Fanfiction
One Shot
YOU & I (ONESHOT)
Cast :
Oh Sehun (EXO)
Kim Ji Soo (YG NEW ARTIS)other.
Aku = Ji Soo
Kamu = Sehun
***
Aku dan kamu masih asik mendengarkan lagu Jason mraz - lucky feat. colbie caillat
lewat hpmu yang entah sudah berapa ratus kali aku mendengarkan lagu ini dengan kamu, berbagi earphone satu sama lain dibawah pohon sakura dengan bunga yang sekarang sudah mulai gugur, sebuah tempat di belakang kampus yang sepi pengunjung, bahkan hari ini hanya ada aku dan kamu disini di temani jutaan kelopak bunga sakura yang berjatuhan menutupi tanah, menikmati lagu ini sama seperti aku merasa bahwa hanya ada aku dan kamu di dunia ini, mendengarkan lagu ini sama seperti aku berada di dunia yang berbeda dengan manusia dan hanya ada aku dan kamu disana, dunia yang hanya bisa di huni hanya oleh aku dan kamu. Menutup kedua mata menikmati setiap bait lagu ini, memahami setiap lirik lagu yang terucap dengan indah, aku dan kamu masih disini untuk waktu yang lama, tanpa bicara sepatah katapun hanya mendengarkan lagu ini, tapi aku bahkan tidak merasa bosan, aku rasa selama apapun aku berada di samping kamu aku tidak akan pernah merasa bosan bahkan jika kamu tidak melihatku, sesekali aku melihat wajahmu yang damai, seperti biasa kamu selalu menutup matamu jika sedang mendengarkan music, aku tidak tau apa di HP mu hanya ada satu lagu karna kamu selalu memutar lagu ini, tapi seperti apa yang aku katakana tadi, aku tidak pernah merasa bosan. Aku melihat kelopak bunga sakura jatuh di atas rambutmu, dengan lembut aku mengambil kelopak bunga sakura itu, tapi aku masih memandangi wajahmu, seharusnya kamu terlihat sama dengan murid-murid pria yang lain, tapi kamu terlihat berbeda bahkan ketika kamu memakai seragam yang sama dengan murid-murid pria di sekolah ini, apa karna aku telah dibutakan olehmu?
“Ayo kita pulang. Ini sudah hampir malam” tiba-tiba kamu bersuara dan membuka matamu membuatku salah tingkah, aku takut jika kamu tau aku memandangi wajahmu untuk waktu yang lam.
“Baiklah” Aku mencoba menjawabmu dengan suara senormal mungkin. seperti biasa kamu mengambil earphone yang terpasang di telingaku membuatku bisa memandang wajahmu lebih dekat walau hanya beberapa detik. Aku dan kamu berjalan melewati lorong sekolah dengan kamu yang menggendong tasmu dan menjinjing tasku dengan tangan kananmu, hal yang biasa kamu lakukan untukku, sekolahan sudah hampir gelap membuat suasana terasa mencekam, mungkin kamu tau aku sedang ketakutan hingga kamu menggenggam erat tanganku dengan tangan kirimu yang bebas, itu membuatku merasa tenang, meskipun aku tau setiap aku berada di sampingmu aku selalu merasa tenang. Tapi sampai di bus umum kamu bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun padaku. Apa aku membuat salah padamu?
“Kamu terlihat berbeda Sehun” seruku sambil mencoba menatap wajahmu yang sedang menatap ke jendela.
“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu” kamu menjawab pertanyaanku tanpa memandangku membuatku semakin ingin melihat ekspresi wajahmu dengan jelas.
“Kau merindukan JiYeon?” Aku bertanya dengan getir berhenti mencoba menatap wajahmu sambil menarik nafas dengan berat, aku mencoba menunggu jawabanmu, tapi kamu tidak kunjung menjawab pertanyaanku, mungkin kamu benar merindukan kekasihmu yang kuliah di Universitas yang berbeda dengan kamu dan aku itu.
“Kamu pulang saja. Aku bisa pulang sendiri” seruku enggan kamu mengantarku, aku hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa bahkan setiap kamu berada di sampingku kamu masih merindukan kekasihmu, apa aku egois? Tapi tenanglah aku tidak akan merebutmu dari kekasih cantikmu itu.
“Ayo. Kita sudah hampir sampai” Kini kamu sudah berdiri di depan pintu keluar sambil membawa tasku, aku masih berdiri jauh dari tempatmu berada, aku benar-benar merasa ada yang salah pada kamu, tapi sekarang kamu bahkan menarik tanganku ketika mobil tiba-tiba goyang. Sekarang kamu sudah memelukku membuat aku bisa merasakan wangi tubuhmu. “Kau baik-baik saja?” Kamu bertanya dengan dada naik turun. Dan aku hanya mengangguk.
“Pulanglah. Ini sudah malam. Jarak rumahmu masih jauh dari sini” aku mencoba membujukmu agar kamu tidak mengantarku pulang. Tapi sekarang kamu bahkan sudah berjalan mendahuluiku, aku masih berjalan di belakang kamu, tapi lagi-lagi kamu menarik tanganku.
“Jangan menjauh dariku” pintamu tanpa memandang wajahku, aku masih tidak mengerti apa yang kamu ucapkan.
“Aku rasa kamu benar-benar merindukan JiYeon, hingga kamu mengucapkan hal-hal aneh. Pulanglah” aku kembali menolak ucapanmu dan kamu masih tidak melihatku, kamu kembali mengabaikan ucapanku, aku masih menatap kamu dengan heran, suasana disini sangat hening, bahkan tidak ada suara bus yang biasanya selalu setia menemani jalan ini. Aku masih tidak mengerti apa yang kamu ucapkan, kau kembali tidak bersuara bahkan ketika kamu dan aku sudah berada di depan pagar rumahku.
