Swift

DIFFERENT (Oneshoot)




CAST: Anda akan menemukannya jika anda membacanya 
Gendre : Tentukan sendiri 

Rate : 15+
Author : JN




Aku mencintainya karna dia berbeda, aku berpisah dengannya karna ‘kita’ berbeda.


Chanyeol : Dia tidak lebih cantik dari gadis impianku Sandara Park, dia tidak lebih cantik dari gadis popular di kampusku Im Yoona, dia bukan gadi tersexy di kampusku seperti Kwon Yuri, dia tidak memiliki suara terbagus seprti teman kelasku IU, dia tidak memiliki tubuh barbie seperti senior di kampusku Park Bom, dia tidak memiliki wajah imut seperti Naeun, dia tidak memiliki kulit cerah seperti ketua senat di kampusku Kim Tae Yeon, dia tidak memilikii tubuh tinggi seperti manatan kekasihku Choi Sulli, dia tidak lebih modis dari tetanggaku Krystal Jung. Dia berbeda dan itu alasan kenapa aku mencintainya, tapi aku tidak pernah berfikir perbedaan dapat merubah segalanya. Dia mengatakan padaku “aku tidak akan merubah apapun dari hiidupku, aku juga tidak akan memintamu merubah apapun dihidupmu. Kita berbeda, karna aku tau diantara aku dan kau tidak ada yang bisa berubah demi siappaun, bahkan demi ‘kita’, aku sudah tau akhir dari kita”




Kota Seoul masih terselimuti miliaran butir salju yang turun dari langit saat seorang pria bertubuh tinggi berjalan menerobos butiran salju sambil memegang injil di tangan kanannya, langkah kakinya sedikit melambat ketika dia melihat seorang wanita yang tengah berdiri di depan pagar gereja sambil menyandarkan tubuhnya di pinggir tembok pagar gereja.

“Dia seorang muslim? Aku pernah mendengar tentang orang yang berpakaian seperti itu” Gumam Chanyeol dalam hati ketika dia melihat wanita berhijab dengan syal putih yang melingkar di lehernya dan menutupi mulutnya hingga yang terliat hanya mata besarnya. Chanyeol masih mentap wanita yang tengah menunduk hingga dia menyadari waktunya sudah hampir habis jika dia terus menatap wanita itu, lalu dia memutuskan kembali mempercepat langkah kakinya dan mengabaikan rasa penasarannya. Hampir dua jam Chanyeol berada di gereja, dia keluar dari gereja bersama beberapa temannya, ketika dia keluar dari pagar gereja gadis yang sangat mencolok karena hijabnya sudah pergi sambil menggandeng wanita di sampingnya yang tidak menggunakan hijab.


Satu bulan berlalu dan setiap hari minggu Chanyeol selalu melihat gadis berhijab itu selalu berdiri di depan pagar gereja yang selalu dia kunjungi, dan itu sedikit menggangu pikirannya.

“Permisi” Sapa Chanyeol yang sekarang sudah berada di depan gadis berhijab yang tengah menunduk, membuat gadis berhijab itu mengangkat kepalanya. Karna kaget gadis itu langsung mencopot earphone yang menempel di telingannya sambil menatap Chanyeol dengan heran.

“Sedang apa anda disini?” Chanyeol bertanya dengan nada seformal dan senormal mungkin.

“Apa saya mengganggu anda?” Gadis berhijab itu bertanya sambil melonggarkan syal yang menutupi mulutnya, tapi Chanyeol terpaku mendengar suara gadis berhijab di depannya. 

‘Suara yang indah’ hanya itu yang dapat Chanyeol simpulkan dari suara gadis di depannya. 

“Saya sedang menunggu teman saya yang sedang mengikuti keagamaan di dalam gereja” Gadis berhijab itu kembali bersuara membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya.

“Oh.” Chanyeol mencoba menetralisir kegugupannya “Disini sangat dingin. Kau bisa menunggu temanmu dirumahku” Seru Chanyeol membuat gadis berhijab itu membulatkan matanya. “Ah magsudku di café ibuku, kebetulan ibuku memiliki café disekitar sini.” Chanyeol melanjutkan ucapannya membuat gadis berhijab melonggarkan tatapannya “Dibelakang gereja. Kau bisa menunggunya disana. Udara diluar sangat dingin” Chanyeol kembali mencoba meyakinkan gadis di depannya, entahlah Chanyeol mungkin hanya merasa kasihan.

“Aku sudah biasa. Terimakasih atas tawarannya” Gadis berhijab itu menolak dengan halus, enggan meninggalkan syal yang sedikit menutupi mulut dan hidungnya.

