Fanfiction
Series
LOST LOVE (Chap 2)
C: Sandara Park, Kwon JiYong, Mizuhara Kiko, Choi SeungHyun.
G: Sad, Friendship, Family.
R: 17+
A: JN
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
“Ah. Baik” jawan Sandara
lalu berjala menuju kamar Kiko, tapi setelah dia berada di depan pintu kamar Kiko
tubuhnya membeku, dia bahkan tidak bisa mengangkat jemarinya. “Deg” Sandara
semakin membeku ketika dia melihat JiYong tiba-tiba membuka pintu dengan hanya
memakai Boxer dan baju tanpa lengan, mereka berdua membeku seperti dunia di
“pause” untuk mereka berdua, Sandara bahkan tidak menyadari jika Jiyong hanya
memakai Boxer.
“SANDARA, APA MEREKA SUDAH BANGUN?” Teriakan Mizuhara membuyarkan lamunan mereka, membuat Sandara tersadar jika Jiyong hanya memakai Boxer dengan spontan Sandara membelakangi tubuh Jiyong.
“SANDARA, APA MEREKA SUDAH BANGUN?” Teriakan Mizuhara membuyarkan lamunan mereka, membuat Sandara tersadar jika Jiyong hanya memakai Boxer dengan spontan Sandara membelakangi tubuh Jiyong.
“SUDAH MOM” Sandara menjawab dengan teriakannya. “Ibu sudah menunggu, kalian harus bersiap-siap untuk makan bersama” Sambung Sandara lalu kembali berlalri menuruni anak tangga, mengabaikan Jiyong yang terus menatapnya.
“Mereka sudah
siap?” Tanya Mizuhata ketika Sandara sudah duduk di meja makan dan Sandara
hanya mengangguk kaku, 10 menit kemudian Jiyong dan Kiko bergabung di meja makan.
“Bagaimana malam
kalian?” Tanya Mizuhara membuat Kiko dan Jiyong tersipu malu sedangkan Sandara
hanya diam seolah-olah dia tidak mendengar apapun tadi malam.
“Aku keluar
sebentar” Sandara meminta ijin ketika dia melihat ID Bossnya di layar Hp.
“Dia terlalu sibuk
bahkan hanya untuk sarapan” Gerut Kiko ketika Sandara sudah meninggalkan
kursinya.
“Dia sudah dewasa,
berhentilah memperlakukannya seolah-olah dia anak kecil” Kalimat itu keluar
begitu saja dari mulut Jiyong.
“Kau mau kemana?”
Tanya Mizuhara ketika dia melihat Sandara yang sudah memakai pakaian rapih.
“Aku harus
menyelesaikan beberapa pekerjaanku di gangnam” Seru Sandara ketika dia baru
saja menguk segelas susu.
“Mobil kita sedang
di bengkel. Kau berangkat dengan Jiyong saja, kantor Jiyong juga berada di
sana” Kiko menyarakankan membuat Sandara menatap Jiyong yang masih asik dengan
makannaya.
“Tidak perlu, aku
bisa naik bus. Bye” Tolak Sandara lalu pergi meninggalkan mereka.
Sandara berjalan
kaki untuk menuju halte yang tidak jauh dari rumahnya, dia duduk di kursi halte
yang kosong, Sandara duduk sambil melihat ratusan mobil yang berlalu lalang di
depannya hingga mobil yang dia tunggu datang, Sandara duduk di kursi palig
belkang, seseorang pernah duduk di sampingnya dulu, sambil menyandarkan
kepalanya di bahu Sandara, entahlah kejadian itu tiba-tiba melintas di pikiran Sandara.
Hyorin Vop.
Aku baru saja sampai di kantor cabang yang berada di Gangnam, salah-satu boutique resmi milik perusahaan kami, aku datang hanya untuk melihat beberapa pekerjaan disini. Aku berharap aku tidak di pindahkan bekerja disini, tapi lagi-lagi tuhan tidak mengijinkan keinginanku, aku dipindahkan bekerja disini untuk menggantikan seseorang.
“Sandara Park?” aku mendengar suara SeungHyun bergema di ruanganku. Kenapa dia berada disini? Harusna dia masih di Paris.
“Kau?”
“Aku kembali” Seru
SeungHyun sambil merentangkan kedua tangannya, kemudian aku bangkit dari
kursiku dan memluk Seunghyun sahabatku ketika aku berada di Paris.
“Bagaimana kau
bisa berada disini?” Aku bertanya dengan heran.
“Aku bekerja
sebagai photographer disini” Jawaban SeungHyun membuatku kaget lalu melepaskan
pelukannya.
“Bagaimana bisa?”
Aku kembali bertanya membuat SeungHyun sedikit kesal.
“Yah, apa yang
salah dengan aku bekerja disini?” Tanya SeungHyun dengan nada suara yang naik
beberapa oktaf.
Author VOP
Untuk waktu yang lama mereka membicarakan berbagai hal di ruangan Sandara , mereka bahkan tidak menyadari jika jarum jam sudah menunjukan pukul 23:12 hingga di dalam gedung hanya tersisa mereka berdua.
“Ah, kita harus
pulang. Ini sudah sangat larut” Seru Sandara tersadar ketika dia menatap jam
dinding yang ada di depannya.
“Ah, sorry. Aku
lupa” Sesal Seunghyun.
“Bukan masalah.
Ayo kita pergi” Timpal Sandara yang kini sudah berada di depan pintu dan
mencoba membuka knop pintu ruangannya.
“Aku akan
mengantarmu Cinderella, ayo kita pergi sebelum kau berubah menjadi gadis kumuh”
Seru SeungHyun yang sudah merangkul pundak Sandara dan dengan cepat Sandara
menyiku perut SeungHyun.
