Swift

FoundLove #04 [Sequel ‘YNLM’]


Cast : Luhan | Kim Jisoo | Bae  Suzy | Kris | Park Chanyeol | Park Chorong | Sandara Park | Choi Seunghyun | Other
Rate : 19+ (?)
Gendre : Friendship, Life, Family, Love, Sad.
Author : JN (Juliza Nurbaiti)
Jisoo terdiam ketika dia melihat Luhan yang sudah berada didepannya, pria itu masih sama sejak terakhir kali dia menemuinya di bandara, tampan, bersih, rapih, tidak ada yang berubah, hanya garis kedewasaan yang sudah terpancar dari apa yang ada pada Luhan sekarang.

“Dia mengikutimu. Aku rasa dia pria mesum” Kini suara Kris menyelinap ke sudut pikiran mereka masing-masing membuat Jisoo dan Luhan mulai menyadari keberadaan Kris.

“Lepaskan Kris, aku rasa aku mengenalnya” Seru Jisoo yakin membuat Kris perlahan melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja putih Luhan. “Seseorang yang aku kenal di Korea” Sambung Jisoo mencoba meyakinkan Kris yang masih menatap Luhan sinis sambil Jisoo memengang pundak Kris lembut.

“Baiklah jika kau mengenalnya, aku harus pergi sekarang, Ji. Hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu” Seru Kris yang terdengar lebih seperti sebuah perintah. Kris lalu memeluk dan mencium keuda pipi Jisoo, membuat Luhan mengepalkan tangannya, Luhan bersumpah jika pria bernama Kris itu benar-benar mencium kedua pipi Jisoo dengan bibirnya, bukan hanya menempelkan pipinya pada Jisoo, - seperti yang Chorong lakukan padanya siang ini.

“Aku akan baik-baik saja” Jawab Jisoo mencoba meyakinkan Kris, ketika Kris mencium kedua pipi Jisoo.

Setelah Kris kembali kedalam mobilnya lalu berjalan meninggalkan Luhan dan Jisoo -  Jisoo menatap Luhan yang tengah berdiri mematung menatap Jisoo, dengan ekspresi wajah sulit di jelaskan, membuat Jisoo melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Luhan.

“Huh..” Suara aneh itu keluar begitu saja dari mulut, Luhan karna kaget, membuat Jisoo tersenyum tipis – senyum yang sama.

“Luhan oppa?” Tanya Jisoo lembut membuat Luhan mengangguk dengan senyumnya lalu tiba-tiba Jisoo meloncat dan memeluk Luhan erat dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya, begitu juga dengan Luhan, yah karna setelah Jisoo meneybut namanya dia merasa Jisoo tetap sama dengan Jisoo yang dulu dia kenal. “Ayo kita mengobrol dirumah kami” Ajak Jisoo ketika dia sudah melepaskan pelukannya dan bergegas menarik lengan Luhan, tapi Luhan masih diam, ini adalah kejutan yang sulit dia cerna oleh otaknya.

“Rumah kami?” Tanya Luhan heran dan cemas, terlalu banyak sekenario yang Luhan  buat tengan Jisoo dan pria bernama Kris tadi.

“Yah, rumah aku dan Kris” Jawab Jisoo masih dengan senyumnya seolah-olah kalimatnya tidak ada yang salah, yah tepatnya salah di telinga Luhan – tapi Luhan hanya mengangguk dan menuruti keinginan Jisoo - Jisoo lalu menaiki mobil merah Luhan untuk menuju ke sebuah komplek perumahan yang cukup mewah, Luhan bahkan terpukau ketika Jisoo membawanya masuk kedalam rumah itu, rumah dengan perabotan mewah, mata Luhan terus berkeliaran kesetiap sudut bangunan ini, Luhan terus mendapat serangan jantung karna dia melihat ada beberapa Frame yang berisi foto Jisoo, dan Kris, mulai dari yang berukuran normal, hingga foto yang berukuran selebar pintu istana Negara, yang menempel indah di atas TV, membuat Luhan terus menatap foto itu, difoto itu dia melihat Kris dan Jisoo berpose sama dengan menaruh telunjuknya di pipi mereka dengan ekspresi kesal yang mereka buat-buat sendiri sehingga mereka terlihat sangat lucu, Jisoo yang mengkat rambutnya disampng membuat Jisoo semakin terlihat lucu, dan Kris yang memakai topi hiphop dengan posisi terbalik membuatnya semakin terlihat berkarisma, dan tentunya mereka juga memakai baju yang sama, difoto itu mungkin tidak ada skinship, telunjuk Kris bahkan tidak menempel di tubuh Jisoo, baju mereka bahkan tidak saling bertemu, tapi itu tetap saja membuat Luhan kesal.

“Kenapa?” Tanya Jisoo sambil menaruh minuman diatas meja, ketika  dia melihat Luhan masih saja berdiri sambil menatap foto berukuran besar didepannya.

“Fotonya….” Seru Luhan sambil menunjuk foto didepannya lalau duduk bersama Jisoo.