“Aku tau, tapi ini sudah sangat dingin. Kau bisa sakit jika terus disini” Sekarang nada suara Chanyeol sedikit kesal, dan Chanyeol tidak menyadari perubahan suaranya, membuat gadis berhijab itu menghela nafas berat. “Aku bukan pria jahat, percaya padaku. lihatlah, tidak ada orang yang berada di luar, ini adalah puncak suhu dingin di Seoul” Seru Chanyeol sambil menunjuk jalanan yang sepi.

“Baiklah” Gadis berhijab itu menyerah dan menyetujui ajakan Chanyeol dengan sepontan Chanyeol menarik gadis berhijab pink muda itu, tapi langkah kakinya terhenti karna Chanyeol merasakan sperti di tarik, Chanyeol membalikan tubuhnya kemudian dia melihat gadis berhijab itu berdiri membeku sambil menatap tangan Chanyeol yang menggenggam pergelangan tangannya.

“Mian. Aku tidak bermagsud” Sesal Chanyeol sambil melepaskan genggamannya “Ayo ikuti aku” Sambung Chanyeol disusul anggukan gadis berhijab itu. Chanyeol memimpin perjalanan hingga dia masuk ke sebuah café bergaya Itali. 

“Duduklah disini.” Seru Chanyeol ketika mereka sudah berdiri di depan meja yang ada di pinggir jendela 

“Kau mau minum coffe?” Chanyeol bertanya dengan senyum idiotnya.

“Hmm. Apa disini halal?” Gadis berhijab itu bertanya dengan ragu.

“Aku tidak tau apa itu halal. Tapi ada banyak penguunjung yang memakai pakaian sepertimu yang datang kemari untuk sekedar memesan coffe” Jawab Chanyeol masih dengan senyum idiotnya. Chanyeol bahkan tidak tau mengapa dia terus memasang senyum idiotnya pada orang asing yang ada di depannya.

“Baiklah. Coffe latte satu” Gadis berhijab itu menjawab di susul dengan angguka Chanyeol. Beberapa menit kemudian Chanyeol datang sambil membawa segelas Coffe Latte diatas nampan.

“Semoga kau suka.” Seru Chanyeol sambil menaruh Coffe Latte di atas meja membuat gadis berhijab itu mengalihkan pandangannya dan melihat Chanyeol yang sudah berada di depannya. Chanyeol terdiam menatap gadis berhijab di depannya karna sekarang dia bisa melihat wajah cantik gadis itu dengan Syal yang sudah tidak menutupi mulut dan hidungnya lagi.

“Terimakasih” Jawab gadis berhijab itu dengan senyum tipisnya membuat Chanyeol terdiam. “Hey” Gadis berhijab itu kembali mengeluarkan suara sambil mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Chanyeol membuat Chanyeol tersadar.

“Ah. Maaf.” Seru Chanyeol mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sedikit melemah hanya karna senyuman tipis itu. “Siapa nama temanmu yang selalu kau tunggu?” Chanyeol Bertanya ketika dia sudah duudk di kuris yang ada di depan gadis berhijab itu.

“Song Minji. Kau tidak kembali ke gereja?” Gadis berhijab itu bertanya dengan heran.

“Oh, aku tau dia. Aku akan ke gereja sekarang” Seru Chanyeol berjalan pergi tapi baru dia membuka pintu dia kembali berlari menuju meja gadis berhijab itu.

“Namamu siapa? Aku akan mengatakan pada Minji jika kau menunggunya disini” Tanya Chanyeol.

“Sarah” Jawab gadis berhijab sambil tersenyum tipis.

“Sal nah?” Chanyeol bertanya dengan tidak yakin.

“Sa Rah.” Ulang gadis berhijab itu kemudian dia melihat Chanyeol yang kebingungan “Kau bisa memanggilku Park Hae Rin, itu nama Korea ku. Aku juga sudah mengirim pesan pada MinJi jika aku menunggunya disini” Sambung Park Hae Rin membuat Chanyeol kembali tersenyum seperti idiot.

“Ah baiklah, Hae Rin. Nikmati minumanmu. Bye” Kini Chanyeol benar-benar pergi meninggalkan Hae Rin.

Seperti biasa selama lebih dari tiga jam dia menunggu sahabatnya, sekarang hanya tempat yang membedakannya, dan lebih dari satu bulan dia melakukan hal yang sama di negra yang baru dia tempati ini. Lebih dari dua jam berlalu hingga pintu café di buka oleh sosok wanita berambut hitam dan panjang, Song MinJi langsung menghampiri Hae Rin dan membawanya pergi dari Café bernuansa Itali itu.