“Appo” Seru SeungHyun
dengan aegyonya.
Mereka baru saja
membuka pintu gedung, tapi mereka di kejutkan dengan kehadiran JiYong yang
sedang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil Putih dibelakangnya.
“Ayo kita pulang” JiYong
sekarang menarik tangan Sandara membuat Sandara dan Seunghyun kaget.
“Dia akan pulang bersamaku” Timpal Seunghyun menahan tangan Sandara.
“Aku ditugaskan
orangtuanya untuk memnjemputnya” Membuat Seunghyun dengan perlahan melepasakan
lengan Sandara dan Jiyong langsung menarik tubuh Sandara dan mendorong Sandara
kedalam mobil.
“Hubungi aku jika
kau sudah sampai” Perintah Seunghyun pada Sandara yang sudah berada di dalam
mobil.
“Baik, hati-hati
dalam berkendara. Ini sudah sangat malam” Jawab Sandara dengan senyumnya, tak
lama kemudian Jiyong sudah membawa Sandara menjauh dari Seunghyun.
“Apa itu
pekerjaanmu yang sesungguhnya? Menemani laki-laki hingga larut malam?” Jiyong
memcahkan keheingan dengan topic yang membuat Sandara menatapnya dengan sengit.
“Turunkan aku
disini” Seru Sandara mencoba menghindari hal yang akan berujung pada keributan.
“Tidak pernah.
Tidakkah kau ingin mengatakan terima kasih karna aku sudah menunggu dan
menjemputmu?” Tanya Jiyong dengan Sinis.
“Aku tidak pernah
memintamu melakukannya”
“Menurutmu akau
mau melakukannya?”
“Lalu kenapa kau
melakannya?”
“Kau tidak
berpikir tentang keluaragmu yang mungkin saja cemas menunggumu?”
“Aku sudah cukup
dewasa”
“Dewasa? Jadi kau
pikir jika aku merasa cukup dewasa kau bisa berduaan dengan pria di ruangan
sepi?” pertanyaan JiYong kembali membuat darah Sandara mendidih.
“Serendah itukah
aku diamatamu?”Tanya Sandara menahan airmatanya.
“Kau yang membuatku
berfikir seperti itu” Jawab Jiyong masih terus focus denagn kemudinya.
“Kau menakutkan”
Timpal Sandara.
“Kau yang
membuatku seperti ini”
“Jika kau datang
hanya untuk menghinaku, lebih baik kau turunkan aku disini” Perintah Sandara
tapi JiYong mengabaikannya, hingga Sandara mengambil HP dari tasnya dan meocba
menelepon Seunghyun.
“Seunghyun….”
Panggil Sandara ketika sedang dalam sambungan telepon tapi JiYong langsun
membanting stir mobilnya ke pinggir jalan membuat Sandara sangat kaget, dengan
cepat JiYong menjauhkan hp Sandara dari telinganya dan terus menatap Sandara,
mendekatkan tubuh mereka membuat Sandara tersudut, mereka terus saling
memandang dengan jarak yang mungkin hanya bebrapa cm, mengabaikan suara Seunghyun
di sebrang sana, ada beberapa hal yang membuat mereka terdiam, rindu, benci,
kesal, kecewa, cemburu, kaku, asing, cinta? Jangan Tanya seperti apa perasaan
mereka sekarang, karna mereka juga bahkan tidak tau seperti apa perasaan mereka
sekarang, ini tidak seperti matematika 1+1=2, ketika kau menyatukan benci+benci
mereka tidak bisa menjadi hasil dengan ‘benci’ mereka bisa berubah menjadi
‘cinta’, tidak ada rincian jelas tentang cinta, cinta lebih rumit dari yang kau
bayangkan, bahkan meski cinta telah membawamu kedalam rasa sakit yang mendalam
kau akan terus memiliki cinta, suara jarum jam bahkan terdengar lebih kerasa
dalam kesunyian, JiYONG perlahan-lahan medekatkan wajahnya, hingga bibrnya
menyentuh bibir Sandara , Sandara
mencoba mendorong dada Jiyong, tapi percuma tenga Jiyong lebih besar darinya,
dan Sandara tidak bisa menghindari perasaannya, Sandara menyambut bibir Jiyong,
melingkarkan kedua tangannya di leher Jiyong hingga suara HP Sandara
menyadarkannya, Sandara membuka matanya, mendorong tubuh Jiyong dengan semua
kekuatannya.
“Ini salah Ji.
SALAH!” Bentak Sandara, menatap JiYong dengan bola mata yang sudah
berkaca-kaca, sedangkan HP nya terus berbunyi. Tapi Jiyong hanya diam tidak ada
kata yang keluar dari mulutnya, tapi detak jantungnya berpacu dengan waktu
membuat wajahnya menegang.
“Aku di depan
klinik hewan. Aku menunggumi disini” Seru Sandara pada Seunghyun diseberang
sana, membuat Jiyong menatap Sandara, Sandara baru saja membuka pintu mobil
tapi Jiyong sudah memegang tangan Sandara, menahan kepergian Sandara lewat
tatapan matanya. “Aku tau ini salah sejak awal. Pergilah” Sambung Sandara
melemah disusul dengan Jiyong yang melepasakan tangan Sandara, kemudian Sandara
keluar meninggalkan Jiyong, tapi Jiyong masih ditempatnya tidak beranjak satu
inch pun, hingga Seunghyun datang menjemput Sandara - Jiyong bahkan tetap di
tempatnya, menatap kepergian Sandara ‘seperti dulu’, tidak ada yang bisa dia
katakana, bahan ini lebih buruk dari dulu, setidaknya dulu Jiyong pernah
mengatakan ‘jangan pergi’ pada Sandara, tapi sekarang dia hanya diam.
Tbc

0 komentar