Fanfiction
LOST LOVE (Chap 3end)
C:
Sandara Park, Kwon JiYong, Mizuhara Kiko, Choi SeungHyun.
G:
Sad, Friendship, Family.
R:
17+
A:
JN
'
'
'
'
'
Sandara : Aku tau aku yang meninggalkanya dengan
memberinya banyak rasa sakit, aku tau aku egois berharap dia masih mencintaiku
ketika aku sudah banyak mengecewakannya, tapi aku disini masih mencintainya dan
disini aku melihatnya memberikan senyumnya pada gadis lain, dan itu bukan aku. Aku membencinya!
Jiyong
: Aku benci bagaimana cara dia meninggalkanku dengan meninggalkan rasa sakit
yang terus membekas, aku benci ketika dia datang kembali di hidupku ketika aku
sudah membuka cerita baru dengan gadis lain, tapi aku lebih benci jika aku
tidak bisa melihatnya. Aku mencintainya!
“Aku di depan klinik hewan. Aku menunggumi disini” Seru Sandara pada Seunghyun diseberang sana, membuat Jiyong menatap Sandara, Sandara baru saja membuka pintu mobil tapi Jiyong sudah memegang tangan Sandara, menahan kepergian Sandara lewat tatapan matanya. “Aku tau ini salah sejak awal. Pergilah” Sambung Sandara melemah disusul dengan Jiyong yang melepasakan tangan Sandara, kemudian Sandara keluar meninggalkan Jiyong, tapi Jiyong masih ditempatnya tidak beranjak satu inch pun, hingga Seunghyun datang menjemput Sandara - Jiyong bahkan tetap di tempatnya, menatap kepergian Sandara ‘seperti dulu’, tidak ada yang bisa dia katakana, bahan ini lebih buruk dari dulu, setidaknya dulu Jiyong pernah mengatakan ‘jangan pergi’ pada Sandara, tapi sekarang dia hanya diam.
“Aku di depan klinik hewan. Aku menunggumi disini” Seru Sandara pada Seunghyun diseberang sana, membuat Jiyong menatap Sandara, Sandara baru saja membuka pintu mobil tapi Jiyong sudah memegang tangan Sandara, menahan kepergian Sandara lewat tatapan matanya. “Aku tau ini salah sejak awal. Pergilah” Sambung Sandara melemah disusul dengan Jiyong yang melepasakan tangan Sandara, kemudian Sandara keluar meninggalkan Jiyong, tapi Jiyong masih ditempatnya tidak beranjak satu inch pun, hingga Seunghyun datang menjemput Sandara - Jiyong bahkan tetap di tempatnya, menatap kepergian Sandara ‘seperti dulu’, tidak ada yang bisa dia katakana, bahan ini lebih buruk dari dulu, setidaknya dulu Jiyong pernah mengatakan ‘jangan pergi’ pada Sandara, tapi sekarang dia hanya diam.
Sandara
melihat Jiyong datang 10 menit setelah dia sampai, mereka membeku ketika mereka
berpapasan di tangga, mereka hanya ingin memastika jika mereka pulang dengan
selamat, hingga Sandara kembali berjalan menuruni tangga tanpa mengucapkan
sepatah katapun, hidup mereka terasa begitu lambat hanya ketika mereka berdua
berpapasan. Sandara sampai di dapur dan menuangkan air mineral kedalam gelas,
meneguk air seolah-olah dia telah berlari puluhan kilo meter hanya karna dia
melihat Jiyong.
“Oppa
baru pulang?” Tanya Kiko yang menyadari kehadiran Jiyong di tempat tidurnya.
“Oppa sudah makan?” Kiko kembali bertanya sambil membalikan tubuhnya agar
menatap Jiyong.
“Sudah.
Tidurlah, ini sudah sangat larut” Jawab Jiyong lalu mendekap Kiko kedalam
pelukannya.
Sandara
terbangun dari tidurnya ketika dia menyadari sinar matahari masuk dari celah
jendela kamarnya, untuk bebrapa saat Sandara duduk ditempat tidurnya hanya
untuk memastika bahawa semua kesadarannya telah menyatu dengan tubunya.
“Pagi
ibu” Seru Kiko yang sudah rapih dengan pakaian kantornya, begitu juga dengan Jiyong.
“Malam
kalian menyenangkan?” Tanya Mizuhara dengan senyumnya.
“Maaf,
aku bangun terlalu siang. Membuat ibu harus menyiapkan semua sarapan ini” Sesal
Kiko.
