Swift

LOST LOVE (Chap 3end)



C: Sandara Park, Kwon JiYong, Mizuhara Kiko, Choi SeungHyun.
G: Sad, Friendship, Family.
R: 17+
A: JN
'
'
'
'
'

Sandara  : Aku tau aku yang meninggalkanya dengan memberinya banyak rasa sakit, aku tau aku egois berharap dia masih mencintaiku ketika aku sudah banyak mengecewakannya, tapi aku disini masih mencintainya dan disini aku melihatnya memberikan senyumnya pada gadis lain, dan itu bukan aku. Aku membencinya!

Jiyong : Aku benci bagaimana cara dia meninggalkanku dengan meninggalkan rasa sakit yang terus membekas, aku benci ketika dia datang kembali di hidupku ketika aku sudah membuka cerita baru dengan gadis lain, tapi aku lebih benci jika aku tidak bisa melihatnya. Aku mencintainya!


“Aku di depan klinik hewan. Aku menunggumi disini” Seru Sandara pada Seunghyun diseberang sana, membuat Jiyong menatap Sandara, Sandara baru saja membuka pintu mobil tapi Jiyong sudah memegang tangan Sandara, menahan kepergian Sandara lewat tatapan matanya. “Aku tau ini salah sejak awal. Pergilah” Sambung Sandara melemah disusul dengan Jiyong yang melepasakan tangan Sandara, kemudian Sandara keluar meninggalkan Jiyong, tapi Jiyong masih ditempatnya tidak beranjak satu inch pun, hingga Seunghyun datang menjemput Sandara - Jiyong bahkan tetap di tempatnya, menatap kepergian Sandara ‘seperti dulu’, tidak ada yang bisa dia katakana, bahan ini lebih buruk dari dulu, setidaknya dulu Jiyong pernah mengatakan ‘jangan pergi’ pada Sandara, tapi sekarang dia hanya diam.




Sandara melihat Jiyong datang 10 menit setelah dia sampai, mereka membeku ketika mereka berpapasan di tangga, mereka hanya ingin memastika jika mereka pulang dengan selamat, hingga Sandara kembali berjalan menuruni tangga tanpa mengucapkan sepatah katapun, hidup mereka terasa begitu lambat hanya ketika mereka berdua berpapasan. Sandara sampai di dapur dan menuangkan air mineral kedalam gelas, meneguk air seolah-olah dia telah berlari puluhan kilo meter hanya karna dia melihat Jiyong.

“Oppa baru pulang?” Tanya Kiko yang menyadari kehadiran Jiyong di tempat tidurnya. “Oppa sudah makan?” Kiko kembali bertanya sambil membalikan tubuhnya agar menatap Jiyong.

“Sudah. Tidurlah, ini sudah sangat larut” Jawab Jiyong lalu mendekap Kiko kedalam pelukannya.

Sandara terbangun dari tidurnya ketika dia menyadari sinar matahari masuk dari celah jendela kamarnya, untuk bebrapa saat Sandara duduk ditempat tidurnya hanya untuk memastika bahawa semua kesadarannya telah menyatu dengan tubunya.

“Pagi ibu” Seru Kiko yang sudah rapih dengan pakaian kantornya, begitu juga dengan Jiyong.

“Malam kalian menyenangkan?” Tanya Mizuhara dengan senyumnya.

“Maaf, aku bangun terlalu siang. Membuat ibu harus menyiapkan semua sarapan ini” Sesal Kiko.

“Sandara yang menyiapkan semua makanan ini” Timpal Mizuhara sambil mengambil beberapa makanan di meja.

“Lalu sekarang Sandara kemana?” Kiko bertanya karna dia tidak melihat keberadaan Sandara di sekitarnya.

“Dia bilang dia ada perlu dengan temannya” 

“Dia pergi sendiri?” 

“Dia pergi dengan temannya. Tadi siapa namanya” Mizuhara mencoba mengingat pria bertubuh tinggi yang pagi tadi menjemput Sandara “SeungHyun. Jika ibu tidak salah dengar” Sambung Mizuhara sedikit tidak yakin. Membuat Jiyong mulai tertarik dengan pembicaraan antara Kiko dan Mizuhara.