“Masuklah. Aku pulang” perintahmu sambil mengembalikan tasku lalu pergi meninggalkanku. Aku berjalan kedalam kamarku, merebahkan tubuhku tanpa mengganti bajuku. Aku tau kamu sangat merindukan JiYeon, karna akhir-akhir ini kamu lebih sering bersamaku dan jarang bersama JiYeon. Aku tidak tau sejak kapan aku mencintaimu, mungkin sejak pertama kali aku bercerita bahwa aku sudah putus dengan Luhan dua tahun yang lalu, dan sejak saat itu kamu lebih sering memperhatikanku karna kamu tidak ingin aku terus mengingat Luhan, yah sejak saat itu aku memang sudah melupakan Luhan tapi sekarang aku malah mencintaimu. Sekarang aku harus bagaimana? Apa aku harus meminta pertanggung jawabanmu? Aku tidak mungkin kan menyakiti JiYeon? Dia menjadi kekasihmu sudah 4 tahun, waktu yang sangat lama, dan aku tidak mungkin merebutmu dari kekasih cantikmu itu, aku tau rasanya dikhianati, Luhan bahkan berselingkuh dengan temanku sendiri, Krystal. Jadi tenanglah hatiku maih bisa merasakah sakit, sehingga aku tidak akan pernah merebut kekasih siapapun termasuk kamu. Dan mungkin tadi kamu mendengarkan lagu Lucky beberapa kali karna kamu merindukan kekasih cantikmu itu, kekasih yang dulu kau bilang sahabat terbaikmu bahkan sejak kamu TK. Aku baru saja akan menutup mataku tapi tiba-tiba HP ku berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Aku melihat siapa yang mengirim pesan dan itu dari kekasih cantikmu JiYeon.
(JiYeon. – Malam JiSoo, maaf mengganggu malammu. Boleh aku bercerita bertanya Sehun?) aku membaca pesan dari kekasihmu.
(JiSoo – Bicara saja, aku akan mencoba menjadi penjawab yang baik ) Aku membalas pesan dari kekasihmu, aku rasa kalian mempunyai ikatan batin yang baik dalam urusan membuat hatiku kacau.
(JiYeon- Aku mengirim pesan pada Sehun, tapi kenapa dia tidak membalas pesanku? Apa kalian sedang sibuk dengan urusan kampus?”) Tanpa menunggu lama kekasihmu membalas pesan dariku. Dan kenapa kamu tidak membalasa pesan dari kekasihmu? Jika kau membalas pesannya mungkin aku tidak akan tau urusan kalian.
(JiSoo- Iya, ada beberapa dosen yang memberi kami tugas yang begitu banyak dan sulit. Mungkin Sehun sedang sibuk dengan tugas-tugas itu) aku mencoba menjelaskan pada kekasih kamu agar dia tidak terlalu mencemaskanmu.
(JiYeon – Oh begitu, terimakasih JiSoo. Tolong jaga Sehun untukku ) kekasih kamu kembali membalas pesan, tapi aku tidak tau harus membalas bagaimana hingga aku memutuskan untuk menyimpan HP ku tanpa membalas pesan kekasih kamu. Terimakasih karna kalian sudah membuatku kacau malam ini.
---
Aku membuka mataku dengan berat, enggan meninggalkan tempat tidurku, memkirkan kalian sama seperti aku harus mengerjakan ribuan soal fisika yang sanagt sulit.
“JiSoo, cepat Sehun sudah menunggumu” Aku mendengar ibuku berteriak memanggilku, dan sekarang apalagi? Seharusnya kau tidak menjemputku lagi, apa kau menjemputku karna ingin menananyakan JiYeon? Dengan langkah lemas aku ke kamar mandi hanya untuk sekedar menggosok gigi dan membasuh wajahku, karna aku tidak berniat untuk berangkat ke kampus hari ini.
“Kau tidak berangkt kuliah?” Kamu berdiri sambil bertanya padaku, aku benci melihat wajahmu, karna jika aku melihat kamu aku juga mengingat JiYeon, tapi jika aku tidak melihat kamu aku sangat merindukanmu.
“Aku tidak enak badan” aku berbohong pada kamu, aku hanya ingin menggembalikan hatiku di tempat semula, dan memposisikan diriku di tempat semula sebagai sahabatmu, karna JiYeon sudah sangat mempercayaiku, aku tidak ingin mengecewakan siapapun.
“Mau aku antar ke dokter?” kamu menawarkan diri, apa kamu mencemaskanku sekarang? Berhentilah memperhatikanku, jika kau terus seperti itu aku tidak bisa melupakanmu.
“Tidak perlu. Kamu akan terlambat masuk jika kau tetap disini” aku mencoba mengingatkan kamu agar kamu berangkat kuliah.
“Baiklah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu” kini kamu berdiri bergegas pergi, aku mengantarmu hingga depan gerbang rumahku, aku tidak tau kenapa kamu masih berdiri menatapku bahkan ketika kamu sudah berada di atas motor sport mu. “Kamu yakin tidak mau aku antar ke dokter? Kamu ingin aku belikan sesuatu?”
“Aku baik-baik saja” aku memotong ucapanmu sehingga kamu berhenti bicara, sekarang kamu kembali memandangku, apa aku terlihat buruk ketika aku bangun tidur? “Pergilah” aku kembali mengingatkan kamu lalu kamu sekarang benar-benar pergi, dan aku kembali masuk kedalam kamarku, meski sedikit membosankan tapi ini lebih baik daripada aku harus melihatmu walaupun aku merindukanmu. Kamu bahkan terus mengirim pesan padaku tapi aku mencoba megabaikanmu meski aku sangat ingin membalas pesanmu. Rekor bertahan tanpamu untuk waktu terlama, 1 hari penuh.
“Kenapa kemarin kamu tidak membalas pesanku?” keesokan harinya kamu bertanya padaku ketika kamu baru saja sampai kedalam ruangan kelas, yah aku pergi lebih dulu dengan mobilku dan meninggalkanmu.
“Kemarin aku istirahan Sehun” aku kembali berbohong, dan memasang wajah normal seperti biasanya.
“Aku merindukanmu” seperti biasa kamu mengatakan hal-hal seperti itu sambil memelukku, aku bersyukur kamu kembali ke sifat awalmu yang hangat.
“Terimakasih sudah mencemaskanku Oh SeHun” aku membalas pelukanmu, karna aku juga sangat merindukanmu.
Sekarang aku dan kamu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, tapi di perpustakaan kamu tertidur diatas buku yang bahkan tidak kamu buka, sama sepertimu aku menaruh pipiku diatas buku sambil menatap wajahmu, aku kembali berfikir “Apa aku yang hanya memiliki perasaan seperti ini?” aku tau itu pertanyaan bodoh karna aku tau jawabannya, kamu hanya bisa melihat JiYeon, sedangkan untukku kamu hanya menganggapku sebagai sahabat yang menemani dunia sunyimu. HP mu tiba-tiba berbunyi tanda panggilan masuk, kau terbangun dari tidurmu lalu berlari bersama HP mu, cukup lama aku berada di dalam perpustakaan seorang diri hingga kamu kembali dengan tergesah-gesah.
“JiSoo. Aku harus pergi” Kamu kembali dengan wajah tergesah-gesah.