Chanyeol berlari dari gereja dia takut jika Hae Rin pergi sebelum Chanyeol melihatnya, entahlah Chanyeol tiba-tiba begitu peduli dengan gadis asing yang baru saja dia temui itu. Chanyeol berlari memasuki café orang tuanya, tapi dia tidak melihat Hae Rin disana.

“Yeol ada titipan untukmu” Kakak wanita Chanyeol memanggil sambil menaruh selembar kertas di atas meja Kasir. Chanyeol langsung berlari mengambil kertas itu, sebuah pesan singkat untuknya.

[ Terimakasih. Maaf aku tidak berpamitan terlebih dulu denganmu. Have a nice day ^^. – Park Hae Rin]

Hanya satu garis kalimat tapi mampu membuat segaris senyum di bibir tebal Chanyeol. Chanyeol memasukan kertas itu kedalam dompetnya lalu pergi meninggalkan Café.


Sekarang masih musim salju, salju bahkan turun semakin lebat, tapi ratusan mahasiswa itu masih melakukan pelayanan di sebuah desa, memberikan makanan pada orang-orang atau sekedar bermain dengan anak kecil. Chanyeol masih membagikan makanan pada orang-orang yang sedang antri, tapi pandangannya terkunci pada sosok gadis yang sangat mencolok Park Hae Rin, meskipun ada beberapa gadis yang berpakaian seperti Hae Rin tapi bagi Chanyeol Hae Rin tetap yang paling mencolok dengan keindahannya.

“Kyungso. Tolong gantikan aku, aku memiliki beberapa urusan” Pinta Chanyeol sambil melepas clemek yang dia pakai. Chanyeol berjalan kearah Hae Rin yang sekarang tengah mengambil beberapa sampah yang tercecer di jalan, Chayeol dengan sepontan membantu Hae Rin, ketika tangan Chanyeol masuk kedalam plastic besar yang di gunakan untuk menampung sampah Hae Rin mengangkat wajahnya dan sudah melihat Chanyeol di sampingnya.

“Kenapa kau bisa disini?” Tanya Chanyeol membuat aktifitas Hae Rin terhenti.

“Aku mahasiswa di Seoul National University. Pertukaran pelajar” Jawab Hae Rin masih dengan wajah kaget “Kau?” Hae Rin bertanya sambil menunjuk wajah Chanyeol.

“Aku mahasiswa di Sungkyungkwan smester 5” Jawab Chanyeol “Aku Park Chanyeol. Aku belum sempat memperkenalkan diri” Sambung Chanyeol sambil mengulurkan tangannya dan Hae Rin membalas uluran tangan Chanyeol. “Aku mengambil jurusan Seni. Kau?” Tanya Chanyeol kemudian mereka mengakhiri acara jabat tangan mereka yang berlangsung beberapa detik itu.

“Aku keperawatan smester 5” Jawab Hae Rin singkat

Canggung

Diam 

Diam 

Hening 

“Hai” Suara Baekhyun menyadarkan Hae Rind an Baekhyun memecah keheningan sambil menepuk pundak Chanyeol.

“Ada apa Bacon?” Chanyeol bertanya dengan nada sedikit kaget.

“CALL ME BAEKHYUN NOT BACON!” Baekhyun berteriak membuat Hae Rin dan Chanyeol menutup telinga mereka.

“Pelankan suaramu” Gerut Chanyeol sambil mengusap telinganya.

“Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya lagi” Baekhyun memberi peringatan pada Chanyeol “Hai. Kau teman Chanyeol?” Pandangan Baekhyun beralih pada Hae Rin dan Hae Rin hanya menganguk sambil tersenyum tipis “Bisa berbicara bahasa Korea?” Baekhyun bertanya kembali.

“Bisa. Meski logatku agak sedikit aneh” Hae Rin menjawab dengan logat yang sedikit aneh.

“Oh. Aku Byun BaekHyun. Kau bisa memaggilku Baekhyun, aku tidak akan memaafkanmu jika kau memanggilku Bacon” Baekhyun memberiperingatan dengan wajah lucunya.

“Ah. Baiklah Baekhyun” Seru Hae Rin sedikit canggung.

“Anak manis. Sekarang ayo kita pergi, ini saatnya kita makan” Seru Baekhyun sambil berjalan meninggalkan Chanyeol dan Hae Rin. Beberapa detik kemudian Hae Rin mendapat pesan singakt di HP nya. 

[Aisyah = Sarah cepat ini saatnya makan, orang-orang sudah menunggumu]

“Ayo kita makan” Ajak Chanyeol menyadarkan Hae Rin.

“Maaf Chanyeol, aku tidak bisa ikut denganmu. Itu bukan tempatku” Tolak Hae Rin lembut.