“Seorang pria?” Kiko kembali bertanya dengan gembira.

“Dia pria yang tampan dan sopan. Ibu menyukainya” Mizuhara menjawab dengan raut wajah yang gembira, kedua wanita itu tersenyum penuh arti sedangkan Jiyong hanya diam bahkan membuatnya tidak berselera menyantap makanan di depannya.

Sesampai di kantor Jiyong hanya bisa duduk diam di kursinya, ada sesuatu hal yang mengganggu pikirannya. Mungkin semuanya tentang Sandara. Jiyong membuka laci di mejanya, disana dia melihat foto Sandara, untuk waktu yang sangat lama Jiyong tidak melihat foto itu, foto dengan latar belakang sekolahan mereka, dan untuk waktu yang lama Jiyong terus menatap Foto tersebut hingga ketukan pintu menyadarkannya untuk menghentikan aktifitasnya. 

Waktu bahkan terasa lebih lambat dari biasanya ketika dia menunggu Sandara di depan kantornya tapi hingga jarum jam menunjukan pukul 23:55 Sandara tidak keluar dari kantornya, “Mungkin aku terlambat” Gumam Jiyong penuh sesal, meski dia tidak berniat menjemput Sandara, dia hanya ingin memastikan jika Sandara pulang dengan selamat.

Di tempat lain Sandara sedang menunggu Jiyong di rumah, rasa kantuknya hilang ketika dia menyadari jika Jiyong belum sampai, Sandara terus menunggu Jiyong lewat jendela kamarnya menunggu pagar rumahnya di buka oleh sosok pria bertubuh kurus itu. Untuk waktu yang lama Sandara berdiri di depan jendela, hingga sosok yang dia tunggu datang, dan entah mengapa Sandara langsung berlari dan membukakan pintu untuk Jiyong.

“Kau belum tidur?” Jiyong bertanya dengan wajah kaget, ketika Sandara berdiri di depannya untuk membukakan pintu untuknya.

“Harusnya kau menghubungi Kiko jika kau pulang terlambat. Dia sangat mencemaskanmu” Timpal Sandara sarkatis, mencoba menutupi kecemasannya karna ketika jarum jam berhenti di angka 1:13 Jiyong baru sampai rumah, Sandara benar jika Kiko mencemaskan Jiyong, tapi faktanya Sandara terlihat lebih mencemaskan Jiyong.

“Aku tenang jika kau sudah pulang. Sekarang masuklah ke kamarmu, ini sudah lewat tengah malam” Timpal Jiyong sambil memakaikan Jas yang dia pegang ke tubuh Sandara, untuk beberapa saat mereka kembali terdiam, tapi Sandara langsung membalikan tubunya, dia takut jika dia tidak bisa mengontrol perasaanya, dan Jiyong melakukan hal yang sama, Jiyong membiarkan Sandara pergi meninggalkannya terlebih dahulu, mereka sama-sama takut pada perasaann mereka masing-masing, perasaan yang pasti akan melukai orang lain, orang yang berharga di hidup mereka masing-masing.

Hari ini adalah hari yang paling membosankan, Jiyong tidak punya rencana apapun dihari ini, Kiko bahkan pergi lebih pagi karna dikatornya sedang sibuk, dan tentu saja itu berarti Jiyong tidak bias mengajak istrinya keluar rumah, hanya untuk sekedar sarapan diluar. Jiyong tengah asik menonton acara TV, ketika dia melihat Sandara turun dari kamarnya sambil menyeret koper berukuran besar berwarna pink. Pandanggannya mengikuti kemana arah Sandara melangkahkan kakinya.

“Mom. Aku akan pergi sekarang” Seru Sandara pada Mizuhara yang tengah duduk di samping Jiyong.

“Kenapa kau harus menyewa apartment ketika kau masih mempunyai tempat tinggal?” Mizuhara bertanya dengan cemas dan sontak membuat Jiyong kaget.