“JiYeon?” Aku bertanya, karna aku tau jika tentang JiYeon, kamu pasti akan meninggalkan semuanya. Termasuk aku. Kamu hanya mengangguk dan tanpa persetujuanku kamu pergi meninggalkanku. Karna aku tau kamu juga tidak bermagsud meminta persetujuanku.
----
Setelah kemarin kamu meninggalkanku untuk menemui JiYeon, sikapmu kembali sedikit berubah? Apa kemarin terjadi sesuatu pada kamu dan JiYeon. Sekarang kamu bahkan mengajakku kekebun sakura belakang kampus, kembali menikmati lagu Lucky, lewat earphone yang tersambung keHPmu, apa kamu benar-benar hanya memmpunyai satu lagu di HPmu? Sekarang aku menutup mataku seperti biasa, tapi tiba-tiba aku merasakan rambutku dan tubuhku basah oleh air dengan bau seperti air bekas mengepel lantai, dengan kaget aku membuka mataku, dan disana aku melihat JiYeon sudah berada di depanku dan kamu dengan membawa ember, apa kekasihmu yang melakukan ini padaku? aku masih duduk diam, mencoba memproses kejadian yang baru saja aku alami.
“JiYeon, apa yang kau lakukan?” Aku mendengar kamu membentak JiYeon, kemudian aku sudah melihat kamu berdiri di depan JiYeon.
“Aku memintamu menjaga Sehun, tapi bukan berarti kau bisa terus menempel pada Sehun dan membuat Sehun mencintaimu” sekarang kekasih kamu membentakku, tapi aku benar-benar tidak tau harus berakata apa. Dan kembali aku memproses ucapan kekasihmu, dia bilang kamu mencintaiku? Katakana padaku jika itu bohong. Tapi sekarang kamu bahkan memberikan jacketmu di tubuhku yang basah dan bau.
“Penghianat, Perebut pacar orang. Bicara padaku. kenapa kau hanya diam?” Kekasihmu kembali membentak dan sekarang memakiku. Penghianat? Perebut pacar? Aku benci mendengar kata itu, aku bahkan tidak merebutmu dari sisi kekasihmu, aku bahkan selalu mendengarkan rengekan kekasihmu ketika kamu mengabaikan kekasihmu, tapi sekarang kekasihmu bahkan mengatakan aku penghianat? Dan perebut pacar? Aku ingin marah tapi aku hanya biasa diam, aku pengecut. Semuanya karna kamu.
“Apa yang kau katakana? Jaga ucapanmu. Dan control emosimu. Kau sudah keterlaluan Park JiYeon” sekarang kamu membentak JiYeon dan menampar pipinya membuat JiYeon membungkuk kearahku lalu menamparku. Apa aku sekarang seperti orang gila? Dibentak, dihina, dan sekarang ditampar. Apa sekaranga aku mengenaskan? Memalukan? Bodoh? Gila? Sekarang aku rasa hal-hal seperti itu menempel pada diriku. Aku merasakan JiYeon menjauh dariku karna kamu sudah menariknya.
“Maaf” aku berdiri sambil mengatakan kata bodoh seprti itu ketika kamu mencoba akan menampar JiYeon kembali. Aku akan mencoba memahami posisi JiYeon,yah kekasih cantikmu cemburu padaku. Dengan tergesa-gesa aku pergi meninggalkan kamu dan kekasihmu. Aku mengendari mobilku dengan cepat, aku bahkan tidak peduli jika aku mati karna kecelakaan lalu lintas.
“JiSoo” Aku mendengar kamu berteriak memanggil namaku, dan aku masih memacu kecepatan mobilku hingga akhirnya kamu mengehentikan motormu di depan mobilku membuatku harus mengerem mobilku dengan cepat karna jika saja aku terlamabat mengerem mobilku maka nyawamu dalam bahaya dan aku tidak mau itu terjadi, kamu berjalan kearahku lalu membuka pintu mobilku lewat jendela mobilku yang tidak aku tutup, sekarang kamu menarikku ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian, aku tidak tau sejak kapan seoul memiliki banyak pohon sakura, yah karena sekarang aku dan kamu sudah berada dibawah pohon sakura, aku bahkan dapat merassakan puluhan bunga sakura yang jatuh mengenai tubuhku.
“JiSoo” aku mendengar kamu kembali memanggil namaku. “KIM JI SOO” sekarang kamu bahkan menggoyang-goyangkan tubuhku karna aku tidak kunjung menjawabmu, hingga akhirnya kamu memelukku. “Maaf” aku mendengar kamu mengatakan kata itu dengan nada suara yang bergetar sambil memelukku. Apa kamu menangis?
“Aku harus pergi” akhirnya aku menegluarkana suaraku tapi kamu tidak melepaskan pelukanmu dari tubuhku. “Sehun. Aku ingin pergi” dengan lemah aku mengatakan kalimat itu hingga kamu melepaskan pelukanmu.
“Aku mencintaimu” aku mendengar kamu mengatakan kalimat itu membuatku menatap wajahmu, hingga akhirnya aku merasakan bibirmu sudah berada dibibirku. Aku juga mencintai kamu, tapi aku tidak bisa memilikimu. Tidak.
“Aku harus pergi” aku mengakhiri ciuman ini dan pergi meninggalkanmu. sampai dirumah aku bersyukur karna tidak ada siapapun sehingga aku tidak harus menjelaskan apa yang terjadi padaku. aku terus merendam tubuhku di bathtub. Aku mendengar HPku berbunyi tanda panggilan masuk, dan aku masih enggan mengangkatnya meski sudah puluhan kali aku mendengarnya, hingga aku mendengar tanda pesan masuk, aku mengambil HPku dan membaca pesan dari kekasihmu.
(JiYeon – Maaf, aku hanya terlalu takut kehilangan Sehun ) hanya kalimat singkat tapi aku tau kekasih cantikmu terlalu takut kehilangamu setelah memebaca pesan dari kekasihmu aku menenggelamkan kepalaku kedalam air di bathtub berharap beban di kepalaku menjadi lebih ringan lebih-lebih karna kamu bahkan mengatakan kalimat itu dan menciumku. Aku senang karna ternyata cintaku terbalaskan, tapi aku tidak bisa bahagia diatas penderitaan orang lain.
---
Ini masih pagi tapi aku sudah mendengar suara motromu berhenti di depan rumahku, aku membuka jendeka kamaku yang menuju ke halaman rumahku, disana aku sudah melihat kamu berdiri di depan pagar rumahku.