“Kenapa? Apa karna universitas kita berbeda?” Chanyeol bertanya dengan heran

“Bukan, magsudku ada bebrapa aturan dalam agama bukan? Ah bagaimana menjelaskannnya…” Seru Hae Rin kaku.

“Kau tidak perlu menjelaskan. Aku mengerti, tentang Halal?” Chanyeol bertanya dengan tidak yakin “Kalau begitu apa aku boleh ikut makan dengan kalian?” Chanyeol kembali bertanya dengan senyum idiotnya.

“Tentu, tapi aku tidak yakin kau akan menyukai makanan kita” Hae Rin menjawab dengan senyum tipisnya.

“Aku menyukai segala jenis makanan” Timpal Chanyeol lalu mereka pergi menuju ke sebuah tenda dan duduk dikuris dengan meja yang memanjang. 

“Kau berasal dari mana?” Chanyeol bertanya ketika mereka selesai makan.

“Apa kau tertarik dengan hidupku?” Hae Rin kembali bertanya sambil menyipitkan matanya.

“Ah tidak hanya saja, magsudku..” Chanyeol salah tingkah

“Hanya saja karna aku berbeda dengan kalian?” Hae Rin memotong ucapan Chanyeol.

“Maaf jika itu mengganggumu, aku tidak bermagsud” 

“Tidak apa-apa, ayolah aku hanya becanda” Timpal Hae Rin dengan tawa ringannya, dan sekali lagi membuat Chanyeol terdiam menatap tawa Hae Rin. “Aku dari Indonesia” Kali ini Hae Rin menjawab pertanyaan Chanyeol dan menghasilkan suara ‘O’ dari mulut Chanyeol.

“Semuanya dari Indonesia?” Chanyeol kembali bertanya dengan hati-hati.

“Tidak, 10 orang dari Indonesia, 20 dari Malaysia, 15 dari Brunei, dan semua yang ada di sini Muslim” Jawab Hae Rin. “Chanyeol ssi, kami harus pergi sekarang” Sambung Hae Rin setelah melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul 12:21.

“Hae Rin ssi.” Seru Chanyeol setelah Hae Rin sudah menjauh beberapa langkah membuat Hae Rin terdiam menunggu kalimat Chanyeol selanjutnya “Bisa kita bertemu lagi?” Chanyeol bertanya dengan penuh harap.

“Tentu, setiap hari minggu aku selalu menunggu Minji, aku akan menunggunya di café ibumu, aku menyukai Coffenya. Semoga kita bertemu disana” Hae Rin menjawab dengan senyumnya.

“Baiklah, semoga kita bertemu” Timpal Chanyeol lalu Hae Rin melanjutkan langkahnya.

“Hae Rin ssi” Chanyeol kembali memanggil Hae Rin membuat langkah Hae Rin terhenti kembali, Chanyeol hanya merasa enggan untuk berpisan dengan Hae Rin, ini sangat menyiksanya.

“Iya?” Seru Hae Rin dengan nada bertanyanya.

“Hati-hati di jalan” Seru Chanyeol membuat Hae Rin tersenyum dengan anggukannya lalu untuk kali ini Chanyeol benar-benar membiarkan gadis berhijab putih itu menghilang dari pandanggannya.


Untuk pertama kalinya Chanyeol begitu merindukan hari minggu, untuk pertama kalinya Chanyeol datang ke Café ibunya ketika seharunya dia masih bergelut dengan mimpinya di atas kasur empuknya, untuk pertama kalinya Chanyeol duduk di sudut café dengan gelisah sambil menunggu pintu Café nya terbuka oleh gadis berhijab itu, untuk pertama kalinya Chanyeol menghabiskan dua cangkir coffe latte yang biasanya sangat dia benci, hanya karena gadis bernama Hae Rin mengatakan jika dia sangat menyukai Coffe Latte Chanyeol berubah menyukai Coffe Latte, untuk pertama kalinya Chanyeol merasa kecewa karna pintu itu tidak kunjung di buka oleh gadis berhijab itu.

“Yeol ayo kita ke gereja sekarang, kita sudah hampir terlambat” kini suara dari kakak perempuannya membuyarkan lamunannya membuat Chanyeol menyerah pada waktu dan meninggalkan Café dengan lemas. 

Selama di gereja Chanyeol merasa ada sesuatu yang hilang, dia bahkan tidak mendengarkan ocehan Baekhyun yang sedang membicarakan Chorong gadis yang dia sukai ketika mereka berjalan di depan lingkungan gereja.

“PARK CHANYEOL” Kini suara Baekhyun naik puluhan oktaf ini tidak seperti suaranya ketika menyanyi di gereja ini lebih seperti pecahan kaca yang merusak telingan Chanyeol.