“Sandara
yang menyiapkan semua makanan ini” Timpal Mizuhara sambil mengambil beberapa
makanan di meja.
“Lalu
sekarang Sandara kemana?” Kiko bertanya karna dia tidak melihat keberadaan Sandara
di sekitarnya.
“Dia
bilang dia ada perlu dengan temannya”
“Dia
pergi sendiri?”
“Dia
pergi dengan temannya. Tadi siapa namanya” Mizuhara mencoba mengingat pria
bertubuh tinggi yang pagi tadi menjemput Sandara “SeungHyun. Jika ibu tidak
salah dengar” Sambung Mizuhara sedikit tidak yakin. Membuat Jiyong mulai
tertarik dengan pembicaraan antara Kiko dan Mizuhara.
“Seorang
pria?” Kiko kembali bertanya dengan gembira.
“Dia
pria yang tampan dan sopan. Ibu menyukainya” Mizuhara menjawab dengan raut
wajah yang gembira, kedua wanita itu tersenyum penuh arti sedangkan Jiyong
hanya diam bahkan membuatnya tidak berselera menyantap makanan di depannya.
Sesampai
di kantor Jiyong hanya bisa duduk diam di kursinya, ada sesuatu hal yang
mengganggu pikirannya. Mungkin semuanya tentang Sandara. Jiyong membuka laci di
mejanya, disana dia melihat foto Sandara, untuk waktu yang sangat lama Jiyong
tidak melihat foto itu, foto dengan latar belakang sekolahan mereka, dan untuk
waktu yang lama Jiyong terus menatap Foto tersebut hingga ketukan pintu
menyadarkannya untuk menghentikan aktifitasnya.
Waktu
bahkan terasa lebih lambat dari biasanya ketika dia menunggu Sandara di depan
kantornya tapi hingga jarum jam menunjukan pukul 23:55 Sandara tidak keluar
dari kantornya, “Mungkin aku terlambat” Gumam Jiyong penuh sesal, meski dia
tidak berniat menjemput Sandara, dia hanya ingin memastikan jika Sandara pulang
dengan selamat.
Di
tempat lain Sandara sedang menunggu Jiyong di rumah, rasa kantuknya hilang
ketika dia menyadari jika Jiyong belum sampai, Sandara terus menunggu Jiyong
lewat jendela kamarnya menunggu pagar rumahnya di buka oleh sosok pria bertubuh
kurus itu. Untuk waktu yang lama Sandara berdiri di depan jendela, hingga sosok
yang dia tunggu datang, dan entah mengapa Sandara langsung berlari dan
membukakan pintu untuk Jiyong.
“Kau
belum tidur?” Jiyong bertanya dengan wajah kaget, ketika Sandara berdiri di
depannya untuk membukakan pintu untuknya.
“Harusnya
kau menghubungi Kiko jika kau pulang terlambat. Dia sangat mencemaskanmu”
Timpal Sandara sarkatis, mencoba menutupi kecemasannya karna ketika jarum jam
berhenti di angka 1:13 Jiyong baru sampai rumah, Sandara benar jika Kiko
mencemaskan Jiyong, tapi faktanya Sandara terlihat lebih mencemaskan Jiyong.
“Aku
tenang jika kau sudah pulang. Sekarang masuklah ke kamarmu, ini sudah lewat
tengah malam” Timpal Jiyong sambil memakaikan Jas yang dia pegang ke tubuh Sandara,
untuk beberapa saat mereka kembali terdiam, tapi Sandara langsung membalikan
tubunya, dia takut jika dia tidak bisa mengontrol perasaanya, dan Jiyong
melakukan hal yang sama, Jiyong membiarkan Sandara pergi meninggalkannya
terlebih dahulu, mereka sama-sama takut pada perasaann mereka masing-masing,
perasaan yang pasti akan melukai orang lain, orang yang berharga di hidup
mereka masing-masing.
Hari
ini adalah hari yang paling membosankan, Jiyong tidak punya rencana apapun
dihari ini, Kiko bahkan pergi lebih pagi karna dikatornya sedang sibuk, dan
tentu saja itu berarti Jiyong tidak bias mengajak istrinya keluar rumah, hanya
untuk sekedar sarapan diluar. Jiyong tengah asik menonton acara TV, ketika dia
melihat Sandara turun dari kamarnya sambil menyeret koper berukuran besar
berwarna pink. Pandanggannya mengikuti kemana arah Sandara melangkahkan
kakinya.