“JiSoo” kamu memanggil namaku beberapa kali tapi aku masih enggak menemuimu, untuk waktu yang lama kamu masih di depan ruamhku dan aku masih melihatmu dari kamarku, aku beruntung ibuku berangkat ke Amerika menyusul ayah yang sedang bekerja disana, setidaknya jika ibuku tidak ada di rumah tidak ada yang memaksaku untuk menemui kamu. Aku tidak tau kenapa hujan turun begitu saja, aku berharap dengan turunnya hujan kamu akan pergi dari halaman rumahku, tapi ternyata tidak, kamu masih di depan pagar rumahku, membuatku terpaksa harus menemuimu.
“Pulanglah” pintaku dari balik pagar rumahku enggan membukakan pagar rumahku untukkmu.
“Kita harus bicara JiSoo” sekarang kamu mencoba membuka pagar rumahku.
“Pulanglah. Kamu bisa sakit” sekarang aku membuka pagar rumahku sambil memberikan jacket yang kemarin kamu pakaikan padaku, tapi kamu malah memelukku.
“Maaf jika semuanya membuatmu terluka. Aku mencintaimu” kamu kembali mengatakan kalimat itu.
“Terimakasih, setidaknya aku tau cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi aku mohon kembalilah pada JiYeon” aku melepaskan pelukanmu sambil menatap wajahmu.
“Tidak bisa. Aku sudah berusaha meyakinkan diriku, dan untuk waktu yang lama aku yakin aku mencintaimu JiSoo. Aku mencoba menahan perasaan ini, tapi kau tau sejak pertama kali aku melihatmu aku sudah mencintaimu tiga tahun yang lalu, jauh sebelum kamu putu dengan Luhan, aku tau aku salah, tapi sungguh sebelum aku mencintaimu aku sudah memastikan perasaanku untuk JiYeon dan itu hanya perasaan seorang sahabat, aku sudah bertahan lebih dari dua tahun memendam perasaan ini untukmu dan sekarang aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi” kamu menjelaskan semuanya, aku baru tau ternyata kamu mencintaiku lebih dulu dari aku mencintaimu, dan semuanya sunyi, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaan ini, dan kamu terlalu takut mengungkapkannya, tapi aku rasa semuanya sudah berakhir, JiYeon sangat mencintaimu. Aku tau rasanya kehilangan seseorang yang sangat aku cintai, dan aku tidak mau JiYeon mengalami hal yang sama.
“Terlambat Sehun. Kamu terlalu jauh melangkah, dan JiYeon tidak mungkin kamu abaikan begitu saja, JiYeon sangat mencintaimu. Aku juga mencintaimu, tapi aku tidak yakin cintaku padamu lebih besar dari cinta JiYeon padamu, aku hanya tidak ingin kamu menyesal” aku mencoba memberikan opsi pada kamu, aku mencintai kamu, sangat. Tapi JiYeon sudah mencintaimu untuk waktu yang lebih lama, aku tau waktu tidak bisa membuktikan apapun, tapi aku yakin waktu bisa merubah apapun.
“Jadi kamu akan mengabaikan perasaanmu dan aku?” kamu bertanya sambil memegang kedua pipiku, meski air hujan membasahi tubuhku dan kamu, tapi aku merasa pipiku hangat karna tanganmu.
“Aku mencintaimu” aku mengatakan kalimat itu, kalimat yang sudah bertahun-tahun ingin aku ucapkan padamu, apa aku salah? Sekarang kamu memelukku, setelah kamu melepaskan pelukanmu dengan keberanian yang tersisa aku mencium bibrmu. Untuk yang terakhir kali.
----
Setelah kejadian kemarin aku memutuskan untuk berhenti kuliah di Seoul dan melanjutkan kuliah di Paris tanpa memberi tahu siapapun termasuk kamu, dan ayah sudah menyuruh seseorang untuk mengurus kepindahanku dari kampus lamaku ke kampus yang ada di Paris. Ketika aku sudah berada di bandara aku menerima pesan darimu.
(Sehun – Kamu dimana?)
(JiSoo – aku akan pergi ke tempat dimana kamu tidak bisa menemuiku)
(Sehun – Tunggu aku. Aku mencintaimu)
(JiSoo – Aku mencintaimu. Jika aku memang takdirmu dan aku memang takdirku kita akan berjumpa kembali di bawah pohon sakura. Aku pergi) itu pesan terakhir yang aku kirimkan pada kamu, sambil menatap kelopak sakura yang dulu aku ambil dari atas kepalamu yang sekarang sudah mongering, lalu kembali memasukan kelopak sakura itu kedalam dompetku, kemudian aku pergi dari Seoul, dari kamu.
---
3 tahun kemudian.
Tiga tahun aku berada di Paris rekor baru Tiga tahun tanpamu, tapi aku masih merindukanmu, sekarang aku kembali ke Seoul, tempat pertama yang aku temui, pohon sakura di belakang kampus lamaku, berjalan diantar jejeran pohon sakura tanpamu, semuanya terlihat begitu indah karna bunga sakura mulai menggugurkan diri dan menutupi jalan. Apa aku berharap kamu jodohku? Sehingga aku kembali kesini. Aku melihat kesekeliling dan tidak ada kamu disini. Untuk beberpa saat aku mendengarkan lagu Lucky dibawah pohon sakura, dan kamu masih tidak ada. Apa aku terlalu berharap? Mungkin kamu kembali pada JiYeon. Aku menghentikan lagu itu dan bergegas pergi meninggalkan tempat ini, tapi baru saja aku berdiri aku mendengar langkah seseorang dari balik tubuhku, aku memutarkan tubuhku dan disana aku melihat kamu sudah berdiri menatap lurus kearahku. Aku masih diam sambil tersenyum tipis karna bahagia, apa kamu jodohku? Sekarang aku melihat kamu berjalan kearahku.
“Aku tau kamu pasti kembali” sekarang kamu sudah berada tepat di depanku.
“Aku mencintaimu” aku kembali mengatakan kalimat yang lima tahun lalu aku ucapkan pada kamu, aku tidak peduli jika pada akhirnya kamu kembali pada JiYeon, atau bahkan sudah melupakanku.
“Aku sudah menunggumu selama 1095 hari, dan sudah mencintaimu selama 2190 hari, setiap hari mengunjungi tempat ini berharap kamu kembali, karna aku yakin kamu takdirku. Dan kamu kembali. Aku juga mencintaimu” kamu membalas ucapanku, kamu tau aku sangat bahagia, aku menocba melupakan kamu, tapi aku tidak bisa, aku mencintaimu, sangat. Dan aku bersyukur kamu juga masih mencintaiku. Kamu memelukku lalu menciumku. Aku bahagia. Aku mencintaimu lebih banyak dari jutaan kelopak sakura yang berjatuhan.