“Apa si kau Con” Gerut Chanyeol sambil mengelus daun telinganya dia bahkan tidak menyadari ekspresi Baekhyun yang sudah melewati siaga 1.

“Con? Setelah kau memanggilku Bacon, sekarang kau memanggilku Con?” Seru Baekhyun tidak terima.

“Berhenti mengocek Byun BaekHyun. Aku minta maaf, jadi ayo kita ke Café ibuku dan makan sepuasmu. Itu permintaan maaf dariku” Seru Chanyeol mencoba menghentikan kegilaan dari suara Baekhyun, Chanyeol tau suara Baekhyun sangat bagus ketika dia menyanyi tapi ketika Baekhyun mulai marah maka suaranya tidak akan lebih bagus dari kentut sapi (?).

“Kau harus sering melakukannya Yeol, aku sangat menyukai pastamu” Seru Baekhyun sambil merangkul pundak Chanyeol dengan usaha kerasnya menjinjitkan kakinya agar dia bisa merangkul pundah lebar Chanyeol sambil terus memasang senyum gilanya. Mereka terus berjalan melewati puluhan orang untuk menuju café Chanyeol, ketika BaekHyun membuka pintu Baekhyun langsung menyikut tangan Chanyeol.

“Apa?” Tanya Chanyeol dengan ketus.

“Itu” Timpal Baekhyun sambil mengarahkan pandangannya pada sosok gadis berhijab biru yang tengah melambaikan tangannya pada Baekhyun dan Chanyeol, sehingga sukses membuat detak jantung Chanyeol berpacu lebih cepat dari biasanya. “Yah. Park Chanyeol tutup mulutmu. Kau menjijikan” Sambung Baekhyun menyadarkan lamunan Chanyeol dan menyusul Baekhyun yang sudah berjalan menuju meja Hae Rin.

“Sudah lama?” Baekhyun bertanya ketika pantatnya baru saja menempel pada kursi yang ada di depan Hae Rin.

“Tidak, pesananku baru saja sampai” Jawab Hae Rin sambil mengangkat cangkir coffe yang ada di depannya.

“Aku kira kau tidak datang” Entahlah pernyataan itu keluar begitu saja dari mulut Chanyeol ketika dia baru saja duduk di samping Chanyeol.

“Aku tau alasan dari sikapmu raksaksa” Bisik Baekhyun tapi itu tidak berpengauh besar untuk Chanyeol karna Chanyeol masih focus pada gadis di depannya. “Chanyeol tergila-gila padamu Hae Rin” pernyataan Baekhyun sontak membuat mata Chanyeol membulat.

“Hahah. Kau sangat lucu Baekhyun. Kami baru bertemu tidak lebih dari 3 kali” Timpal Hae Rin dengan tawa ringannya. 

“Yah tapi aku sudah melihatmu lebih dari 10 kali saat kau menunggu Minji di depan gereja” Batin Chanyeol.

“Aku tidak menyangka kau sangat mudah bergaul Baekhyun, aku pikir kau pria dingin” Seru Hae Rin.

“Radar di tubuh Baekhyun sanggat akurat jika itu berhubungan dengan wanita, bahkan jika itu hanya seekor kambing betina” Bisik Chanyeol.

“Aku mendengarnya Park Chanyeol” Gerut Baekhyun menghasilkan senyum dari Hae Rin dan Chanyeol.

“Bukanha kau menunggu Minji? Apa Minji belum datang?” Chanyeol bertanya sambil menatap setiap sudut ruangan dan jalan di depan Cafenya. 

“Dia tidak ke gereja, dia sedang memiliki urusan dengan keluarganya. Aku kesini karna aku merindukan coffe ini” Hae Rin menjawab sambil mengangkat cangkir coffe yang dia pegang lagi-lagi hanya suara ‘O’ yang keluar dari mulut Chanyeol.

Diam 

Diam 

Diam

“Yah kenapa sasana menjadi diam seperti ini?” Suara Baekhyun memecahkan keheningan ketik Baekhyun sudah menyelesaikan makanannya.

“Kami berbicara, kau yang terlalu sibuk dengan makananmu” Timpal Chanyeol kaku membuat Baekhyun menganggukan kepalanya ringan.

“Baikal, nikmati waktu kalian, karna aku harus pergi. Terimakasih atas pastanya Yeol” Seru Baekhyun bangkit dari kursinya. “Hae Rin, aku pergi duluan. Hati-hati Chanyeol bisa tiba-tiba memakanmu” Smabung Baekhyun laluu meninggalkan Hae Rin dan Chanyeol begitu saja.