“Aku akan sering mengunjungi ibu. Aku hanya ingin lebih focus pada pekerjaanku” Sandara menjawab sambil menggenggam lengan Mizuhara.

“Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi kamu harus jaga kesehatanmu, minum semua vitamin yang ibu berikan, hubungi ibu jika kamu memerlukan ibu.” Mizuhara memberi wejangan, membuat Sandara tersenyum lalu memeluk Mizuhara erat.

“Baik mom. Kalau begitu aku pergi sekarang, aku akan naik bus. Mobilku masih di bengkel, dan SeungHyun tidak bisa menjemputku” Seru Sandara bergegas pergi tapi Mizuhara menahan tangan Sandara.

“Jiyong, kau bisa mengantar Sandara? Bukankah kau sedang libur?” Mizuhara bertanya pada Jiyong yang tengah memperhatikan mereka membuat Jiyong sedikit kaget.

“Baik. Aku ambil kunci mobilku dulu di kamar” Jawab Jiyong lalu berlari menuju kamarnya, Jiyong langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja kerjanya sambil mengambil hodie berwarna putih lalu memakainya.

“Mom, aku bisa mengurus diri sendiri” Sandara mencoba menolah tapi Mizuhara hanya menggelengkan kepalanya.

“Jiyong tolong bawakan kopernya” Mizuhara meminta pada Jiyong, kemudian Jiyong mengambil Koper Sandara dan dengan tidak sengaja membuat tangan mereka saling bersentuhan, itu cukup membuat mereka merasa ada aliran listrik menyentuh tubuh mereka.

“Mom” Sandara kembali merengek ketika mereka berjalan menuju mobil dengan Jiyong yang sudah berada di dalam mobil.

“Jaga kesehatanmu” Mizuharakembali mencium Sandara sebelum Sandara masuk kedalam mobil.

“Baik. Jaga kesehatan kalian. Sampaikan salamku pada Kiko” Timpal Sandara setelah mencium pipi Mizuhara. Lalu pergi meninggalkan Mizuhara bersama Jiyong. 

Selama diperjalanan di dalam mobil tidak ada yang berniat mengeluarkan suara, Jiyong terlalu takut jika dia akan kembali merusak suasana denan ucapan yang mungkin tidak bisa dia kendalikan, mereka memerlukan waktu 30 menit untuk sampai di apartment baru Sandara, entah karna Jiyong mengendarai mobil terlalu lamabat atau suasana yang membuat mereka merasa perjalanan yang harusnya bisa menghabiskan waktu 15 menit menjadi begitu lama. Jiyong kembali mengambil koper Sandara dari bagasi mobilnya.

“Aku bisa membawa koperku sendiri. Kau bisa pulang sekarang” Seru Sandara lembut sambil mencoba mengambil koper dari lengan Jiyong, tapi Jiyong langsung menjauhkannya dari tangan Sandara.

“Hanya tunjukan dimana rumahmu” Timpal Jiyong sambil menatap lorong apartment. Dengan lemas Sandara berjalan di depan Jiyong, menuntun kearah mana perjalanan mereka, hingga mereka berhenti di depan pintu bernomor 197 di lantai 4.

“Kita sudah sampai. Kau bisa pulag sekarang”

“Sebegitu tidak inginnya kah kau untuk tidak melihatku?” Jiyong bertanya sambil menatap intens Sandara.

“Aku hanyaa….”

“Aku tidak akan melakukannya lagi. Jadi cepat buka pintunya.” Jiyong memotong ucapan Sandara. Lalu mereka masuk kedalam rumah Sandara, keadaan rumah yang masih sepi, hanya ada furniture yang umum ada di dalam rumah, dan beberapa dus yang tergeletak di samping TV.

“Kau mau minum?” Sandara bertanya pada Jiyong yang tengah duduk di ruang TV dengan Sandara yang sedang berdiri di depan lemari es.

“Apa kau sudah menempati tempat ini?” Jiyong bertanya dengan heran.