Kim Ji Soo (YG NEW ARTIS)other.
Aku = Ji Soo
Kamu = Sehun
***
Aku dan kamu masih asik mendengarkan lagu Jason mraz - lucky feat. colbie caillat
lewat hpmu yang entah sudah berapa ratus kali aku mendengarkan lagu ini dengan kamu, berbagi earphone satu sama lain dibawah pohon sakura dengan bunga yang sekarang sudah mulai gugur, sebuah tempat di belakang kampus yang sepi pengunjung, bahkan hari ini hanya ada aku dan kamu disini di temani jutaan kelopak bunga sakura yang berjatuhan menutupi tanah, menikmati lagu ini sama seperti aku merasa bahwa hanya ada aku dan kamu di dunia ini, mendengarkan lagu ini sama seperti aku berada di dunia yang berbeda dengan manusia dan hanya ada aku dan kamu disana, dunia yang hanya bisa di huni hanya oleh aku dan kamu. Menutup kedua mata menikmati setiap bait lagu ini, memahami setiap lirik lagu yang terucap dengan indah, aku dan kamu masih disini untuk waktu yang lama, tanpa bicara sepatah katapun hanya mendengarkan lagu ini, tapi aku bahkan tidak merasa bosan, aku rasa selama apapun aku berada di samping kamu aku tidak akan pernah merasa bosan bahkan jika kamu tidak melihatku, sesekali aku melihat wajahmu yang damai, seperti biasa kamu selalu menutup matamu jika sedang mendengarkan music, aku tidak tau apa di HP mu hanya ada satu lagu karna kamu selalu memutar lagu ini, tapi seperti apa yang aku katakana tadi, aku tidak pernah merasa bosan. Aku melihat kelopak bunga sakura jatuh di atas rambutmu, dengan lembut aku mengambil kelopak bunga sakura itu, tapi aku masih memandangi wajahmu, seharusnya kamu terlihat sama dengan murid-murid pria yang lain, tapi kamu terlihat berbeda bahkan ketika kamu memakai seragam yang sama dengan murid-murid pria di sekolah ini, apa karna aku telah dibutakan olehmu?
“Ayo kita pulang. Ini sudah hampir malam” tiba-tiba kamu bersuara dan membuka matamu membuatku salah tingkah, aku takut jika kamu tau aku memandangi wajahmu untuk waktu yang lam.
“Baiklah” Aku mencoba menjawabmu dengan suara senormal mungkin. seperti biasa kamu mengambil earphone yang terpasang di telingaku membuatku bisa memandang wajahmu lebih dekat walau hanya beberapa detik. Aku dan kamu berjalan melewati lorong sekolah dengan kamu yang menggendong tasmu dan menjinjing tasku dengan tangan kananmu, hal yang biasa kamu lakukan untukku, sekolahan sudah hampir gelap membuat suasana terasa mencekam, mungkin kamu tau aku sedang ketakutan hingga kamu menggenggam erat tanganku dengan tangan kirimu yang bebas, itu membuatku merasa tenang, meskipun aku tau setiap aku berada di sampingmu aku selalu merasa tenang. Tapi sampai di bus umum kamu bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun padaku. Apa aku membuat salah padamu?
“Kamu terlihat berbeda Sehun” seruku sambil mencoba menatap wajahmu yang sedang menatap ke jendela.
“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu” kamu menjawab pertanyaanku tanpa memandangku membuatku semakin ingin melihat ekspresi wajahmu dengan jelas.
“Kau merindukan JiYeon?” Aku bertanya dengan getir berhenti mencoba menatap wajahmu sambil menarik nafas dengan berat, aku mencoba menunggu jawabanmu, tapi kamu tidak kunjung menjawab pertanyaanku, mungkin kamu benar merindukan kekasihmu yang kuliah di Universitas yang berbeda dengan kamu dan aku itu.
“Kamu pulang saja. Aku bisa pulang sendiri” seruku enggan kamu mengantarku, aku hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa bahkan setiap kamu berada di sampingku kamu masih merindukan kekasihmu, apa aku egois? Tapi tenanglah aku tidak akan merebutmu dari kekasih cantikmu itu.
“Ayo. Kita sudah hampir sampai” Kini kamu sudah berdiri di depan pintu keluar sambil membawa tasku, aku masih berdiri jauh dari tempatmu berada, aku benar-benar merasa ada yang salah pada kamu, tapi sekarang kamu bahkan menarik tanganku ketika mobil tiba-tiba goyang. Sekarang kamu sudah memelukku membuat aku bisa merasakan wangi tubuhmu. “Kau baik-baik saja?” Kamu bertanya dengan dada naik turun. Dan aku hanya mengangguk.
“Pulanglah. Ini sudah malam. Jarak rumahmu masih jauh dari sini” aku mencoba membujukmu agar kamu tidak mengantarku pulang. Tapi sekarang kamu bahkan sudah berjalan mendahuluiku, aku masih berjalan di belakang kamu, tapi lagi-lagi kamu menarik tanganku.
“Jangan menjauh dariku” pintamu tanpa memandang wajahku, aku masih tidak mengerti apa yang kamu ucapkan.
“Aku rasa kamu benar-benar merindukan JiYeon, hingga kamu mengucapkan hal-hal aneh. Pulanglah” aku kembali menolak ucapanmu dan kamu masih tidak melihatku, kamu kembali mengabaikan ucapanku, aku masih menatap kamu dengan heran, suasana disini sangat hening, bahkan tidak ada suara bus yang biasanya selalu setia menemani jalan ini. Aku masih tidak mengerti apa yang kamu ucapkan, kau kembali tidak bersuara bahkan ketika kamu dan aku sudah berada di depan pagar rumahku.
