orang asing baginya? Dia menakutkann.

Kami baru saja membuka pagar rumah Kiko dan lagi-lagi disana kau melihat Sandara melambaikan tangannya pada Kiko. Aku melewati kamar Sandara seblum aku masuk kedalam kamar Kiko, dan disana aku melihat Sandara masih berdiri di depan jendelanya.

“Sandara cantik bukan?” Seru Kiko ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi, tapi aku hanya mengeluarkan suara “Hoh” dari mulutku, karna terlalu kaget dengan pertanyaan Kiko “Dia memang tidak lebih tinggi dariku, aku sangat menyayanginya. Bisakah oppa mencarikan laki-laki untuknya? Aku sangat mencemaskannya, dia bahkan tidak pernah mengirim foto laki-laki padaku.” Sambung Kiko. Mecarikan laki-laki untuk Sandara? Aku tidak pernah berfikir aku bisa melakukannya.


“Dia sudah dewasa, dia bisa mencari calo suaminya sendiri, dan kau lebih cantik darinya” Timpalku setelah itu aku tidak tau apa yang kami lakukan, bukankah wajar jika kami melakukannya sebagai sepasang suami istri? Semuanya terjadi begitu saja. Aku keluar dari kamarku untuk mengambil bebrapa gelas air, kakiku tehenti di depan kamar Sandara dengan lampu kamar yang sudah gelap, aku tersentak ketika aku melihat Sandara tertiidu di meja makan, aku mendekatinya dan disana aku melihat puluhan kertas tercecer di bawah lantai, aku mengambilnya satu persatu sambil melihat gambar-gambarnya sebelum aku menaruhnya diatas meja.

“Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?” Apa sekarang aku sedang memberi sebuah pertanyaan pada Sandara yang tengah tertidur? BODOH!. Aku berjalan kekamarnya dan mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Sandara. Apakah sekarang aku sedang mengasihani orang yang telah menyakitiku? BODOH!. Aku memang bodoh.
Kwon JiYong VOP END.


Author VOP

Sandara terbangun darri tidurnya ketika dia menyadari seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya.

“Kenapa kau tidur disini nak?” Sandara membuka matanya dan disana dia melihat Nyonya Mizuhara (Ibu) sudah berada didepannya sambil mengelus lembut rambutnya.

“Ah, mungkin aku tidak sengaja tertidur disini ketika aku mengerakan ini” Jawab Sandara sambil menggoyang-goyangkan bebrapa keras yang ada di depannya.

“Sekarang pergilah mandi, kita makan bersama” Mizuhara memrintahkan Sandara dengan lembut.


“Aku akan cepat kembali untuk membantu ibu, tunggu aku.” Timpal Sandara mulai terssadar dari tidurnya, Sandara berlalri tapi tiba-tiba dia kembali pada Mizuhara dan memberinya kecupan lembut “I LOVE YOU MOM” Sambung Sandara lalu kembali bergegas meninggalkan Mizuhara. Sandara hanya butuh 10 menit agar dia bisa kembali membatu Mizuhara.


“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Sandara pada Mizuhara yang tengah memotong kentang.

“Ini sudah hampir selesai, kau hanya perlu memaggil Kiko dan Jiyong untuk bergabung” Perintah Mizuhara membuat Sandara terdiam. “Kenapa hanya diam? Palli, ini sudah hampir siang” Sambung Mizuhara membuyarkan lamunan Sandara.

“Ah. Baik” jawan Sandara lalu berjala menuju kamar Kiko, tapi setelah dia berada di depan pintu kamar Kiko tubuhnya membeku, dia bahkan tidak bisa mengangkat jemarinya. “Deg” Sandara semakin membeku ketika dia melihat JiYong tiba-tiba membuka pintu dengan hanya memakai Boxer dan baju tanpa lengan, mereka berdua membeku seperti dunia di “pause” untuk mereka berdua, Sandara bahkan tidak menyadari jika Jiyong hanya memakai Boxer.


TBC

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images