Diam

Diam

Canggung 

“Mmm. Chanyeol ssi, aku rasa aku juga harus pergi, sudah lebih dari 2 jam aku disini” seru Hae Rin sambil merapihkan beberapa barangnya kedalam tas lalu berdiri sambil mengambil dompet yang ada di tasanya.

“Kau tak perlu membayarnya” Seru Chanyeol ketika dia dan Hae Rin sudah berada di depan kasir.

“Hahah. Apa yang kau katakana? Aku pembeli jelasa harus membayar makanan yang aku pesan” Timpal Hae Rin sambil memberikan beberapa lembar uang pada kasir “Ambillah” Sambung Hae Rin karna penjaga kasir tidak kunjung mengambil uang yang ada di tangannya.

“Aku temanmu” Seru Chanyeol membuat penjaga kasir yang hendak mengambil uang dari tangan Hae Rin kembali menurunkan tangannya.

“Lalu?” Hae Rin bertanya. 

“Jadi kau tidak perlu membayar tagihanmu” Jawab Chanyeol.

“Aku tau, tapi ayolah ini café ibumu Chanyeol, aku tidak bermagsud merendahkanmu tapi aku tidak memiiki alasan untuk menerima kebikanmu” Seru Hae Rin sambil menaruh uangnya keatas tangan penjaga kasir wanita yang masih menatap Hae Rin dan Chanyeol dengan heran. “Bye. Semoga kita berjumpa lagi” Sambung Hae Rin lalu meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam.

Chanyeol masih memproses kesadarannya, bagaimana jika Hae Rin sudah bosan dengan coffe yang ada di café nya? Bagaimana jika Hae Rin tidak mengantar Minji ke gereja seperti biasa? Bagaimana jika Hae Rin perlahan melupakannya? Bagaiman jika Hae Rin hanya menganggap pertemuannya hanya sebuah angin lalu? Chanyeol bahkan tidak memilki alasan agar Hae Rin menemuinya kembali, Chanyeol bahkan tidak mempunyai hal yang dapat membuat dia beremu dengan Hae Rin lagi, Bagaimana jika Chanyeol tidak bisa melihat Hae Rin lagi? Pertanyaan-pertanayaan seperti itu memebuat Chanyeol tersadar dari lamunannya sehingga dia berlari mengejar Hae Rin yang sudah beberapa menit keluar, Chanyeol yakin Hae Rin masih berjalan karna halte masih sangat jauh, Chanyeol terus berlari melewati garis kemampuan berlarinya.

“PARK HAE RIN!” Chanyeol berteriak ketika dia melihat gadis berhiijab biru udah berada di depannya dengan punggung yang membelakanginya, Hae Rin yang merasa namanya di panggil membalikan tubuhnya, dengan perlahan Chanyeol beralan mempersempit jarak antara mereka berdua.

“Bisa kita bertemu lagi?” Chanyeol bertanya dengan terengah-engah mencoba mengontrol nafasnya.

“Tentu, jika takdir menemukan kita” Timpal Hae Rin.

“Aku pikir……” Ada jeda beberapa saat membuat Hae Rin menatap Chanyeol dengan heran “Aku pikir aku mencintaimu” Sambung Chanyeol membuat Hae Rin kaget. “Aku mencintaimu Park Hae Rin” Chanyeol mengulang kalimatnya, dan saat itu juga dedaunan berguguran meninggalkan ranting menandakan musim salju akan segera berakhir.

“Aku tidak tau harus menjawab apa. Tapi mari kita jalani apa yang sudah tuhan tulis” Samar-samar Hae Rin menjawab pertanyaan Chanyeol. “Aku pergi Park Chanyeol. Bye” Sambung Hae Rin lalu berjalan memasuki bus yang ada di sampingnya, sedangkan Chanyeol masih diam di tempatnya masih memproses kalimat Hae Rin sambil menatap kepergian Hae Rin, ‘jalani apa yang sudah tuhan tulis’ kalimat itu masih terasa menganjal di otaknya, setelah Hae Rin menghilang dari pandangannya Chanyeol kembali ke Café nya.


Chaneyol menjalankan hari seperti biasa, masih begitu merindukan hari minggu, Chanyeol pernah bertemu Hae Rin di namsan tower, Hae Rin pergi bersama sahabatnya Minji dan Chanyeol bersama Baekhyun, saat itu Chanyeol yakin tuhan masih mengijinkannya mencintai Hae Rin, Chanyeol bahkan menulis namanya dengan Hae Rin di gembok cinta.

{Park Chanyeol Love Park Hae Rin – Mari kita bertemu lagi dengan jalan tuhan}

“Kau menyukainya?” Chanyeol bertanya ketika mereka hendak pergi.