“Mom.
Aku akan pergi sekarang” Seru Sandara pada Mizuhara yang tengah duduk di
samping Jiyong.
“Kenapa
kau harus menyewa apartment ketika kau masih mempunyai tempat tinggal?” Mizuhara
bertanya dengan cemas dan sontak membuat Jiyong kaget.
“Aku
akan sering mengunjungi ibu. Aku hanya ingin lebih focus pada pekerjaanku” Sandara
menjawab sambil menggenggam lengan Mizuhara.
“Baiklah
jika itu keputusanmu. Tapi kamu harus jaga kesehatanmu, minum semua vitamin
yang ibu berikan, hubungi ibu jika kamu memerlukan ibu.” Mizuhara memberi
wejangan, membuat Sandara tersenyum lalu memeluk Mizuhara erat.
“Baik
mom. Kalau begitu aku pergi sekarang, aku akan naik bus. Mobilku masih di
bengkel, dan SeungHyun tidak bisa menjemputku” Seru Sandara bergegas pergi tapi
Mizuhara menahan tangan Sandara.
“Jiyong,
kau bisa mengantar Sandara? Bukankah kau sedang libur?” Mizuhara bertanya pada
Jiyong yang tengah memperhatikan mereka membuat Jiyong sedikit kaget.
“Baik.
Aku ambil kunci mobilku dulu di kamar” Jawab Jiyong lalu berlari menuju
kamarnya, Jiyong langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja
kerjanya sambil mengambil hodie berwarna putih lalu memakainya.
“Mom,
aku bisa mengurus diri sendiri” Sandara mencoba menolah tapi Mizuhara hanya
menggelengkan kepalanya.
“Jiyong
tolong bawakan kopernya” Mizuhara meminta pada Jiyong, kemudian Jiyong mengambil
Koper Sandara dan dengan tidak sengaja membuat tangan mereka saling
bersentuhan, itu cukup membuat mereka merasa ada aliran listrik menyentuh tubuh
mereka.
“Mom”
Sandara kembali merengek ketika mereka berjalan menuju mobil dengan Jiyong yang
sudah berada di dalam mobil.
“Jaga
kesehatanmu” Mizuharakembali mencium Sandara sebelum Sandara masuk kedalam
mobil.
“Baik.
Jaga kesehatan kalian. Sampaikan salamku pada Kiko” Timpal Sandara setelah
mencium pipi Mizuhara. Lalu pergi meninggalkan Mizuhara bersama Jiyong.
Selama
diperjalanan di dalam mobil tidak ada yang berniat mengeluarkan suara, Jiyong
terlalu takut jika dia akan kembali merusak suasana denan ucapan yang mungkin
tidak bisa dia kendalikan, mereka memerlukan waktu 30 menit untuk sampai di
apartment baru Sandara, entah karna Jiyong mengendarai mobil terlalu lamabat
atau suasana yang membuat mereka merasa perjalanan yang harusnya bisa
menghabiskan waktu 15 menit menjadi begitu lama. Jiyong kembali mengambil koper
Sandara dari bagasi mobilnya.
“Aku bisa membawa koperku sendiri. Kau bisa pulang sekarang” Seru Sandara lembut sambil mencoba mengambil koper dari lengan Jiyong, tapi Jiyong langsung menjauhkannya dari tangan Sandara.
“Aku bisa membawa koperku sendiri. Kau bisa pulang sekarang” Seru Sandara lembut sambil mencoba mengambil koper dari lengan Jiyong, tapi Jiyong langsung menjauhkannya dari tangan Sandara.
“Hanya
tunjukan dimana rumahmu” Timpal Jiyong sambil menatap lorong apartment. Dengan
lemas Sandara berjalan di depan Jiyong, menuntun kearah mana perjalanan mereka,
hingga mereka berhenti di depan pintu bernomor 197 di lantai 4.
“Kita
sudah sampai. Kau bisa pulag sekarang”
“Sebegitu
tidak inginnya kah kau untuk tidak melihatku?” Jiyong bertanya sambil menatap
intens Sandara.
“Aku
hanyaa….”
“Aku
tidak akan melakukannya lagi. Jadi cepat buka pintunya.” Jiyong memotong ucapan
Sandara. Lalu mereka masuk kedalam rumah Sandara, keadaan rumah yang masih
sepi, hanya ada furniture yang umum ada di dalam rumah, dan beberapa dus yang
tergeletak di samping TV.