“Ah, Kris yang merencanakan semuanya, meskipun awalnya aku agak malu menaruh foto itu. Tapi sekarang aku sudah terbiasa.” Balas Jisoo lalu meneguk minuman berwarna merah yang dia bawa. Luhan baru saja akan berbicara dengan Jisoo, tapi handphoe Jisoo sudah berdering membuat Jisoo mengalihkan pandangannya dari Luhan.

“Ia Kris”.. “Aku membawa Luhan kerumah. Apa tidak masalah?”.. “Terimakasih”… “Hati-hati berkendara. Aku akan membuatkanmu pasta kesukaanmu nanti” … “Oke, bye” . Luhan semakin cemas ketika kalimat-kalimat seperti itu keluar dari mulut Jisoo, Luhan bahkan terus menatap Jisoo tanpa berkedip ketika Jisoo berbicara dengan Kris di sebrang sana.

“Kenapa? Oppa tidak menyukai minuman yang aku buat” Tanya Jisoo cemas setelah dia mengakhiri panggilannya dan menatap Luhan yang tengah menatapnya dengan eksspresi aneh.

“Tidak. Ah magsud ku, siapa Kris?” Tanya Luhan kaku, tatapannya lurus menembus bola mata Jisoo. Untuk waktu yang lama Jisoo terdiam, hingga akhirnya dia membuka mulutnya.

“Kris seseorang yang berarti bagiku” Balas Jisoo semakin membuat detak jantung Luhan berdetak lebih keras, bahkan ketika Luhan berlari marathon, Luhan tidak pernah merasakan detak jantungnya berdetak seperti ini. “Kris sahabatku” kalimat terakhir Jisoo serasa air sejuk ditengah gurun pasir, yang membuat Luhan tenang, tapi ketika dia melihat semua foto yang terpajang disini, Luhan tetap merasa tidak aman untuk hatinya.
********

Chanyeol mengantar Sandara denagan mengikuti mobil Sandara dengan mobilnya, meski dia harus memutar jalan lagi untuk sampai di apartmentnya. Setelah mereka sampai Sandara turun dari mobilnya dan mengetuk pintu kaca mobil Chanyeol, membuat Chanyeol menurunkan kaca mobilnya.

“Keras kepala. Aku sudah bilang, aku bisa pulang sendiri” Gerut Sandara sambil memukul ringan kepala Chanyeol.

“Sudahlah, cepat masuk” Perintah Chanyeol.

“Aku akan masuk jika kau pergi sekarang” Perintah Sandara enggan mengalah.

“Aku harus melihatmu masuk dengan selamat sampai kau berada di dalam rumah, kau wanita” Protes Chanyeol.

“Aku lebih tua darimu, aku bisa menjaga diriku sendiri. cepat pergi” Timpal Sandara enggan mengalah.

“Aku pria, jelas kau harus memastikan bibi cantikku selamat. Cepat masuk, sebelum aku menyeretmu kedalam” Sekali lagi, Chanyeol masih enggan mengalah, membuat Sandara melanngkahkan kakinya dan berjalan memasuki rumah minimalisnya.

Sandara lalu memasuki kamarnya, melempar tas dan jas putihnya ditas meja kerjanya – Sandara duduk di kursi kerjanya sambil menatap foto dirinya dan Chanyeol ketika dia berumur 17 tahun dengan Chanyeol yang masih 12 tahun dengan latar belakang pulau Jeju.

Flashback.

Sandara yang saat itu masih berumur 17 tahun memiliki jadwal liburan bersama teman-teman sekolahnya ke Jeju, dan karna kakaknya Park Yoochun tidak ada dirumah jadi Sandara tidak bisa meninggalkan Chanyeol, tapi dia juga tidak biasa meninggalkan acara sekolahnya, sehingga membuat Sandara memutuskan untuk  mengajak Chanyeol ikut bersamanya, yang kebetulan di acara sekolah itu mereka diijinkan membawa satu orang keluarga. Keberangkatan mereka berjalan baik-baik saja, mereka menikmati waktu mereka dengan baik, Sandara bahkan tidak keberatan ketika Chanyeol selalu memegang lengannya dengan erat, tapi bencana itu datang ketika mereka akan pulang ke Seoul menggunakan kapal Ferry – kapal itu tiba-tiba mendapat masalah, sebagian tubuh kapal tenggelam karna sesuatu hal, Chanyeol terus memeluk Sandara sambil menangis, Sandara sebenarnya takut tapi dia mencoba menghilangkan rasa takutnya di depan bocah laki-laki yang tengah menggenggam erat lengannya, Sandara memegang pundak Chanyeol erat sambil menatap kedua bola mata Chanyeol dengan keyakinan penuh.

