Swift

I’m Not a Monster (Chap 3)



Cast
Jennie Kim (YG New Artis)
Luhan (EXO)
Baekhyun (EXO)



Jennie dan Baekhyun sudah berada disekolah mereka, mereka sudah membawa banyak sekali barang, kecuali Jennie tentunya, dia hanya membawa beberapa pakaian dan tidak membawa makanan, karena Siwon bilang mereka akan menginap di sebuah Villa.

Didalam Mobil Jennie duduk sendiri karna Nara yang awalnya tidak ikut tiba-tiba ikut dan Baekhyun harus duduk di samping kekasihnya. Hingga tiba-tiba Luhan duduk disampingnya dan mengambil satu earphone Jennie tapi Jennie tidak memperdulikannya, Luhan yang merasa senang karna Jennie tidak protes dengan perbuatanya membuat Luhan tidak membuka mulutnya dan terus menikmati music classic yang diputar lewat HP Jennie. Setelah sampai Luhan masih tertidur.

“Hey, bangun kita sudah sampai” Jennie mencoba membangunkan Luhan tapi Luhan masih belum bangun dengan terpaksa Jennie menggoyang-goyangkan tangan Luhan agar Luhan terbanguun dari mimpinya.

“Kita sudah sampai?” Luhan bertanya sambil mencoba mengumpulkan kesadarannya.

“Minggir, aku mau lewat” Perintah Jennie kembali keasalnya menjadi wanita dingin.

“AYO SEMUANYA KUMPUL” Siwon berteriak hingga membuat Luhan langsung berlari keluar sambil membawa tas Jennie hingga membuat Jennie terpasksa harus berdiri di samping Luhan “Baiklah, kita akan menginap di satu Villa tapi wanita dan pria tidur di kamar yang berbeda, laki-laki kamar disamping kanan dan wanita samping kiri kami sudah memberi keterangan di pintu masing-masing, satu lagi meskipun sekarang kalian sudah dewasa kalian dilarang melakukan hal-hal aneh karena kalian masih dalam pengawasan sekolah. Sekarang kalian beristirahat nanti malam kita akan mengadakan BBQ di belakang Villa” Sambung Siwon disusul semua siswa pergi menuju Villa, semua gadis kembali liar karena Luhan mengantarkan Jennie kedalam kamar sambil membawa tas Jennie.

“Kau mau kemana?” Tanya Luhan ketika dia melihat Jennie berjalan seorang diri kearah bukit belakang villa.

“Mengilanng” Jawab Jennie ketus tapi Luhan masih terus mengikuti langkah Jennie, hingga langit sudah hampir gelap Jennie tidak juga menghentikan lankahnya.

“Jennie, kita mau kemana?” Luhan bertanya karna kakinya sudah mulai lelah.

“Kau merepotkan kenapa kau terus mengoceh aku menjadi lupa kita harus ke kanan atau kiri?” Jennie Bertanya pada Luhan.

“Ah, aku juga tidak tau. Mungkin kiri?” Tanya Luhan sambil menunjuk jalan yang menunjukan kearah kiri “Tapi bisa jadi kanan” Sambung Luhan kini menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Itu tidak membantu. Kau membawa kompas?” Jennie bertanya kembali.

“Tidak”

“HP?”

“Mati” Jawab Luhan sambil menggoyang-goyangkan HP nya.

“Baiklah ayo kita jalan kearah kanan” Seru Jennie sambil kembali melangkahkan kakinya.

“Jennie bisakah kita berhenti sebentar? Aku lelah” Luhan mencoba memberi saran karna kakinya sudah benar-benar lelah.

“Tapi ini sudah hampir malam” Seru Jenny sambil menunjuk langit yang mulai menggelap.

“Sebentar saja. Aku benar-benar lelah” Akhirnya Jennie menuruti keinginan Luhan karna dia melihat Luhan sudah sangat kelelahan.

“Kenapa kau duduk disana? Duduk disampingku saja, disini kau bisa bersadar di balik pohon” Luhan kembali menyaraknkan karna Jennie duduk berjauhan dengannya, dengan lemas Jennie menuruti perintah Luhan karna dia sudah benar-benar tidak ingin menguras tenagannya hanya untuk berdebat dengan Luhan. Tapi baru beberapa saat Jennie duduk disamping Luhan, Luhan sudah menjatuhkan kepalanya di pundak Jennie, Jennie mencoba menjauhkan kepala Luhan dari pundaknya hingga dia merasa suhu tubuh Luhan memiliki panas yang tidak normal dengan perlahan Jennie memakaikan syal nya keleher Luhan, kemudian Jennie juga mengompres kepala Luhan dengan kaos kaki yang luhan pakai dan menggantinya dengan kaos kaki yang Jennie pakai, Jennie terus mengompres kepala Luhan menggunakan air yang dia bawa, beberapa jam kemudian Luhan terbangun dan memgang lengan Jennie yang sedang mengompres kepalanya.

“Kenapa?” Luhan bertanya setengah sadar.

“Istirahat lah, kita lanjutkan perjalanan kita lagi besok” Seru Jennie menahan kedinginan karna dia hanya memakai jacket dan celana Jeans dengan sepatu tanpa kaoskaki.

“YAH JENNIE KIM KAU MENGOMPRESKU MENGGUNAKAN KAOS KAKI?” Teriak Luhan tidak percaya ketika dia memegang sesuatu yang dingin di kepalannya dan itu adalah kaos kaki.