“Masuklah. Aku pulang” perintahmu sambil mengembalikan tasku lalu pergi meninggalkanku. Aku berjalan kedalam kamarku, merebahkan tubuhku tanpa mengganti bajuku. Aku tau kamu sangat merindukan JiYeon, karna akhir-akhir ini kamu lebih sering bersamaku dan jarang bersama JiYeon. Aku tidak tau sejak kapan aku mencintaimu, mungkin sejak pertama kali aku bercerita bahwa aku sudah putus dengan Luhan dua tahun yang lalu, dan sejak saat itu kamu lebih sering memperhatikanku karna kamu tidak ingin aku terus mengingat Luhan, yah sejak saat itu aku memang sudah melupakan Luhan tapi sekarang aku malah mencintaimu. Sekarang aku harus bagaimana? Apa aku harus meminta pertanggung jawabanmu? Aku tidak mungkin kan menyakiti JiYeon? Dia menjadi kekasihmu sudah 4 tahun, waktu yang sangat lama, dan aku tidak mungkin merebutmu dari kekasih cantikmu itu, aku tau rasanya dikhianati, Luhan bahkan berselingkuh dengan temanku sendiri, Krystal. Jadi tenanglah hatiku maih bisa merasakah sakit, sehingga aku tidak akan pernah merebut kekasih siapapun termasuk kamu. Dan mungkin tadi kamu mendengarkan lagu Lucky beberapa kali karna kamu merindukan kekasih cantikmu itu, kekasih yang dulu kau bilang sahabat terbaikmu bahkan sejak kamu TK. Aku baru saja akan menutup mataku tapi tiba-tiba HP ku berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Aku melihat siapa yang mengirim pesan dan itu dari kekasih cantikmu JiYeon.
(JiYeon. – Malam JiSoo, maaf mengganggu malammu. Boleh aku bercerita bertanya Sehun?) aku membaca pesan dari kekasihmu.
(JiSoo – Bicara saja, aku akan mencoba menjadi penjawab yang baik ) Aku membalas pesan dari kekasihmu, aku rasa kalian mempunyai ikatan batin yang baik dalam urusan membuat hatiku kacau.
(JiYeon- Aku mengirim pesan pada Sehun, tapi kenapa dia tidak membalas pesanku? Apa kalian sedang sibuk dengan urusan kampus?”) Tanpa menunggu lama kekasihmu membalas pesan dariku. Dan kenapa kamu tidak membalasa pesan dari kekasihmu? Jika kau membalas pesannya mungkin aku tidak akan tau urusan kalian.
(JiSoo- Iya, ada beberapa dosen yang memberi kami tugas yang begitu banyak dan sulit. Mungkin Sehun sedang sibuk dengan tugas-tugas itu) aku mencoba menjelaskan pada kekasih kamu agar dia tidak terlalu mencemaskanmu.
(JiYeon – Oh begitu, terimakasih JiSoo. Tolong jaga Sehun untukku ) kekasih kamu kembali membalas pesan, tapi aku tidak tau harus membalas bagaimana hingga aku memutuskan untuk menyimpan HP ku tanpa membalas pesan kekasih kamu. Terimakasih karna kalian sudah membuatku kacau malam ini.
---
Aku membuka mataku dengan berat, enggan meninggalkan tempat tidurku, memkirkan kalian sama seperti aku harus mengerjakan ribuan soal fisika yang sanagt sulit.
“JiSoo, cepat Sehun sudah menunggumu” Aku mendengar ibuku berteriak memanggilku, dan sekarang apalagi? Seharusnya kau tidak menjemputku lagi, apa kau menjemputku karna ingin menananyakan JiYeon? Dengan langkah lemas aku ke kamar mandi hanya untuk sekedar menggosok gigi dan membasuh wajahku, karna aku tidak berniat untuk berangkat ke kampus hari ini.
“Kau tidak berangkt kuliah?” Kamu berdiri sambil bertanya padaku, aku benci melihat wajahmu, karna jika aku melihat kamu aku juga mengingat JiYeon, tapi jika aku tidak melihat kamu aku sangat merindukanmu.
“Aku tidak enak badan” aku berbohong pada kamu, aku hanya ingin menggembalikan hatiku di tempat semula, dan memposisikan diriku di tempat semula sebagai sahabatmu, karna JiYeon sudah sangat mempercayaiku, aku tidak ingin mengecewakan siapapun.
“Mau aku antar ke dokter?” kamu menawarkan diri, apa kamu mencemaskanku sekarang? Berhentilah memperhatikanku, jika kau terus seperti itu aku tidak bisa melupakanmu.
“Tidak perlu. Kamu akan terlambat masuk jika kau tetap disini” aku mencoba mengingatkan kamu agar kamu berangkat kuliah.
“Baiklah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu” kini kamu berdiri bergegas pergi, aku mengantarmu hingga depan gerbang rumahku, aku tidak tau kenapa kamu masih berdiri menatapku bahkan ketika kamu sudah berada di atas motor sport mu. “Kamu yakin tidak mau aku antar ke dokter? Kamu ingin aku belikan sesuatu?”
“Aku baik-baik saja” aku memotong ucapanmu sehingga kamu berhenti bicara, sekarang kamu kembali memandangku, apa aku terlihat buruk ketika aku bangun tidur? “Pergilah” aku kembali mengingatkan kamu lalu kamu sekarang benar-benar pergi, dan aku kembali masuk kedalam kamarku, meski sedikit membosankan tapi ini lebih baik daripada aku harus melihatmu walaupun aku merindukanmu. Kamu bahkan terus mengirim pesan padaku tapi aku mencoba megabaikanmu meski aku sangat ingin membalas pesanmu. Rekor bertahan tanpamu untuk waktu terlama, 1 hari penuh.
“Kenapa kemarin kamu tidak membalas pesanku?” keesokan harinya kamu bertanya padaku ketika kamu baru saja sampai kedalam ruangan kelas, yah aku pergi lebih dulu dengan mobilku dan meninggalkanmu.
“Kemarin aku istirahan Sehun” aku kembali berbohong, dan memasang wajah normal seperti biasanya.
“Aku merindukanmu” seperti biasa kamu mengatakan hal-hal seperti itu sambil memelukku, aku bersyukur kamu kembali ke sifat awalmu yang hangat.
“Terimakasih sudah mencemaskanku Oh SeHun” aku membalas pelukanmu, karna aku juga sangat merindukanmu.
Sekarang aku dan kamu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, tapi di perpustakaan kamu tertidur diatas buku yang bahkan tidak kamu buka, sama sepertimu aku menaruh pipiku diatas buku sambil menatap wajahmu, aku kembali berfikir “Apa aku yang hanya memiliki perasaan seperti ini?” aku tau itu pertanyaan bodoh karna aku tau jawabannya, kamu hanya bisa melihat JiYeon, sedangkan untukku kamu hanya menganggapku sebagai sahabat yang menemani dunia sunyimu. HP mu tiba-tiba berbunyi tanda panggilan masuk, kau terbangun dari tidurmu lalu berlari bersama HP mu, cukup lama aku berada di dalam perpustakaan seorang diri hingga kamu kembali dengan tergesah-gesah.
“JiSoo. Aku harus pergi” Kamu kembali dengan wajah tergesah-gesah.
“JiYeon?” Aku bertanya, karna aku tau jika tentang JiYeon, kamu pasti akan meninggalkan semuanya. Termasuk aku. Kamu hanya mengangguk dan tanpa persetujuanku kamu pergi meninggalkanku. Karna aku tau kamu juga tidak bermagsud meminta persetujuanku.