“Sangat” Hae Rin menjawab sambil memakan ice cream yang dia pegang.

“Aku tidak menyangka pertemuan melalui takdir tuhan sangat menyenangkan” Seru Chanyeol dengan senyum idiotnya.

“Hmm?” Seru Hae Rin mencoba memperjelas ucapan Chanyeol.

“Tidak, lupakan saja” Timpal Chanyeol, lagi-lagi mereka kembali diam, entah mengapa jika bersama dengan Hae Rin suasana diam begitu menyenangkan bagi Chanyeol, Chanyeol bahkan tidak mengerti kenapa dia bisa mencintai wanita yang ada di sampingnya, Chanyeol bahkan tidak pernah berfikir jika dia bisa mencintai wanita seperti Hae Rin.

“Terimakasih. Kami pergi dulan” Seru Hae Rin sambil membungkuk lalu pergi meinnggalkan Chanyeol dan Baekhyun, bersama Minji.

“Kita juga pergi Yeol” Seru Baekhyun sambil menarik tangan Chanyeol. Disana mereka berpisah melawa jalan satu sama lain, tapi Chanyeol masih berharap jalan yang tuhan berikan selau berakhir dengan Hae Rin, bertemu Hae RIn lagi, Chanyeol masih berharap jalan tuhan selalu sama dengan yang dia harapkan, Hae Rin. Chanyeol tau antara dirinya dan Hae Rin tidak tertulis dengan jelas jika mereka ada sepasang kekasih, tapi Chanyeol selalu berfikir jika Hae Rin adalah sesuatu yang berharga untuknya.


Kota Seoul sudah tidak di selimuti salju lagi, dua minggu berlalu sejak kejadian di namsan tower itu, Chanyeol masih merindukan hari minggu, tapi dua kali minggu berlalu Chanyeol tidak melihat Hae Rin duduk di café nya lagi. Apa karna musim salju berlalu, sehingga Hae Rin tidak menyukai coffe di café nya lagi? Sekarang masih hari kamis dan itu masih lama menuju hari minggu, Chanyeol masih duduk di kursi dimana Hae Rin biasa duduk sambil mengaduk coffe latte yang dia pesan.

‘Clek clek’ suara pintu terbuka entah mengapa Chanyeol begitu tertarik dengan suara pintu itu, Chanyeol merasa itu Hae Rin, dan perasaannya tidak pernah salah, sekarang gadis berhijab putih dengan motif bunga berwarna merah itu sedang berjalan menuju Chanyeol, menghasilkan kurva senyuman di bibir Chanyeol.

“Lama tidak jumpa” Seru Hae Rin ketika dia sudah duduk di depan Chanyeol.

“Sangat lama” Timpal Chanyeol membetulkan duduknya “Coffe?” Tanya Chanyeol.

“Boleh” Hae Rin menjawab sambil menaruh tasnya. Kemudian Chanyeol memberi isyarat pada pelayannya unntuk mengambilkan segelas Coffe Latte, tidak lama kemudian segelas Coffe Latte sudah tersaji di depan Hae Rin.

“Ini buka hari minggu” Seru Chanyeol heran.

“Aku hanya akan mengatakan beberapa hal padamu Chanyeol. Aku tidak tau apa penting aku mengatakan ini padamu, tapi Karen akau sudah menganggapmu sebagai sahabatku jadi aku putuskan aku akan menyampaikan ini” Timpal Hae Rin sambil mengaduk-aduk coffe yang ada di depannya.

“Aku harap bukan berita buruk” Seru Chanyeol penuh harap.

“Terimakasih untuk waktumu” Seru Hae Rin dengan senyum tipisnya.

“Aku benci kalimat terimakasih ketika aku bahkan tidak melakukan apapun” Timpal Chanyeol dengan perasaan tidak enak, karna dia yakin akan ada kabar buruk dari pembicaraan ini.

“Aku akan kembali ke Indonesia, setelah itu aku akan ke palestina untuk menjadi relawan disana. Bukankah itu kabar baik?” Hae Rin bertanya masih dengan senyumnya tapi Chanyeol masih diam “Aku tau akhir dari ‘kita’ akan seperti ini, itulah alasanku untuk tidak menjawab pernyataan cintamu, aku hanya tidak ingin kau lebih kecewa” Sambung Hae Rin.

“Kenapa ini terdengar seperti mendadak?” Chanyeol bertanya 

“Aku juga baru ingat beberapa hari yang lalu, mungkin aku terlalu asik disini dengan kalian” Hae Rin menjawab sambil mengaduk-aduk coffe yang bahkan belum dia minum.