“Berhentilah mengoceh, itu juga kaos kakimu. aku lelah, sekarang giliranku. Aku ingin tidur, jadi jangan mengangguku” potong Jennie lalu dia menutup matanya karna suhu tubuh Luhan juga sudah semakin membaik, dan lagi-lagi Luhan memperhatikan Jennie, kekesalannya tiba-tiba hilang ketika dia melihat Jennie tertidur dan merasakan sebuah syal menggantung dilehernya.

“Kau bodoh” seru Luhan sambil memakaikan syal pada leher Jennie tapi ketika Luhan memegang tubuh Jennie dia merasakan tubuh Jennie gemetar. “Jennie. Jennie Kim. Kau baik-baik saja?” Tanya Luhan dan Jennie tidak bergeming sedikitpun, dengan gelisah Luhan menggendong Jennie sambil mencari jalan pulang. Luhan terus berjalan mencari jalan keluar meski dia tidak tau dia bahkan melupakan rasa sakit di kakinya. Jennie terbangun dia melihat wajah Luhan berada sangat dekat dengan wajahnya Luhan terlihat berbeda mungkin karna dia berkeringat? (aneh ya alesannya? Tapi menurut saya cowo keringetan itu sexy haha #abaikan) Tanpa Jennie sadarai Jennie menghapus keringat di pipi Luhan dengan tangannya membuat Luhan menatap Jennie.

“Turunkan aku” Perintah Jennie pada Luhan mencoba menghilangkan kegugupannya.

“Kita sudah hampir sampai” Luhan dengan tegas menolak permintaan Luhan, tapi Jennie dengan paksa turun dari punggung Luhan dengan cara menjatuhkan tubuh mereka.

“Jangan pernah mengasihaniku”

“Apa kau tidak bisa meninggalkan egomu. Kau sedang sakit” Bentak Luhan tapi Jennie terus berjalan hingga dia melihat Nara sedang berciuman dengan Kai.

“Murahan” Gumam Jennie tepat di depan Nara membuat Nara dan Kai salah tingkah.

“Jennie Kim. Awas jika kau mengatakannya pada Baekhyun” Kai mencoba memperingatkan Jennie tapi Jennie menanggapi ucapan Kai dengan senyum sinisnya.

“Apa sekarang kau sedang mengancamku?” sekarang Jennie seperti sedang menantang Kai.

“Biarkan. Baekhyun tidak akan percaya padanya” Timpal Nara dengan yakin lalu Jennie berjalan pergi disusul dengan Luhan yang menatap sinis Nara dan Kai.

“Aku tidak mengerti kenapa kalian sangat murahan” Sindir Luhan sebelum dia mengikuti langkah Jennie.

“Kalian darimana saja? Semua orang mencemaskan kalian?” Tanya Yuri dengan cemas ketika dia melihat Jennie dan Luhan datang, Jennie hanya membungkuk lalu pergi meninggalkan teman-temanya.

“Maaf, Jennie sedang sakit” Timpal Luhan lalu mengikuti Jennie begitu juga Baekhyun.

“Jennie kau darimana saja?” Tanya Baekhyun cemas

“Tinggalkan Nara. Dia tidak baik untukmu” Seru Jennie menghentikan langkahnya membuat Baekhyun terdiam.

“Apa magsudmu? Aku tidak bisa meninggalkannya” Jawab Baekhyu sedikit kesal dengan ucapan sahabatnya.

“Dia berselingkuh” Timpal Jennie dingin penuh emosi.

“Aku tau kau tidak menyukai Nara, tapi tolong jangan berkata seperti itu. tolong hargai aku” Baekhyun membalas ucapan Jennie dengan kesal lalu pergi meninggalkan Jennie.

“Tidak bisakah kau mengatakannya diwaktu yang tepat. Ini terlalu buru-buru Jennie” Seru Luhan yang sudah ada di depan Jennie.

“Menunggu hingga wanita murahan itu menyakiti Baekhyun lebih dalam?” Tanya Jennie dengan sinis.

“Tapi ini terlalu cepat. Baekhyun mungkin kaget dengan ucapanmu. Harusnya kau tidak terlalu dingin” Timpal Luhan membuat Jennie menatap Luhan.

“Kau tau apa tentang diriku? Yah aku Jennie Kim, dingin, angkuh, sombong, tidak punya hati, monster. Jadi kenapa kau terus mengikutiku? Aku berbeda dengan kalian jadi menjauhlah dariku” Jennie mengucapkan kaliat itu dengan rasa sakit di setiap hurup yang dia ucapkan, apa yang dia katakana adalah apa yang selalu dia dengar tentang dirinya dari setiap orang.

“Kau yang membuat orang-orang berfikiran seperti itu tentangmu”

“Aku tidak membutuhkan mereka” Jennie mengakhiri perdebatannya dengan Luhan lalu pergi memasuki kamarnya.
--
Liburan mereka delewati dengan kedinginan, Baekhyun yang masih enggan berbicara dengan Jennie, Luhan yang mencoba mendekati Jennie dengan lebih halus sehingga dia menjadi jarang mengajak Jennie berbicara, dan Jennie yang selalu menikmati dunia dinginnya, tidak ada moment indah yang terukir diacara ini semuanya dingin seperti gunung es yang kokoh. Jennie berjalan menuju rumahnya tapi ketika dia sampai dirumah dia tidak menemukan siapapun hanya ada seorang pria yang tengah duduk di single sofa milik ibunya dengan seorang pria tinggi yang berdiri dibelakangnya.

“Siapa kalian?” Jennie bertanya dengan dingin.
Tbc

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images