“Kau
mau minum?” Sandara bertanya pada Jiyong yang tengah duduk di ruang TV dengan Sandara
yang sedang berdiri di depan lemari es.
“Apa
kau sudah menempati tempat ini?” Jiyong bertanya dengan heran.
“Kemarin
aku dengan SeungHyun yang menemukan tempat ini, dan kami membeli beberapa
makanan” Sandara menjawab sambil mengambil dua minuman kaleng dan bebrapa jenis
makanan lalu duduk di kursi yang berbeda dengan Jiyong, mungkin menjaga jarak.
“Kau
sudah kenal lama dengan SeungHyun?” Jiyong bertanya, dia tidak bisa
menyembuyikan rasa ingin tahunya tentang pria bernama Seunghyun.
“Sebenarnya
dia teman SMP ku, kami bertemu kembali ketika kami kuliah di kampus yang sama
di Paris” Sandara menjawab lalu mengenggam minuman kaleng berwarna hitam yang
ada ditangan kanannya.
“Dia
sepertinya menyukaimu” Seru Jiyong sebelum dia meneguk minumannya.
“Ah.
Tidak mungkin, kami sudah berteman cukup lama” Sandara menyanggah pendapat Jiyong
sambil memasang senyum yang di paksakan.
“Kau
masih menjadi manusia tidak peka sampai sekarang” bisik Jiyong dengan nada suara
yang mungkin tidak dia dengar. Jiying terus memandang Sandara dengan wajah
sedikit tidak nyaman, “Mungkin karna aku berada disini” Gerut Jiyong dalam
hati.
“Aku
akan memberesakan beberapa barang” Seru Sandara bangkit dari tempat duduknya.
“Aku
akan membantumu”
“Aku
bisa mengerjakannya sendiri”
“Aku
tidak bisa menonton wanita yang sedang bekerja”
“Kalau
begitu kau bisa…”
“Pulang
magsudmu? Aku akan pulang ketika aku ingin pulang. Tenanglah, aku tau batasan”
Timpal Jiyong membuat mereka berhenti berargumen, Jiyong merapihkan beberapa
barang di ruang Tamu yang sekaligus dengan ruang TV, sedangkan Jiyong
merapihkan di dapur. Jiyong menaruh beberapa foto Sandara dengan Kiko di
samping TV.
“Ada
yang bisa aku bantu?” Jiyong bertanya ketika Sandara sedang naik keatas kursi
untuk memasangkan lampu.
“Ini
lebih sulit dari yang aku bayangkan” Seru Sandara, mencoba turun dari kursi
tapi tiba-tiba kursi terasa licin dan membuat Sandara terjatuh di lantai, jika
saja tidak ada Jiyong, karna sekarang Sandara sudah berada di atas tubuh Jiyong.
“Mian,
kau tidak apa-apa? Aku tidak bermasgus. Kursinya tiba-tiba menjadi licin. Mian”
Sesal Sandara sambil mencoba bangkit dari tubuh Jiyong, tapi Jiyong menarik
pinggang Sandara, agar tidak merubah posisi. “Jiyong-iee” Seru Sandara melemah.
“Bagaimana
kabarmu? Baik? kau makan dengan baik di paris? Bagaimana study mu?
Menyenangkan? Kau mempunyai banyak teman disana? Bagaimana temanmu? Bagaimana
tidurmu? Dimana kau tinggal ketika di Paris? Apa tempatnya menyenangkan? Tempat
mana yang kau sukai di Paris? Apa menara eiffel sangat indah? Bagaiman pria di
Paris? Ada yang lebih tampan dariku? Bagaimana udara Paris? Apa berbeda dengan
Korea? Kau makan apa di Paris? Dengan siapa biasanya kau makan? Bagaimana
tidurmu? Apa kau mimpi indah? Apa aku ada di mimpimu? ” Tanya Jiyong membuat Sandara
membeku dan hanya mengeluarkan suara “Hoh” Sandara terlalu kaget dengan ucapan Jiyong
yang tiba-tiba keluar begitu banyak dari mulutnya “Itu hanya sebagian kecil
pertanyaan yang ingin aku tanyakan ketika kau di Paris. Lebih dari itu, aku
menghabiskan waktu yang sulit tanpamu. Aku seperti berjalan di atas pecahan
kaca, melewati hari seperti waktu tidak pernah berputar, terasa sangat lama.