“Kemarin aku dengan SeungHyun yang menemukan tempat ini, dan kami membeli beberapa makanan” Sandara menjawab sambil mengambil dua minuman kaleng dan bebrapa jenis makanan lalu duduk di kursi yang berbeda dengan Jiyong, mungkin menjaga jarak.

“Kau sudah kenal lama dengan SeungHyun?” Jiyong bertanya, dia tidak bisa menyembuyikan rasa ingin tahunya tentang pria bernama Seunghyun.

“Sebenarnya dia teman SMP ku, kami bertemu kembali ketika kami kuliah di kampus yang sama di Paris” Sandara menjawab lalu mengenggam minuman kaleng berwarna hitam yang ada ditangan kanannya.

“Dia sepertinya menyukaimu” Seru Jiyong sebelum dia meneguk minumannya.

“Ah. Tidak mungkin, kami sudah berteman cukup lama” Sandara menyanggah pendapat Jiyong sambil memasang senyum yang di paksakan.

“Kau masih menjadi manusia tidak peka sampai sekarang” bisik Jiyong dengan nada suara yang mungkin tidak dia dengar. Jiying terus memandang Sandara dengan wajah sedikit tidak nyaman, “Mungkin karna aku berada disini” Gerut Jiyong dalam hati.

“Aku akan memberesakan beberapa barang” Seru Sandara bangkit dari tempat duduknya.

“Aku akan membantumu”

“Aku bisa mengerjakannya sendiri”

“Aku tidak bisa menonton wanita yang sedang bekerja”

“Kalau begitu kau bisa…”

“Pulang magsudmu? Aku akan pulang ketika aku ingin pulang. Tenanglah, aku tau batasan” Timpal Jiyong membuat mereka berhenti berargumen, Jiyong merapihkan beberapa barang di ruang Tamu yang sekaligus dengan ruang TV, sedangkan Jiyong merapihkan di dapur. Jiyong menaruh beberapa foto Sandara dengan Kiko di samping TV.

“Ada yang bisa aku bantu?” Jiyong bertanya ketika Sandara sedang naik keatas kursi untuk memasangkan lampu.

“Ini lebih sulit dari yang aku bayangkan” Seru Sandara, mencoba turun dari kursi tapi tiba-tiba kursi terasa licin dan membuat Sandara terjatuh di lantai, jika saja tidak ada Jiyong, karna sekarang Sandara sudah berada di atas tubuh Jiyong.

“Mian, kau tidak apa-apa? Aku tidak bermasgus. Kursinya tiba-tiba menjadi licin. Mian” Sesal Sandara sambil mencoba bangkit dari tubuh Jiyong, tapi Jiyong menarik pinggang Sandara, agar tidak merubah posisi. “Jiyong-iee” Seru Sandara melemah.

“Bagaimana kabarmu? Baik? kau makan dengan baik di paris? Bagaimana study mu? Menyenangkan? Kau mempunyai banyak teman disana? Bagaimana temanmu? Bagaimana tidurmu? Dimana kau tinggal ketika di Paris? Apa tempatnya menyenangkan? Tempat mana yang kau sukai di Paris? Apa menara eiffel sangat indah? Bagaiman pria di Paris? Ada yang lebih tampan dariku? Bagaimana udara Paris? Apa berbeda dengan Korea? Kau makan apa di Paris? Dengan siapa biasanya kau makan? Bagaimana tidurmu? Apa kau mimpi indah? Apa aku ada di mimpimu? ” Tanya Jiyong membuat Sandara membeku dan hanya mengeluarkan suara “Hoh” Sandara terlalu kaget dengan ucapan Jiyong yang tiba-tiba keluar begitu banyak dari mulutnya “Itu hanya sebagian kecil pertanyaan yang ingin aku tanyakan ketika kau di Paris. Lebih dari itu, aku menghabiskan waktu yang sulit tanpamu. Aku seperti berjalan di atas pecahan kaca, melewati hari seperti waktu tidak pernah berputar, terasa sangat lama. Tidak kah kau merasakan hal yang sama denganku? Apa karna aku kau meninggalkan rumah?” Jiyong bertnya dengan nada serius, tapi Sandara hanya diam, Jiyong sudah mengumpulkan semua kekuatan yang dia punya untuk mengatakan semuanya, berharap Sandara akan melakukan hal yang sama, tapi Sandara hanya diam, dengan perlahan melepaskan pelulannya dari pinggang Sandara dan bergegas meninggalkan Sandara, ketika Jiyong akan membuka pintu, Sandara dengan tiiba-tiba memeluk Jiyong dari belakang.

