Swift

FoundLove #03 [Sequel ‘YNLM']


Cast : Luhan | Kim Jisoo | Sandara | Kris | Park Chanyeol | Other
Rate : 15+ (?)
Gendre : Friendship, Life, Family, Love, Sad.
Author : JN (Juliza Nurbaiti)
Sekarang Luhan sudah berada didalam kamar bernuansa putih yang cukup simple, Luhan lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur – wajah itu, wajah Jisoo selalu melintas di pikiran Luhan tidak pernah hilang satu detikpun, dia bahkan mungkin sudah lupa berapa banyak gadis yang dia tolak karna dia benar-benar tidak bisa melupakan Jisoo.
***************
Luhan terbangun dari tidurnya ketika dia merasakan cahaya matahari mulai muncul dan membuat dia merasa sedikit kepanasan, dengan perlahan Luhan memebuka matanya lalu duduk diatas tempat tidurnya dan disana dia sudah melihat Chanyeol berdiri di depan kaca dengan pakaian yang sudah rapih.

“Apa aku mengganggumu?” Chanyeol bertanya sambil melipat tangannya didada dan berdiri tepat di depan tempat tidur Luhan

“Sedikit” Jawab Luhan setengah sadar sambil memijat kelopak matanya dengan tangannya.

“Maaf, tapi kau harus bangun. Kita ada rapat sekarang” Sesal Chanyeol sukses membuat kedua mata Luhan bekerja keras untuk membulat.

“Aist. Terimakasih, sepertinya aku lupa” Gerut Luhan sambil loncat dari tempat tidurnya dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
***
Sekarang Chanyeol, Sandara dan Luhan sedang berada di kantin, karna mereka baru saja menghadiri rapat yang cukup memakan waktu. Tim mereka akan ke Seoul, tepatnya Jeju untuk membantu korban Sewol, alasan mereka ke Seoul adalah karena Tim Sandara sebagian besar berwarga Negara Korea, sehingga akan mempermuda mereka untuk berkomunikasi dan mungkin mereka akan menemui sanak keluarga mereka disana.

“Chanyeol, aku bisa meminta ijin pada Directur agar kau tidak ikut ke Jeju besok” Seru Sandara cemas sambil menggenggam erat lengan Chanyeol, membuat Luhan menatap mereka heran, terutama karna Chanyeol yang terus diam sejak rapat.

“Aku akan pergi, kau tak perlu mencemaskanku. Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah kita akan kembali ke Seoul? Mungkin aku bisa bertemu dengan ayah” Balas Chanyeol mencoba meyakinkan gadis disampingnya.

“Chanyeol…. “

“Aku akan ikut. Aku baik-baik saja” Potong Chanyeol “Ayo kita kembali bekerja. Jam istirahat hampir habis” Sambung Chanyeol bangkit dari kursinya sambil menatap arlogi putihnya dan berjalan meninggalkan Luhan dan Sandara.

Mereka lalu bekerja seperti bisa, hari ini terjadi kecelakaan mobil bus yang tak jauh dari rumah sakit mereka, sehingga hari ini tim medis Sandara melakukan beberapa oprasi. Setelah mereka selesai Sandara langsung berjalan memasuki ruangannya, Sandara bersyukur karna dia masih bisa focus pada oprasi nya kali ini.

Luhan mengetuk pintu ruangan Sandara beberapa kali, dan masuk kedalam ruangan tanpa ada sautan balasan dari Sandara.

“Kenapa?” Tanya Luhan ketika dia melihat Sandara tengah melamun di mejanya, membuat Sandara kaget dan tersadar dari lamunannya.

“Oh. Kapan kau masuk?” Tanya Sandara mencoba menyembunyikan rasa kagetnya yang jelas gagal dia lakukan.

“Barusan. Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali” Balas Luhan sambil menunjuk pintu ruangan Sandara dan perlahan Luhan berjalan menghampiri Sandara.

“Ah. Benarkah? Maaf fikiranku sedang tidak disini” Sesal Sandara sambil memberi isyarat pada Luhan untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya. “Ngomomg-ngomong kenapa kau belum pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan?” Tanya Sandara yang kini sudah duduk dengan Luhan saling berhadapan.

“Ah. Aku akan pulang sekarang. Aku hanya mampir karna lampu ruangan nunnau masih menyala” Jawab Luhan dengan senyumnya. “Aku bisa menjadi pendengar yang baik.” Luhan menawarkan diri untuk mendengarkan Sandara karna Luhan merasa jika atasannya sedang dalam keadaan banyak fikiran.