----
Setelah kemarin kamu meninggalkanku untuk menemui JiYeon, sikapmu kembali sedikit berubah? Apa kemarin terjadi sesuatu pada kamu dan JiYeon. Sekarang kamu bahkan mengajakku kekebun sakura belakang kampus, kembali menikmati lagu Lucky, lewat earphone yang tersambung keHPmu, apa kamu benar-benar hanya memmpunyai satu lagu di HPmu? Sekarang aku menutup mataku seperti biasa, tapi tiba-tiba aku merasakan rambutku dan tubuhku basah oleh air dengan bau seperti air bekas mengepel lantai, dengan kaget aku membuka mataku, dan disana aku melihat JiYeon sudah berada di depanku dan kamu dengan membawa ember, apa kekasihmu yang melakukan ini padaku? aku masih duduk diam, mencoba memproses kejadian yang baru saja aku alami.
“JiYeon, apa yang kau lakukan?” Aku mendengar kamu membentak JiYeon, kemudian aku sudah melihat kamu berdiri di depan JiYeon.
“Aku memintamu menjaga Sehun, tapi bukan berarti kau bisa terus menempel pada Sehun dan membuat Sehun mencintaimu” sekarang kekasih kamu membentakku, tapi aku benar-benar tidak tau harus berakata apa. Dan kembali aku memproses ucapan kekasihmu, dia bilang kamu mencintaiku? Katakana padaku jika itu bohong. Tapi sekarang kamu bahkan memberikan jacketmu di tubuhku yang basah dan bau.
“Penghianat, Perebut pacar orang. Bicara padaku. kenapa kau hanya diam?” Kekasihmu kembali membentak dan sekarang memakiku. Penghianat? Perebut pacar? Aku benci mendengar kata itu, aku bahkan tidak merebutmu dari sisi kekasihmu, aku bahkan selalu mendengarkan rengekan kekasihmu ketika kamu mengabaikan kekasihmu, tapi sekarang kekasihmu bahkan mengatakan aku penghianat? Dan perebut pacar? Aku ingin marah tapi aku hanya biasa diam, aku pengecut. Semuanya karna kamu.
“Apa yang kau katakana? Jaga ucapanmu. Dan control emosimu. Kau sudah keterlaluan Park JiYeon” sekarang kamu membentak JiYeon dan menampar pipinya membuat JiYeon membungkuk kearahku lalu menamparku. Apa aku sekarang seperti orang gila? Dibentak, dihina, dan sekarang ditampar. Apa sekaranga aku mengenaskan? Memalukan? Bodoh? Gila? Sekarang aku rasa hal-hal seperti itu menempel pada diriku. Aku merasakan JiYeon menjauh dariku karna kamu sudah menariknya.
“Maaf” aku berdiri sambil mengatakan kata bodoh seprti itu ketika kamu mencoba akan menampar JiYeon kembali. Aku akan mencoba memahami posisi JiYeon,yah kekasih cantikmu cemburu padaku. Dengan tergesa-gesa aku pergi meninggalkan kamu dan kekasihmu. Aku mengendari mobilku dengan cepat, aku bahkan tidak peduli jika aku mati karna kecelakaan lalu lintas.
“JiSoo” Aku mendengar kamu berteriak memanggil namaku, dan aku masih memacu kecepatan mobilku hingga akhirnya kamu mengehentikan motormu di depan mobilku membuatku harus mengerem mobilku dengan cepat karna jika saja aku terlamabat mengerem mobilku maka nyawamu dalam bahaya dan aku tidak mau itu terjadi, kamu berjalan kearahku lalu membuka pintu mobilku lewat jendela mobilku yang tidak aku tutup, sekarang kamu menarikku ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian, aku tidak tau sejak kapan seoul memiliki banyak pohon sakura, yah karena sekarang aku dan kamu sudah berada dibawah pohon sakura, aku bahkan dapat merassakan puluhan bunga sakura yang jatuh mengenai tubuhku.
“JiSoo” aku mendengar kamu kembali memanggil namaku. “KIM JI SOO” sekarang kamu bahkan menggoyang-goyangkan tubuhku karna aku tidak kunjung menjawabmu, hingga akhirnya kamu memelukku. “Maaf” aku mendengar kamu mengatakan kata itu dengan nada suara yang bergetar sambil memelukku. Apa kamu menangis?
“Aku harus pergi” akhirnya aku menegluarkana suaraku tapi kamu tidak melepaskan pelukanmu dari tubuhku. “Sehun. Aku ingin pergi” dengan lemah aku mengatakan kalimat itu hingga kamu melepaskan pelukanmu.
“Aku mencintaimu” aku mendengar kamu mengatakan kalimat itu membuatku menatap wajahmu, hingga akhirnya aku merasakan bibirmu sudah berada dibibirku. Aku juga mencintai kamu, tapi aku tidak bisa memilikimu. Tidak.
“Aku harus pergi” aku mengakhiri ciuman ini dan pergi meninggalkanmu. sampai dirumah aku bersyukur karna tidak ada siapapun sehingga aku tidak harus menjelaskan apa yang terjadi padaku. aku terus merendam tubuhku di bathtub. Aku mendengar HPku berbunyi tanda panggilan masuk, dan aku masih enggan mengangkatnya meski sudah puluhan kali aku mendengarnya, hingga aku mendengar tanda pesan masuk, aku mengambil HPku dan membaca pesan dari kekasihmu.
(JiYeon – Maaf, aku hanya terlalu takut kehilangan Sehun ) hanya kalimat singkat tapi aku tau kekasih cantikmu terlalu takut kehilangamu setelah memebaca pesan dari kekasihmu aku menenggelamkan kepalaku kedalam air di bathtub berharap beban di kepalaku menjadi lebih ringan lebih-lebih karna kamu bahkan mengatakan kalimat itu dan menciumku. Aku senang karna ternyata cintaku terbalaskan, tapi aku tidak bisa bahagia diatas penderitaan orang lain.
---
Ini masih pagi tapi aku sudah mendengar suara motromu berhenti di depan rumahku, aku membuka jendeka kamaku yang menuju ke halaman rumahku, disana aku sudah melihat kamu berdiri di depan pagar rumahku.