Tidak kah kau merasakan hal yang sama denganku? Apa karna aku kau meninggalkan
rumah?” Jiyong bertnya dengan nada serius, tapi Sandara hanya diam, Jiyong
sudah mengumpulkan semua kekuatan yang dia punya untuk mengatakan semuanya,
berharap Sandara akan melakukan hal yang sama, tapi Sandara hanya diam, dengan
perlahan melepaskan pelulannya dari pinggang Sandara dan bergegas meninggalkan Sandara,
ketika Jiyong akan membuka pintu, Sandara dengan tiiba-tiba memeluk Jiyong dari
belakang.
“Waktu
itu, waktu itu, waktu itu aku menunggumu di bandara, berharap kau akan datang
dan mencegahku agar aku tidak pergi. Bukan hanya sekedar kalimat ‘jangan pergi’
lewat pesan singkat. Aku menunggumu meyakinkanku agar aku tidak pergi, aku
menunggumu. Tapi kau tidak pernah datang. Aku kembali, berharap semuanya akan
sama, bukankah aku mengatakan aku akan kembali? Tapi, ketika aku kembali
semuanya telah berubah. Diluar kendaliku, itu benar-benar diluar bayanganku…
kau menikah dengan adikku………………………. Aku tidak menyesal Jiyong, kau menemukan
gadis yang jauh lebih baik dari aku. Aku bahagia untuk kalian. Jaga Kiko
untukku” Timpal Sandara sambil menangis, lalu Jiyong membalikan tubuhnya dan
menghapus air mata yang membasahi pipi Sandara. Sandara baru saja akan
melepaskan pelukannya tapi ketika dia mendengar petir dia kembali memeluk erat
tubuh Jiyong.
“Tenang.
Aku disini” Seru Jiyong sambil mengelus rambut Sandara. Dan merangkul Sandara
kekursi.
“Ah.
Maaf” Seru Sandara sambil melepaskan pelukannya ketika mereka sampai di kursi
“Pulanglah. Ini sudah hampir jam makan malam. Kiko pasti mencarimu” Sambung Sandara.
“Aku
akan pergi setelah kau makan” Jawab Jiyong sambil menatap Sandara.
“Aku
bisa memesannya nanti”
“Aku
tidak menerima alasan. Tunggu disini aku akan segera kembali” Timpal Jiyong
lalu berlari meninggalkan Sandara. Selama Jiyong pergi begitu banyak pertanyaan
dan kecemasan dibenak Sandara, bagaimana? Kenapa? Seandainya? Jika saja?
Setelah bebrapa saat kemudain, Jiyong datang ssambil membawa makanan khas Paris.
Setelah bebrapa saat kemudain, Jiyong datang ssambil membawa makanan khas Paris.
“Aku
ingin makan ini denganmu” Seru Jiyong sambil menaruh makanan di atas meja.
“Kiko mungkin menunggumu, ini sudah hampir waktu makan malam” Sandara dengan cemas menatap Jiyong yang tengah mengambil piring.
“Kiko mungkin menunggumu, ini sudah hampir waktu makan malam” Sandara dengan cemas menatap Jiyong yang tengah mengambil piring.
“Aku
sudah mengatakan akan makan denganmu sambil menunnggu hujan reda” Sandara menjawab
sambil menaruh piring diatas meja makan. Mereka melewati makan malam mereka
dengan tenang.
“Hubungi
Aku jika aku membutuhkan sesuatu. Bersikaplah sewajarnya” Seru Jiyong ketika Sandara
mengantar Jiyong dan Sandara hanya membalasnya dengan senyuman. Jiyong bersama
mobilnya menghilang ditelan kegelapan, kemudian Sandara pergi memasuki
rumahnya.
Jiyong
memasuki rumahnya, tapi dia tidak melihat siapaun, Jiyong hendak memasuki
kamarnya tapi dia melihat Kiko tengah duduk di tempat tidur Sandara.
“Kau
sudah makan?” Jiyong bertanya sambil duduk di samping Kiko dan mengelus rambut Kiko
dengan lembut, dan Kiko hanya mebalas dengan anggukan sambil terus menatap foto
dirinya yang tengah dirangkul oleh Sandara ketika kelulusan SMA.
“Ada
yang salah?” Jiyong bertanya dengan cemas.
“Kenapa
Sandara pergi dari rumah? Apa dia marah karna aku menikah lebih dulu?” Kiko
bertanya tapi tidak di tunjukan pada siapapun, itu hanya pertanyaan yang keluar
begitu saja.