“Tidak perlu.” Tolak Sandara dengan senyum tipisnya.

“Aku memang tidak  memahami ilmu psikologi, tapi setiap orang yang melihat nunna sekarang, pasti akan berfikiran jika nunna tidak sedang baik-baik saja” Seru Luhan menatap Sandara “Kenapa dengan Chanyeol? Selama rapat kau terus menatap Chanyeol dengan cemas” Sambung Luhan membuat Sandara mengangkat wajahnya unutk menatap Luhan.

Sandara menarik nafasnya dengan berat sebelum akhirnya dia membuka mulutnya. “Aku tidak ingin Chanyeol ikut ke Jeju” Seru Sandara lemah.

“Kenapa? Pas sebelumnya terjadi sesuatu disana?” Luhan kembali bertanya dengan hati-hati.

“Aku dan Chanyeol hampir mati tenggelam di Jeju.” Sesal Sandara sambil menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya, membuat Luhan sedikit menyesal karna telah membuat Sandara mengatakan kenyataan buruk itu.

“Maaf…”

“Tidak apa-apa. Pulanglah, kau harus siap-siap untuk besok” Seru Sandara sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Luhan – sedikit memaksakan segaris kurva senyum menempel di bibirnya untuk memastika pada Luhan jika dia baik-baik saja.

Luhan lalu bangkit dari kursinya diikuti dengan Sandara yang menatap Luhan yang tengah berjalan meninggalkan Ruangannya. “Nunan tidak pulang?” Luhan bertanya ketika dia sudah memegang knop pintu ruangan Sandara.

Sandara membalikan tubuhnya ketika dia kembali mendengar suara Luhan. “Nanti” Balas Sandara singkat. Lalu Luhan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Sandara. Luhan baru saja sampai di tempat parkir dan dia melihat Chanyeol berjalan mendekatinya dengan senyum idiot.

“Sandara mencemaskanmu Yeol” Seru Luhan sambil menepuk pundak Chanyeol, membuat senyum Chanyeol perlahan memudar.

“Kau bisa pulang sendiri? akurasa aku harus meyakinkan Sandara” Seru Chanyeol.

“Aku ingat” Balas Luhan dengan senyum tipisnya – Chanyeol lalu lari menuju ruangan Sandara, Chanyeol mengetuk pintu ruangan Sandara, untuk beberapa waktu Chanyeol mengetuk pintu ruangan Sandara tapi karna tidak ada balasan Chanyeol membutar knop pintu ruangan Sandara – Chanyeol bersyukur karna pintu itu tidak dikunci, sehingga membuatnya bisa memasuki ruangan luas itu - disana Chanyeol melihat Sandara tengah berdiri sambil menatap langit lewat jendela kacanya dengan memebelakangi pintu, sehingga Sandara tidak menyadari jika Chanyeol sudah berada didalam ruangannya, dan sekarang sudah memeluk Sandara dari belakang.

“Sebesar itukah kau mencemaskanku?” Tanya Chanyeol tepat di telinga Sandara.

Beberapa saat Sandara terdiam, memsatikan siapa si pemilik suara, dan setelah Sandara yakin jika ini adalah suara Chanyeol – dia tersenyum tipis. “Aku sudah berjanji untuk menjagamu” Balas Sandara sambil meneglus punggung lengan Chanyeol yang leingkar di pinggangnnya.

“Aku sudah dewasa, kau tidak perlu menjagaku” Balas Chanyeol mencoba meyakinkan gadis yang ada didalam pelukannya.

“Kau tetap satu-satunya keponakanku yang harus aku jaga. Aku sudah janji pada ayah dan alm ibumu” Timpal Sandara setelah dia melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol sambil mengelus rambut Chanyeol. Mendengar kata keponakan dari bibir Sandara benar-benar membuat Chanyeol terbangun dari kenyataan jika dia tidak boleh mencintai wanita yang ada depannya.

“Tugasmu untuk menjagaku sudah selesai. Aku sudah dewasa, dan sekarang giliranku untuk menjagamu, bibi” Gurau Chanyeol sambil menekan kata ‘Bibi’ membuat dahi Sandara mengkerut dan menghentika aktifitasnya mengelus rambut Chanyeol.

“Aist, bocah ini, kau mebuatku semakin sadar jika aku harus segera menikah dengan SeungHyun” Seru Sandara sambil memukul kepala Chanyeol. “Pulanglah, ini sudah malam” Perintah Sandara lembut.