“Hae Rin apa karna agama kita berbeda kau tidak mau menerimaku? Karna jarak yang akan memisahkan kta kau tidak mau menerima cintaku?” Chanyeol bertanya dengan bola mata memerah menahan tangisnya.

“Tentang agama? Jujur ia. Kita sangat berbeda Chanyeol, perbedaan yang sangat nyata” Ada jeda beberapa saat sebelum Hae Rin melanjutkan kalimatnya. “Dan aku tidak ingin berandai-andai tentang itu. Kau pria yang baik, aku menyukaimu. Jujur. Tapi perbedaan yang mengharuskanku tidak memberikan hatiku untukmu. Kau sungguh pria yang baik, kau akan mendapatkan yang lebih dariku, mari kita akhiri disini”

“Mengakhiri? Apa yang harus di akhiri? Kita bahkan belum memulainya” Timpal Chanyeol sedikit emosi tapi Hae Rin hanya membalasnya dengans enyum tipis di bibirnya.

“Aku bersyukur mengenalmu disini. Kau pria paling tampan yang pernah aku temui” Seru Hae Rin dengan tawa ringannya.

“Jangan tertawa seolah-olah kau tidak melakukan apapun padaku. Aku membencimu” Timpal Chanyeol membuat tawa Hae Rin terhenti, bukan Hae Rin tidak merasa bersalah bukan Hae Rin tidak mempunyai hati, tapi Hae Rin berharap Chanyeol akan benar-benar melupakannya, karna sekeras apapun Hae Rin berfikir tentang hubungan ini Hae Rin selalu mendapatkan hasil yang sama, Hae Rin sudah tau akhir dari ini dan semuanya tidak akan pernah berhasil, buntu. Karna pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama.

“Maaf. Kalu begitu aku pergi sekarang” Seru Hae Rin lalu bangkit dari kursinya kemudian seperti biasa membayar tagihan minumannya.

“Kapan kau berangkat?” Chanyeol bertanya dari kursinya ketika Hae Rin baru saja memegang knop pintu.

“Besok. Aku berangkat besok” Hae Rin menjawab dengan senyumnya.

“Maaf aku tidak bisa mengantarmu” Timpal Chanyeol dingin.

“Tidak apa-apa. Terimakasih sudah menemaiku selama aku di Korea” Seru Hae Rin dengan senyumnya lalu meninggalkan Chanyeol yang masih duduk kaku di kursinya. Menatap dua cangkir kopi didepannya yang mungkin sudah dingin.

“Aku benar-benar tidak akan melihatmu lagi” Chanyeol bergumam sambil terus mengaduk-aduk kopi di depannya yang bahkan belum Chanyeol minum.


CHANYEOL: 
Musim salju berakhir diiringi dengan cerita cintaku yang tidak berjalan sesuai harapanku, jika aku bisa memilih aku akan memilih Hae Rin tetap disini meski dia tidak menerima cintaku, jika aku bisa memilih aku ingin tuhan hanya menciptakan satu agama, jika aku bisa memilih aku ingin tuhan memudahkan semua yang aku inginkan.

Aku bagun lebih pagi dari biasanya, meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya, pukul 6:30 aku peninggalkan rumah menuju Bandara, aku tidak akan pergi kemana-mana tapi seseorang akan pergi, aku berbohong ketika aku mengatakan ‘aku tidak bisa mengantarmu’ karna faktanya aku disini menunggu dia meninggalkan Korea, aku tidak tau kapan jadwal keberangkatannya, jadi aku hanya menunggu di jam yang lebih awal, 3 jam beralu hingga aku melihat sebuah rombongan dengan pakaian yang cukup mencolok, hijab itu sudah sangat tidak asing untukku, dengan Hae Rin ada didalam rombongan itu sambil menyeret koper pink dengan ukuran yang cukup besar, 1 jam Chanyeol melihat Hae Rin yang tengah tertawa bersama teman-temannya hingga dia benar-benar pergi meninggalkan Korea, tapi sebelum dia pergi dia menatap kebelakan dan aku yakin dia melihatku karna dia tersenyum sambil membungkuk padaku, aku yakin dia melihatku.

Aku masih ingat ketika dia memberi alasan kenapa dia tidak mau memberi tahuku tentang akun media sosialnya atau bahkan hanya sekedar no hp nya.

“Aku tidak ingin kau mengingatku untuk waktu yang lama, karna akan ada saatnya kita berpisah dan saat itu kita harus berjalan kedepan” Aku masih ingat ketika Hae Rin mengatakan itu saat kami bermain di namsan tower.

“Seperti yang aku tulis di gembok itu, mari kita bertemu lagi dengan jalan tuhan” Seruku ketika Hae Rin benar-benar menghilang dari pandanganku.

-FINE-

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images