“JiSoo” kamu memanggil namaku beberapa kali tapi aku masih enggak menemuimu, untuk waktu yang lama kamu masih di depan ruamhku dan aku masih melihatmu dari kamarku, aku beruntung ibuku berangkat ke Amerika menyusul ayah yang sedang bekerja disana, setidaknya jika ibuku tidak ada di rumah tidak ada yang memaksaku untuk menemui kamu. Aku tidak tau kenapa hujan turun begitu saja, aku berharap dengan turunnya hujan kamu akan pergi dari halaman rumahku, tapi ternyata tidak, kamu masih di depan pagar rumahku, membuatku terpaksa harus menemuimu.
“Pulanglah” pintaku dari balik pagar rumahku enggan membukakan pagar rumahku untukkmu.
“Kita harus bicara JiSoo” sekarang kamu mencoba membuka pagar rumahku.
“Pulanglah. Kamu bisa sakit” sekarang aku membuka pagar rumahku sambil memberikan jacket yang kemarin kamu pakaikan padaku, tapi kamu malah memelukku.
“Maaf jika semuanya membuatmu terluka. Aku mencintaimu” kamu kembali mengatakan kalimat itu.
“Terimakasih, setidaknya aku tau cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi aku mohon kembalilah pada JiYeon” aku melepaskan pelukanmu sambil menatap wajahmu.
“Tidak bisa. Aku sudah berusaha meyakinkan diriku, dan untuk waktu yang lama aku yakin aku mencintaimu JiSoo. Aku mencoba menahan perasaan ini, tapi kau tau sejak pertama kali aku melihatmu aku sudah mencintaimu tiga tahun yang lalu, jauh sebelum kamu putu dengan Luhan, aku tau aku salah, tapi sungguh sebelum aku mencintaimu aku sudah memastikan perasaanku untuk JiYeon dan itu hanya perasaan seorang sahabat, aku sudah bertahan lebih dari dua tahun memendam perasaan ini untukmu dan sekarang aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi” kamu menjelaskan semuanya, aku baru tau ternyata kamu mencintaiku lebih dulu dari aku mencintaimu, dan semuanya sunyi, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaan ini, dan kamu terlalu takut mengungkapkannya, tapi aku rasa semuanya sudah berakhir, JiYeon sangat mencintaimu. Aku tau rasanya kehilangan seseorang yang sangat aku cintai, dan aku tidak mau JiYeon mengalami hal yang sama.
“Terlambat Sehun. Kamu terlalu jauh melangkah, dan JiYeon tidak mungkin kamu abaikan begitu saja, JiYeon sangat mencintaimu. Aku juga mencintaimu, tapi aku tidak yakin cintaku padamu lebih besar dari cinta JiYeon padamu, aku hanya tidak ingin kamu menyesal” aku mencoba memberikan opsi pada kamu, aku mencintai kamu, sangat. Tapi JiYeon sudah mencintaimu untuk waktu yang lebih lama, aku tau waktu tidak bisa membuktikan apapun, tapi aku yakin waktu bisa merubah apapun.
“Jadi kamu akan mengabaikan perasaanmu dan aku?” kamu bertanya sambil memegang kedua pipiku, meski air hujan membasahi tubuhku dan kamu, tapi aku merasa pipiku hangat karna tanganmu.
“Aku mencintaimu” aku mengatakan kalimat itu, kalimat yang sudah bertahun-tahun ingin aku ucapkan padamu, apa aku salah? Sekarang kamu memelukku, setelah kamu melepaskan pelukanmu dengan keberanian yang tersisa aku mencium bibrmu. Untuk yang terakhir kali.
----
Setelah kejadian kemarin aku memutuskan untuk berhenti kuliah di Seoul dan melanjutkan kuliah di Paris tanpa memberi tahu siapapun termasuk kamu, dan ayah sudah menyuruh seseorang untuk mengurus kepindahanku dari kampus lamaku ke kampus yang ada di Paris. Ketika aku sudah berada di bandara aku menerima pesan darimu.
(Sehun – Kamu dimana?)
(JiSoo – aku akan pergi ke tempat dimana kamu tidak bisa menemuiku)
(Sehun – Tunggu aku. Aku mencintaimu)
(JiSoo – Aku mencintaimu. Jika aku memang takdirmu dan aku memang takdirku kita akan berjumpa kembali di bawah pohon sakura. Aku pergi) itu pesan terakhir yang aku kirimkan pada kamu, sambil menatap kelopak sakura yang dulu aku ambil dari atas kepalamu yang sekarang sudah mongering, lalu kembali memasukan kelopak sakura itu kedalam dompetku, kemudian aku pergi dari Seoul, dari kamu.
---
3 tahun kemudian.
Tiga tahun aku berada di Paris rekor baru Tiga tahun tanpamu, tapi aku masih merindukanmu, sekarang aku kembali ke Seoul, tempat pertama yang aku temui, pohon sakura di belakang kampus lamaku, berjalan diantar jejeran pohon sakura tanpamu, semuanya terlihat begitu indah karna bunga sakura mulai menggugurkan diri dan menutupi jalan. Apa aku berharap kamu jodohku? Sehingga aku kembali kesini. Aku melihat kesekeliling dan tidak ada kamu disini. Untuk beberpa saat aku mendengarkan lagu Lucky dibawah pohon sakura, dan kamu masih tidak ada. Apa aku terlalu berharap? Mungkin kamu kembali pada JiYeon. Aku menghentikan lagu itu dan bergegas pergi meninggalkan tempat ini, tapi baru saja aku berdiri aku mendengar langkah seseorang dari balik tubuhku, aku memutarkan tubuhku dan disana aku melihat kamu sudah berdiri menatap lurus kearahku. Aku masih diam sambil tersenyum tipis karna bahagia, apa kamu jodohku? Sekarang aku melihat kamu berjalan kearahku.
“Aku tau kamu pasti kembali” sekarang kamu sudah berada tepat di depanku.
“Aku mencintaimu” aku kembali mengatakan kalimat yang lima tahun lalu aku ucapkan pada kamu, aku tidak peduli jika pada akhirnya kamu kembali pada JiYeon, atau bahkan sudah melupakanku.
“Aku sudah menunggumu selama 1095 hari, dan sudah mencintaimu selama 2190 hari, setiap hari mengunjungi tempat ini berharap kamu kembali, karna aku yakin kamu takdirku. Dan kamu kembali. Aku juga mencintaimu” kamu membalas ucapanku, kamu tau aku sangat bahagia, aku menocba melupakan kamu, tapi aku tidak bisa, aku mencintaimu, sangat. Dan aku bersyukur kamu juga masih mencintaiku. Kamu memelukku lalu menciumku. Aku bahagia. Aku mencintaimu lebih banyak dari jutaan kelopak sakura yang berjatuhan.
-fine-

0 komentar