“Waktu itu, waktu itu, waktu itu aku menunggumu di bandara, berharap kau akan datang dan mencegahku agar aku tidak pergi. Bukan hanya sekedar kalimat ‘jangan pergi’ lewat pesan singkat. Aku menunggumu meyakinkanku agar aku tidak pergi, aku menunggumu. Tapi kau tidak pernah datang. Aku kembali, berharap semuanya akan sama, bukankah aku mengatakan aku akan kembali? Tapi, ketika aku kembali semuanya telah berubah. Diluar kendaliku, itu benar-benar diluar bayanganku… kau menikah dengan adikku………………………. Aku tidak menyesal Jiyong, kau menemukan gadis yang jauh lebih baik dari aku. Aku bahagia untuk kalian. Jaga Kiko untukku” Timpal Sandara sambil menangis, lalu Jiyong membalikan tubuhnya dan menghapus air mata yang membasahi pipi Sandara. Sandara baru saja akan melepaskan pelukannya tapi ketika dia mendengar petir dia kembali memeluk erat tubuh Jiyong.

“Tenang. Aku disini” Seru Jiyong sambil mengelus rambut Sandara. Dan merangkul Sandara kekursi.

“Ah. Maaf” Seru Sandara sambil melepaskan pelukannya ketika mereka sampai di kursi “Pulanglah. Ini sudah hampir jam makan malam. Kiko pasti mencarimu” Sambung Sandara.

“Aku akan pergi setelah kau makan” Jawab Jiyong sambil menatap Sandara.

“Aku bisa memesannya nanti”

“Aku tidak menerima alasan. Tunggu disini aku akan segera kembali” Timpal Jiyong lalu berlari meninggalkan Sandara. Selama Jiyong pergi begitu banyak pertanyaan dan kecemasan dibenak Sandara, bagaimana? Kenapa? Seandainya? Jika saja?
Setelah bebrapa saat kemudain, Jiyong datang ssambil membawa makanan khas Paris.

“Aku ingin makan ini denganmu” Seru Jiyong sambil menaruh makanan di atas meja. 

“Kiko mungkin menunggumu, ini sudah hampir waktu makan malam” Sandara dengan cemas menatap Jiyong yang tengah mengambil piring.

“Aku sudah mengatakan akan makan denganmu sambil menunnggu hujan reda” Sandara menjawab sambil menaruh piring diatas meja makan. Mereka melewati makan malam mereka dengan tenang. 

“Hubungi Aku jika aku membutuhkan sesuatu. Bersikaplah sewajarnya” Seru Jiyong ketika Sandara mengantar Jiyong dan Sandara hanya membalasnya dengan senyuman. Jiyong bersama mobilnya menghilang ditelan kegelapan, kemudian Sandara pergi memasuki rumahnya.

Jiyong memasuki rumahnya, tapi dia tidak melihat siapaun, Jiyong hendak memasuki kamarnya tapi dia melihat Kiko tengah duduk di tempat tidur Sandara.

“Kau sudah makan?” Jiyong bertanya sambil duduk di samping Kiko dan mengelus rambut Kiko dengan lembut, dan Kiko hanya mebalas dengan anggukan sambil terus menatap foto dirinya yang tengah dirangkul oleh Sandara ketika kelulusan SMA.

“Ada yang salah?” Jiyong bertanya dengan cemas.

“Kenapa Sandara pergi dari rumah? Apa dia marah karna aku menikah lebih dulu?” Kiko bertanya tapi tidak di tunjukan pada siapapun, itu hanya pertanyaan yang keluar begitu saja.

“Sandara tidak mungkin berfikir seperti itu. ayolah, kalian sudah dewasa” Seru Jiyong sambil memeluk Kiko beberapa saat lalu melepaskannya kembali.