“Kita pulang bersama” Tawar Chanyeol.

“Aku membawa mobilku sendiri” Tolak Sandara sambil mengambil tas putihnya yang ada diatas meja didepannya.

“Baiklah. Ayo kita turun bersama” Ajak Chanyeol sambil menarik lengan Sandara.
******

Luhan mengendarai mobilnya dan ketika rambu-rambu lalu lintas berubah menjadi warna merah, sehingga membuat Luhan memutuskan untuk memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, untuk memebeli beberapa makanan cepat saji, karna dia ingat jika dia belum makan sejak istirahat siang tadi, Luhan turun dari mobilnya dan mencari rumah makan cepat saji, Luhan baru pertama kali mengunjungi wilayah ini, jalanan ini cukup gelap, mungkin karna waktu sudah tengah malam, tapi banyak remaja yang melintas di pinggir jalan ini – Luhan akhirnya mendapatkan makanan yang dia inginkan, dia hanya membeli dua kotak Pizza BBQ dengan beberapa minuman soda, Luhan kini berjalan melewati sebuah Café Italy yang sudah tutup, tapi entah kenapa langkah kakinya terhenti ketika dia melihat gadis berambut panjang tengah berdiri didepan pintu keluar café itu, sambil mengobrol dengan pria bertubuh tinggi, Langkah kaki Luhan melemah, mencoba memastika jika gadis didepannya adalah gadis yang selama ini dia cari – Kim Jisoo.

“Hati-hati dijalan” Seru Gadis berambut panjang itu yang tengah membelakangi tubuh Luhan – Luhan mungkin tidak dapat mendengar suara gadis itu dengan jelas, tapi dia yakin jika itu suara Jisoo.

“Apa tidak masalah jika kita tidak pulang bersama? Aku bisa mengatarmu lebih dulu, jika kau mau” Tanya pria berambut pirang dengan mata sipit itu, tubuh tingginya terlihat jelas, dengan balutan jas hitam, Luhan bisa melihat garis ketampanan dari pria itu meski wajahnya hanya di sorot oleh cahaya lampu yang mulai redup.

“Aku bisa jaga diri, cepatlah pergi, kau bisa terlambat” Jawab gadis itu masih membelakangi Luhan, ”Hey ingat aku ini Kim Jisoo” Sambung Jisoo meyakinkan lawa bicaranya yang masih mencemaskannya - membuat langkah kaki Luhan terhenti, mencoba memproses apa yang barusaja dia dengar,

“Baiklah, hubungi aku jika kau sudah sampai” Perintah pria bertubuh tinggi itu hingga akhirnya dia mecium kening Jisoo, dan Jisoo membalasnya dengan sebuah anggukan, hingga akhirnya pria itu berjalan meninggalkan Jisoo dengan mobil hitamnya, membuat Jisoo mulai melangkahkan kakinya, denga Luhan yang mengedap-edap mengikuti Jisoo, tapi baru bebrapa langkah Luhan mengikuti Jisoo, tubuh Luhan didorong ke tembok oleh pria yang dia yakinin adalah pria yang sama, yang mengobrol dengan Jisoo – membuat plastic berisi makanan itu terjatuh dan menghasilakn sejenis suara yang membuat Jisoo membalikan tubuhnya – dan berlari menghampiri mereka.

“Kris, apa yang kau lakukan” Seru Jisoo yang kini sudah berada disamping Kris yang tengah mendorong tubuh Luhan, pandangan Luhan sekarang focus menatap Jisoo, gadis berambut hitam panjang yang mengenakan jeans hitam, baju hijau tanpa lengan, hingheel kuning bercorak orage, dan tas kecil menggantung dibahu kanannya, saat itu juga Luhan yakin, jika gadis yang ada didepannya adalah Jisoo, gadis yang selama ini dia cari, Jisoo yang sekarang sudah terlihat lebih dewasa, Kim Jisoo yang sudah terlihat lebih cantik, ada satu yang berubah, garis wajahnya terlihat lebih dewasa dan tegas sekarang, Luhan masih terus menatap Jisoo meski sekarang Kris sudah menatapnya dengan tatapan membunuh.

Jisoo terdiam ketika dia melihat Luhan yang sudah berada didepannya, pria itu masih sama sejak terakhir kali dia menemuinya di bandara, tampan, bersih, rapih, tidak ada yang berubah, hanya garis kedewasaan yang sudah terpancar dari apa yang ada pada Luhan sekarang.

TBC..

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images