“Sandara
tidak mungkin berfikir seperti itu. ayolah, kalian sudah dewasa” Seru Jiyong
sambil memeluk Kiko beberapa saat lalu melepaskannya kembali.
“Dulu
ketika dia akan pergi ke Paris dia bilang ‘aku tidak akan pergi jika Naga kurus
itu menjemputku di bandara’, dulu ketika Sandara SMA dia selalu menceritakan
pria yang selalu dia juluki Naga Kurus, dia bilang dia sangat mencintainya,
berharap bisa menghabiskan sisa umrunya dengan Naga kurusnya.” Seru Kiko sambil
menatap Jiyong yang tengah menatap Kiko dengan wajah yang mengeras ‘Naga Kurus”
Dulu Jiyong sangat benci jika Sandara memberinya julukan itu “Aku tidak sengaja
mendengar pembicaraan Sandara dengan ibu” Sambung Kiko menjelaskan apa yang dia
ucapkan adalah apa yang dia dengar dari pembicaraan Sandara dengan ibunya
beberapa tahun yang lalu, dan entah mengapa dia memceritakan itu pada Jiyong,
membuat Jiyong sedikit membeku, ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya.
“Sebenarnya, Sandara bukan bagian dari keluarga kami” sambung Kiko membuat Jiyong
menatap Kiko intens “Sandara anak boss dari tempat alm ayah (Choi Siwon)
bekerja. Kedua orang tua Sandara meninggal dan semua asset yang dimiliki mereka
di sita karna hutang kedua orangtuanya, dan ayah memutuskan untuk membawa
Sandara bersama kami, awalnya Sandara belum bisa menerima keadan, tapi satu
tahun setelah ayah meninggal, Sandara mulai bisa menerima keadaan dan jauh
lebih baik, dia bekerja paruh waktu untuk membantu membiayai kami, belajar
tengah malam untuk mempertahankan beasiswanya. Kau tau, saat itu aku sangat
kasihan padanya, aku selalu berfikir ‘Kenapa harus Sandara yang bekerja begitu
keras?’, ‘Apa dia lelah?’,’Apa dia marah?’, tapi baru saja aku akan mengatakan
kalimat itu pada Sandara, dia selalu mengatakan ‘Aku baik-baik saja’ dengan
senyumnya, aku selalu berharap dia mendapatkan pria yang lebih baik, tidak
seperti pria yang dia juluki Naga Kurus itu, mungkin jika pria Naga Kurus itu
menjemput Sandara, Sandara tidak akan pergi ke Paris dan meninggalkan kami”
DEG, kalimat itu benar-benar membuat Jiyong semakin merasa buruk, dia tidak
tahu jika Sandara melewati hidupnya dengan berat, dan dia tidak tau apa-apa.
“Yah,
Sandara pantas mendapatkan pria lebih baik” Seru Jiyong dari hati yang terdalam
lalu memeluk Kiko sambil menatap foto Sandaa yang ada di depannya. “Dia pasti
akan mendapatkan pria yang lebih baik, jauhh lebih baik” Jiyong kembali
menegaskan.
Waktu
terus berganti, mereka menjalani hidup seperi yang seharusnya Jiyong dengan Kiko,
dan Sandara masih asik dengan kesendiriannya, semuanya lebih baik dari
sebelumnya, mereka tidak mengingat cara melupakan masalalu mereka
masing-masing, karna mereka tau kenanagan bukan untuk dilupakan tetapi bukan
berarti kau bisa hidup dalam kenangan, Jiyong adalah kenangan untuk Sandara,
dan Sandara adalah kenangan untuk Jiyong, tidak lebih dari itu, mereka senang
bisa kembali bertemu sebagai keluarga, Sandara kembali ke Paris bersama SeungHyun.
“Kau
pantas mendaptkan pria yang jauh lebih baik dariku. Aku minta maaf karna pernah
menjadi begitu egois” Seru Jiyong satu hari sebelum kepergian Sandara.
“Kamu
mungkin bukan yang terbaik untukku. Tapi kau yang terbaik untuk Kiko.”Timpal Sandara
dengan senyumnya.
Cinta
memang egois, tapi yang harus kalian garis besar adalah cinta tidak jahat.
Semuanya berakhir dengan baik, dan merka akan memulai dengan awal yang baik dengan cerita yang baru, “Akhir untuk awal yang baru”.
Semuanya berakhir dengan baik, dan merka akan memulai dengan awal yang baik dengan cerita yang baru, “Akhir untuk awal yang baru”.
END.

0 komentar