“Dulu ketika dia akan pergi ke Paris dia bilang ‘aku tidak akan pergi jika Naga kurus itu menjemputku di bandara’, dulu ketika Sandara SMA dia selalu menceritakan pria yang selalu dia juluki Naga Kurus, dia bilang dia sangat mencintainya, berharap bisa menghabiskan sisa umrunya dengan Naga kurusnya.” Seru Kiko sambil menatap Jiyong yang tengah menatap Kiko dengan wajah yang mengeras ‘Naga Kurus” Dulu Jiyong sangat benci jika Sandara memberinya julukan itu “Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Sandara dengan ibu” Sambung Kiko menjelaskan apa yang dia ucapkan adalah apa yang dia dengar dari pembicaraan Sandara dengan ibunya beberapa tahun yang lalu, dan entah mengapa dia memceritakan itu pada Jiyong, membuat Jiyong sedikit membeku, ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya. “Sebenarnya, Sandara bukan bagian dari keluarga kami” sambung Kiko membuat Jiyong menatap Kiko intens “Sandara anak boss dari tempat alm ayah (Choi Siwon) bekerja. Kedua orang tua Sandara meninggal dan semua asset yang dimiliki mereka di sita karna hutang kedua orangtuanya, dan ayah memutuskan untuk membawa Sandara bersama kami, awalnya Sandara belum bisa menerima keadan, tapi satu tahun setelah ayah meninggal, Sandara mulai bisa menerima keadaan dan jauh lebih baik, dia bekerja paruh waktu untuk membantu membiayai kami, belajar tengah malam untuk mempertahankan beasiswanya. Kau tau, saat itu aku sangat kasihan padanya, aku selalu berfikir ‘Kenapa harus Sandara yang bekerja begitu keras?’, ‘Apa dia lelah?’,’Apa dia marah?’, tapi baru saja aku akan mengatakan kalimat itu pada Sandara, dia selalu mengatakan ‘Aku baik-baik saja’ dengan senyumnya, aku selalu berharap dia mendapatkan pria yang lebih baik, tidak seperti pria yang dia juluki Naga Kurus itu, mungkin jika pria Naga Kurus itu menjemput Sandara, Sandara tidak akan pergi ke Paris dan meninggalkan kami” DEG, kalimat itu benar-benar membuat Jiyong semakin merasa buruk, dia tidak tahu jika Sandara melewati hidupnya dengan berat, dan dia tidak tau apa-apa.

“Yah, Sandara pantas mendapatkan pria lebih baik” Seru Jiyong dari hati yang terdalam lalu memeluk Kiko sambil menatap foto Sandaa yang ada di depannya. “Dia pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik, jauhh lebih baik” Jiyong kembali menegaskan.

Waktu terus berganti, mereka menjalani hidup seperi yang seharusnya Jiyong dengan Kiko, dan Sandara masih asik dengan kesendiriannya, semuanya lebih baik dari sebelumnya, mereka tidak mengingat cara melupakan masalalu mereka masing-masing, karna mereka tau kenanagan bukan untuk dilupakan tetapi bukan berarti kau bisa hidup dalam kenangan, Jiyong adalah kenangan untuk Sandara, dan Sandara adalah kenangan untuk Jiyong, tidak lebih dari itu, mereka senang bisa kembali bertemu sebagai keluarga, Sandara kembali ke Paris bersama SeungHyun.

“Kau pantas mendaptkan pria yang jauh lebih baik dariku. Aku minta maaf karna pernah menjadi begitu egois” Seru Jiyong satu hari sebelum kepergian Sandara.

“Kamu mungkin bukan yang terbaik untukku. Tapi kau yang terbaik untuk Kiko.”Timpal Sandara dengan senyumnya.

Cinta memang egois, tapi yang harus kalian garis besar adalah cinta tidak jahat. 
Semuanya berakhir dengan baik, dan merka akan memulai dengan awal yang baik dengan cerita yang baru, “Akhir untuk awal yang baru”.


END.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images