“Lihat aku.” Perintah Sandara “Semuanya akan baik-baik saja, kau harus terus berada disampingku. Ingat aku akan terus menjagamu sampai kapanpun, percaya padaku” Sekali lagi Sandara memerintahkan Chanyeol yang tengah menangis karna ketakutan. “Kita akan sampai di Seoul, dan bertemu dengan ayah-mu di bandara, dia akan menjemput kita dengan senyumnya lalu memlukmu. Mengerti!” Sandara menunggu balasan dari Chanyeol, tapi Chanyeol masih terus menangis. “Park Chanyeol!!! Jawab aku!” Perintah Sandara dengan nada naik beberapa oktav.

“Aaa… ak… Aku mengerti” Jawab Chanyeol dengan ketakutan yang jelas menguasai selurul fikirannya, membuat Sandara kembali memluk Chanyeol, Sandara merasa bersalah karna telah membawa Chanyeol ikut bersamanya.

“Bagus. Kau harus percaya padaku” Seru Sandara “Maaf, seharunya tidak membawamu. Seharusnya aku tidak membawamu dalam bahaya. maaf, aku janji aku akan selalu menjagamu” Batin Sandara ketika dia memeluk Chanyeol erat – nyaris meremukan tulang di tubuh Chanyeol.

Flashback end.

Sandara terbangun ketika bayangan itu melintas di fikirannya, nafas Sandara berburu dengan waktu ketika mimpi buruk dari masalalunya yang selalu melintas.

“Maaf Chanyeol. Maaf” Sesal Sandara sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

********

Luhan memarkir mobilnya disamping mobil merah Chanyeol, lalu dia memasuki apartment Chanyeol dan disana disa melihat Chanyeol tengah memegang kaleng minuman sambil menatap tayangan TV, yah hanya menatap dengan pandangan kosong, Luhan bahkan yakin jika kaleng minuman itu hanya Chanyeol genggam saja.

“Kenapa dengamu?” Tanya Luhan yang kini sudah duduk dissamping Chanyeol.

“Ah, kapan kau datang?” Tanya Chanyel kaget karna Luhan sudah duduk disampingnya.

“Aku baru sampai. Apa aku mengagetkanmu? Kalian beruda sangat suka melamun” Luhan kembali bertanya dengan heran.

“Sedikit… Aku fikir kau lupa jalan pulang” Jawab Chanyeol sambil menaruh mminuman kaleng yang sama sekali tidak dia minum

“Ingatanku tidak seburuk itu” Timpal Luhan sambil mengambil minuman kaleng milik Chanyeol yang ada di depannya.

“Sesuatu terjadi padamu? Kau terlihat berbeda” Chanyeol bertanya pada Luhan karna ekspresi wajah Luhan yang terlihat berbeda.

“Aku menemukannya Yeol..” Luhan menjawab sambil menatap minuman kaleng yang dia pegang.

Chanyeol terdiam bebrapa saat sambil melihat Luhan yang tengah menunduk menatap minuman kaleng yang ada di lengannya – hinngga akhirnya Chanyeol mulai mengerti siapa yang sedang Luhan bicarakan. “Lalu? Apa gadis itu masih mencintai adikmu?” Chanyeol kembali bertanya, tapi kali ini dia terlihat antusias dengan topic pembicaraan yang dia coba mulai bangun.

“Entahlah, tapi pria lain sudah ada disampingnya” Luhan kembali menajwab pertanyaan Chanyeol dengan ekspresi lemah, dulu dia berfikir akan baik-baik saja jika Jisoo sudah memeiliki pria lain selama Jisoo sudah bisa melupakan Sehun, tapi sekarang? Semuanya serasa berbeda, tidak seperti yang dia perkirakan.

“Kau sudah menanyakan hubungan mereka?” Chanyeol kembali bertanya seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi seorang pencuri.

“Dia bilang mereka hanya bersahabat” Jawab Luhan mengingat pembicaraannya dengan Jisoo beberapa saat yang lalu.

“Yah, hanya sahabat. Kenapa kau terlihat sangat putus asa?” Chanyeol bertanya sambil menegrutkan keningnnya, merasa jika sahabat di sampingnya terlalu melebih-lebihkan kata “sahabat”.

“Tidak ada ssahabat antara laki-laki dan wanita Yeol” Balas Luhan sedikit putus asa.

Chanyeol kembali teridam, merasa kasihan pada Luhan yang mungkin sudah kehilangan harapan untuk memiliki gadis yang dia cari – hingga akhirnya Chanyeol mendapatkan kalimat yang mungkin akan membuat keyakinan Luhan sedikit bangkit. “Mungkin kau benar, tapi kita tidak bicara tentang persahabatan Han, ini tentang perasaanmu, perasaan dia, pria itu mungkin hanya sahabatnya, tapi kau.. pria yang mencintainya, kau hanya perlu berusaha sekali lagi, katakana padanya jika perasaanmu masih sama. Setelah kau mendapatkan jawaban darinya, kau yang akan memutuskan langkahmu selanjutnya” Timpal Chanyeol serius sambil memegang pundak Luhan.

“Tapi mereka tinggal bersama” Timpal Luhan dengan nafas hampir tercekik.



TBC…

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images